Warung Bebas
Showing posts with label Pawang Hujan. Show all posts
Showing posts with label Pawang Hujan. Show all posts

Thursday, 22 September 2011

#5 Mendung

             "Tak selamanya mendung itu kelabu, nyatanya hari ini kulihat begitu ceria.." - Kidung

31 Agustus 2011
Raining Man (01:48)
Not a little sis, I guess. But that's why I hope you always being my only one sun. because you're the girl who gave me sweet and lovely memories, you always have a place in my heart..

Tiara Mentari (01:48)
You gave me memories too.. For all the things that we ever had together, i thank to you, Rain..
SEND.

Entahlah, di luar ini benar ataupun salah. Aku hanya membiarkan apa yang ada dihatiku ini mengalir seadanya. Aku tidak ingin lagi menyimpan semuanya sendirian, dia berhak tahu, oh tidak, dia wajib tahu tentang apa yang selama ini kurasakan semenjak keputusannya untuk melepaskan aku.

BIPP! BIPP!

Raining Man (01:49)  
Nope. I'm the one who should thank to you, Sun. You always gave me that huge smile and laugh.
Just like your display picture on bbm right now.. :)

Tiara Mentari (01:50)  
Well, no need to say thanks, Rain. It is such a pleasure to see the person i (was) love feel happy.
It makes me feel happy too.
SEND.

10 Februari 2009
Sore itu suasana kampus begitu lengang. Kampusku yang terletak di wilayah pusat kota ini biasanya ramai, dipadati mahasiswa dan mahasiswi dengan sejumlah kegiatan mereka. Hanya ada beberapa orang lalu lalang, dan teman-teman satu unitku. Hari Selasa adalah hari wajib latihan basket. Bisa dibilang unit kegiatan basket rutin latihan seminggu 2 kali, apalagi jika menjelang pertandingan seperti LIBAMA.
Lapangan basket yang letaknya tak jauh dari kampusku ini ramai seperti biasanya. Selain dipakai oleh mahasiswa yang terdaftar di kampusku, sarana olahraga kami memang disewakan untuk publik/umum. Seringkali jika kami latihan, usainya akan ada pertandingan dadakan dengan tim lain yang kebetulan sedang main basket juga pada hari itu
Ternyata yang sudah banyak datang adalah tim putra. Entah kemana rekan-rekan satu timku, begini nih kalau sudah kebiasaan ngaret. Ya, tim putri memang terkenal ngaret, kecuali aku loh ya! Di pinggir lapangan duduk sosok seseorang yang aku kenal, kuhampiri sosok itu..
"SAM!! Ngapain kamu disini?" ujarku.
Yang disapa menoleh kaget. "Wih, aku kira siapa! Cempreng amat suaranya!Hahaha" ledeknya.
 Ya begitulah, Sam. Sepertinya kalau belum meledekku sehari saja bisa sakit dia.
Semenjak nonton bareng basket dan pertemuan dengan Ojan itu, kami memang tidak pernah lagi berkomunikasi secara intens dan belum pernah bertemu lagi. Ya, sesekali SMSan itu pun frekuensinya jarang. Malah, semenjak hari itu, aku lebih intens dan sering bertemu dengan Ojan. Hampir seminggu sekali aku dan Ojan bertemu. Ojan kerja di Jakarta dan seminggu sekali pasti pulang ke Bandung dan sekalian menemui aku. Sam malah hilang kabarnya, entah kemana. Untung saja, aku tidak berharap banyak dari kali terakhir pertemuanku dengan Sam. Sudah kuduga begini jadinya.
"Sial, mulai deh ngajakkin perang! Aku tuh datang dengan damai, eh kamu malah gak santai" ujarku nyolot. Sam kemudian menggigit lenganku, gerakannya begitu cepat sehingga aku tidak sempat menghindar. Gigitannya cukup keras.
"Aaaaaaawww!!" teriakku. Gigitan Sam membuatku kesakitan dan agak limbung. Melihat posisi tubuhku yang mulai tidak seimbang, Sam menopang dan mendekap badanku.
"Ka.. kamu gapapa?" tanya Sam. Sepertinya ia panik melihatku mendadak 'lemas' seperti ini.
"Apanya yang nggak apa-apa? Digigit macan yah mana bisa nggak apa-apa!" jawabku dengan suara lirih. Tangan kananku sibuk memijat lengan kiri yang digigit Sam.
"Kampret! Masih aja ledekkin lagi kayak gini juga!"
"Yee, lagian kamu maen gigit aja! Saraf motorikku nggak siap tahu! Lemes deh nih jadinya" rengekku.
"Iya sorry, Non! Abis kamu nyolot sih, kan udah aku bilang kalau kamu nyolot tuh gemesin banget mukanya, jadi aja tadi reflek gigit!" Sam menjelaskan sambil menatapku dengan wajahnya yang innocent. Tuhan, gimana aku bisa marah kalau yang gigit aku tampannya nggak santai kayak begini, makhluk dihadapanku ini. Linu yang kurasa perlahan memudar.
"Geblek! Refleknya gigit! Ogah aku deket-deket kamu lagi, bisa-bisa nanti aku habis dimangsa.. Aku kan gemesin orangnya! Hahaha" 
Sam mendekap erat tubuhku hingga sesak. Baru ketika ku memohon ampun, ia melepaskan dekapan tangannya dariku.
"Udah lama nggak ada kabar berita, sekalinya ketemu aku malah disiksa!" rutukku.
Sam tertawa. "Haha, kamu sih, datang-datang nyolot! Kamu tuh yang nggak ada kabar beritanya!"
"Apaan sih, aku nggak ada kabar berita apa-apa kok, masih di Bandung aja, nggak kemana-mana. Belum ada kegiatan baru pula, rutinitas yang sama, apa yang harus diceritakan?" jawabku.
"Jiee, jadi ceritanya, sering jalan sama sobatku udah jadi rutinitas yang sama nih ya sekarang.."
DEG! Aku pikir, Sam tidak tahu apa-apa mengenai kedekatanku dengan Ojan. Lagipula aku menganggap kedekatan kami adalah hal biasa, jadi tidak perlu diceritakan ke siapa-siapa. Apa jangan-jangan ada yang tidak beres? Atau ada hal buruk yang tidak aku ketahui? Duh, aku nih ya, jadi orang suudzonan aja.. Aku sibuk merutuki diriku sendiri.
"Ojan cerita apa aja?" tanyaku.
"Oo jadi bener nih jalan sama Ojan? Jiee.. Padahal aku cuma ngomong asal doang loh! Hahhaha" Sam tertawa puas sekali. Sementara, tampangku udah kayak udang rebus, merah karena malu. Ini orang lama-lama minta disambit pake botol bir kayaknya, begitu yang terlintas di otakku.
"Ck, udah ah, ga temen lagi deh kita.." rutukku
"Deuhh, gitu aja marah, Non! Hahahaha. Lucu banget sih mukanya. Gigit lagi nih!"
Aku balas memandang judes kearah Sam. Kali ini dia beneran nyebelin dan ketampanannya sama sekali nggak menolong.
"Duh, ampun deh Non.. Iya maap.. Udah ya jangan liatin aku kayak gitu dong! Jutek bener.."
"Bodo.." ujarku ketus dan singkat.
"Hahahhaaha. Iya ampun Nona Cantik.. Ojan cuma bilang dia sering ketemu kamu, itu aja kok.."
"Beneran cuma itu aja?"
"Ya nggak itu aja sih, sisanya rahasia pria lah.. hehhehe"
"Cih, sok asik, sok-sok rahasiaan segala.."
"Hhehehe, sisanya biar Ojan yang bilang sendiri sama kamu ya, Non.. Nggak etis kalau aku yang bilang.." ujar Sam sambil tersenyum penuh arti. Arti yang tidak bisa kutebak.
"Terus kamu ada kabar berita apa?" tanyaku pada Sam.
"Apa ya.. Aku baru dari Samarinda. Bulan depan terbang lagi ke Makassar. Ya begini aja nasib kuli tambang, dari pulau ke pulau hidupnya. Masih untung deh ke kota yang ada sinyalnya. Seminggu sebelum pulang aku sempat ke kota terpencil banget dan nggak ada sinyal sama sekali. Nggak betah!"
"Terus kamu lagi libur disini? Atau ada kerjaan juga? Tumben hari kerja ada di Bandung"
"Kan mau maen basket sama kamu, Non. Udah lama nggak man to woman, yuk! Yang kalah traktir sepuasnya yaa!"
Sam menarikku ke tengah lapangan. Ia sama sekali tidak benar-benar menjawab pertanyaanku dan mengalihkan perhatianku dengan mengajakkku main basket bersama. Seolah sangat mengenalnya, aku rasa Sam tidak ingin menjawab pertanyaannku. Entah mengapa.
           
05 Maret 2009, Bandung.
Aku suka suasana perpustakaan di kampus. Tenang dan nyaman. Tempat yang paling cocok untuk menghabiskan waktu sendirian. Aku suka berada ditengah-tengah tumpukan buku, membacanya satu persatu hingga seringnya lupa waktu. Biasanya petugas perpustakaan akan menegurku jika sudah waktunya perpustakaan tutup. Selain itu, disini juga ada wi-fi, membuatku betah mengerjakan tugas disini daripada di rumah.
            Sudah seminggu lebih aku tidak login situs facebook. Kesibukan mengerjakan tugas jadi alasan utamanya, selain itu tentu saja jadwal jalan-jalanku dengan Ojan. Seperti hari ini, sepulang dari perpustakaan aku akan bertemu dengannya. Kebetulan saja ia sedang melakukan perjalanan dinas ke Bandung. Sembari menunggu kabar darinya, kuputuskan untuk browsing dan cek e-mail, menggunakan fasilitas wi-fi di perpustakaan ini.
News Feed
Samudera Wijaya is in a relationship.
           
            Berita pertama yang tertera di news feed page,  halaman depan dari akun facebook kepunyaanku. WHAT?! Sam in a relationship?! Selama ini dia tidak bercerita apa-apa. Oke, aku memang bukan sahabat karibnya, tapi selama ini dia selalu cerita kepadaku mengenai kehidupannya, dari mulai dia putus, jadian, putus lagi, ttm-an bahkan sempat dia sedikit bercerita tentang alasannya pindah agama. Kini aku tahu dia jadian lagi dari… facebook?! Damn, am I not that important as a friend to you, Sam? Aku sama sekali tidak cemburu, aku hanya kesal karena mengetahui kabar bahagianya dari sebuah situs pertemanan. Kuputuskan untuk meneleponnya saja, aku anti menyimpan kekesalan lama-lama apalagi sampai ngomongin orang di belakangnya.
            "Halo, Non. Tumben nelepon, ada apa nih? Kangen aku ya?" sapa suara baritone di ujung sana.
            "Cih, ngapain kangen sama pacar orang! Ogah!" rutukku.
            "He? Aku nggak ngerti sama omongan kamu.." ujar Sam. Entahlah dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang aku bicarakan atau hanya mau mengelak dari topic pembicaraan. Aku rasa Sam tidak senaif dan sebodoh itu untuk tidak bisa mencerna kata-kataku.
            "Udah deh, ngaku aja. Aku barusan liat di facebook, kamu baru jadian! Aku nelepon Cuma mau bilang : selamat ya, Sam, akhirnya ada juga cewek yang mau sama kamu, hehe."
            "Oh itu, makasih ya, Non.." dari nada suaranya ia sama sekali tidak terdengar excited. Aneh, biasanya kan orang baru jadian tuh masih excited dengan hubungan barunya dan tidak henti untuk menceritakan pasangannya itu. Lagipula, ini bukan Sam yang biasanya aku kenal.
            "Aku kesel sama kamu tauk! Masa aku tahu kabar gembira ini dari facebook?! Come on, Sam.. am I not that important to you as a friend at least? Why did you trust facebook much more than me? Gitu deh saking senengnya lupa sama temen, eh itupun kalo aku dianggap temen sih sama kamu!" cerocosku tanpa basa-basi.
            "Hehehe, udah marah-marahnya? Curang ya, marah-marah lewat telepon, kalau kamu ada di hadapan aku sekarang, udah kugigit lagi tau nggak! Bodo amat, pingsan, pingsan aja deh aku biarin!"
            "Idih kamu jadi orang jahat aja. Nggak boleh gitu tau, dosa!! Hehe. Btw, siapakah gadis yang kurang beruntung itu? Anak mana? Cerita dong!!"
            "Sial.. ada deh, yang jelas gadis itu beruntung banget, datang di waktu yang tepat. Eh udah dulu ya, dipanggil bosku nih"
KLIK. Tanpa basa-basi telepon ditutup. Aku merasa ada yang ganjal pada diri Sam, biasanya dia tidak pernah berkeberatan untuk terbuka tentang dirinya sendiri terhadapku, tapi aku merasa Sam sedang membangun benteng. Sudahlah, teman yang baik tetap harus berbahagia mendengar teman baiknya sedang berbahagia sekalipun ia melupakanmu, bukan begitu kan?
05 Maret 2009, Jakarta.
           
            Sam menutup teleponnya. Perasaannya campur aduk. Terlebih lagi rasa menyesal semakin berkecamuk sehabis mendengar suara Tiara. Ia merasa keputusan yang bodoh untuk merelakan begitu saja Tiara tanpa memperjuangkannya terlebih dahulu, dengan alasan atas nama persahabatannya dengan Ojan. Ia tahu betul bagaimana sahabatnya itu menyukai Tiara. Ia juga tahu betul bagaimana hatinya menjadi 'hidup' kembali setelah mengenal Tiara lebih dekat. Belum pernah ia merasa semenyesal dan sebodoh ini.
            Lagu Everything milik Michael Buble kembali mengalun dari handphonenya. Tanda ada telepon masuk. Tertulis dilayar handphonenya:
            Starla calling…
            Dengan enggan ia angkat telepon itu..
            "Halo.."
            "Halo sayang, lagi apa?" ujar suara lembut seorang perempuan.
Sam semakin penat. Handphonenya ia matikan. Sudah ia siapkan berbagai alasan untuk Starla nantinya. Sam butuh untuk menyendiri.  Berdamai dengan hatinya sendiri.


~ (oleh @naminadini)

Saturday, 17 September 2011

Sedia Payung Sebelum Hujan #4




"Sedia payung sebelum hujan: melakukan antisipasi terhadap sesuatu sebelum sesuatu tersebut menjadi masalah."


Sedari kecil, aku memang tidak pernah menyukai hujan, terutama hujan besar dengan rangkaian petir didalamnya, sekalipun itu hanyalah gerimis. Entah apa penyebabnya, aku sendiri pun tidak menemukannya. Aku tidak suka becek, tanah menjadi lembek, udara dingin karena hujan. Seringkali aku mengumpat pada hujan, jika agenda acara yang telah kususun rapi terpaksa hancur berantakan atau ditunda gegara ulahnya. Hujan tidak suka melihatku bahagia, begitu prasangkaku. Jadi, jangan heran, jika musim penghujan datang, aku adalah orang yang paling berduka cita karenanya. Ini sudah 12 hari sejak Tahun Baru, namun masih saja hujan turun setiap hari dan hampir disetiap waktu.
            Adalah lelaki bernama Ananda Lelaki Hujan alias Ojan sebagai orang pertama yang memprovokasiku untuk menyukai hujan. Pria ini bertubuh agak gempal dengan tinggi 175cm, kulit sawo matang, dan memiliki sedikit jambang di wajahnya. Garis mukanya begitu tegas. Ia tidak begitu tampan, namun bisa dibilang good looking. Berbanding terbalik denganku, Ojan sangat menyukai hujan. Ia pernah bercerita padaku, waktu kecilnya kerapkali hujan-hujanan setiap kali hujan datang, dan kerapkali pula dimarahi ibunya gara-gara itu. Namun, Ojan tidak pernah jera. Ia malah semakin menyukai dan bahkan tergila-gila dengan hujan. Keluarganya hampir menganggap ia "sakit jiwa" karena setiap kali hujan turun, pada saat itu, Ojan akan berlari keluar, tertawa-tawa, kemudian melompat dan menari-nari seperti orang kerasukan. Ojan sempat dibawa ke psikiater, psikiater bilang Ojan tidak mengidap penyakit jiwa apapun, ia dinyatakan benar-benar sehat. Semenjak itu, keluarganya pasrah, lama-lama malah terbiasa dengan kelakuan Ojan yang 'ajaib' itu.

13 Januari 2009
Ini kali ketiga, Ojan mengajakku ke kedai ini. Sebuah kedai kopi kecil yang letaknya di sebuah gang di Jalan Alkateri (ABC). Kedai kopi ini sudah ada sejak puluhan tahun lamanya. Struktur bangunannya masih kuno, begitupun dengan peralatan yang ada di kedai ini. Ini tempat favorit Ojan, selain tenang, racikan kopinya pun begitu enak. Ya, kuakui racikan kopinya luar biasa enak, bahkan kopi di kafe ternama pun tak mampu menyaingi kelezatan kopi ini. Entah mantra atau jampi apa yang peramunya pakai.
Kami duduk berhadapan. Secangkir kopi. Beberapa makanan ringan seperti pisang goreng dan ketan bakar. Seperti biasa, menemani kami berbincang hingga lupa waktu. Langit begitu mendung, hawa dingin menusuk sampai ke tulang. Namun, ada kehangatan yang menyelimutiku, entah darimana asalnya. Lalu, mulai gerimis..
"Gerimis, Ri" ujarnya pelan. Tidak seperti teman-temanku yang biasanya memanggilku dengan "Yara" atau "Tia", Ojan memanggilku "Tari". Begitu kutanya alasannya memanggilku "Tari", ia hanya menjawab dengan singkat: "Aku anti-mainstream orangnya", satu cubitan melayang di lengannya setelah kudengar jawabannya yang nyeleneh itu.
"Kadang aku suka ngebayangin loh, kalau aja kamu masih se-excited itu dengan hujan seperti yang pernah kamu ceritain, terus misalnya pas lagi bareng aku, hujan turun dan kamu lari-lari sambil nari-nari hujan-hujanan di jalan. Sumpah, aku bakalan pura-pura nggak kenal sama kamu!" candaku.
Ojan tertawa. "Aku masih tergila-gila sama hujan. hanya saja sekarang cara menyampaikannya aja yang berbeda dan lebih waras. Hahaha. Entah ada magnet apa antara aku dengan fenomena alam yang satu ini. Mungkin karena namaku ada unsur "hujan"nya kali ya?"
"Iya, sampe-sampe bikin ibu kamu nyesel ngasih nama kamu Hujan! hahahaha!" ledekku .
"Siapa suruh? Hehe. Salah satu kejadian yang bisa bikin ibu nerima kelakuanku yang ajaib itu ya gara-gara dia ingat kalau selagi melahirkanku, eh tiba-tiba di musim kemarau ada hujan turun, mungkin aku dan fenomena alam yang satu ini sudah terinterkoneksi sedari lahir. Hahhaha."
            "Aku nggak pernah suka kalau hujan turun.." ujarku sinis.
            "Jangan gitu dong, kalau kamu nggak suka hujan, berarti kamu juga nggak suka sama aku. Namaku kan hujan juga.. Seperti yang pernah aku bilang sama kamu, sebelum kenal aku kamu boleh nggak suka sama hujan, tapi setelah kenal sama aku, kamu harus jadi suka hujan! gimanapun caranya aku bakalan bikin kamu suka sama hujan!"
            "Hahaha. Gila! Kamu dan aliran sesatmu hujanisme itu harus berusaha keras, aku ini orangnya keras kepala loh!" ujarku meremehkan.
            "Hujan lama kelamaan akan melapukkan batu menjadi tanah, begitu juga dengan kamu, Tari" ujarnya pelan. "Ini pertemuan kita yang ketiga, di tempat yang sama dengan cuaca yang sama pula. Sedikitnya aku akan membuat kamu terbiasa dan nyaman dengan cuaca seperti ini, sampai bisa nantinya menikmati sendiri."
            Ojan benar. Kehadirannya memang sedikit membantu aku untuk agak menyukai hujan. Entah mengapa ada rasa aman dan nyaman saat aku dan dia bersama menikmati hujan. Walaupun terkadang waktu menikmati hujan hanya kami habiskan dalam diam. Tapi, kami tahu, kami saling berbicara dalam rasa-yang-entah-apa-itu-namanya.
            "Ini bawa ya, kemana-mana.." ujar Ojan sambil menyerahkan payung lipat berwarna biru muda. "Kalau aku nggak ada, hujan sedang turun dan kamu sedang berteduh, pakai ini ya untuk melanjutkan perjalanan. Anggap aja sebagai pengganti aku, buat nemenin kamu, menghadapi hujan" lanjutnya lagi.
            "Wohoo, makasi yah, Jan. Kita baru kenal tapi kamu udah baik banget sama aku, ngasih aku payung segala!" ujarku sambil menerima payung darinya dan memasukkan payung itu ke dalam tasku.
            "Kita udah kenal lama, Tari. Hujan ada karena panas mentari membuat suhu bumi naik dan mengirimkan uap-uap air berkumpul menjadi satu di awan, hingga kemudian turunlah hujan." ujarnya menatapku dengan dalam.
            "Ini sih judulnya sedia payung sebelum hujan dalam arti sebenarnya. Bukan peribahasa!" Candaku.
            "Haha, iya bisa jadi. Diartikan dari peribahasa juga boleh, kamu harus berhati-hati dalam mengambil sikap dan keputusan agar tidak menjadi masalah di kemudian hari. OK!"
            "Ciyee, bijak bener sik! Gini nih, kalau lagi hujan, mendadak bijak. Yah, baguslah daripada lari-lari keluar!" ledekku.
            "Sial!hahahaaha.." tawa Ojan begitu lepas. Gigi kelincinya terlihat begitu jelas dan menjadikan mimic mukanya lucu sekali. Aku menikmati pemandangan yang ada di hadapanku ini.
            "Lagian ngotot banget sih pengen bikin aku suka sama hujan! Sampe ngasih payung segala.. di rumah juga payung banyak!" Ujarku.
            "Di rumah payung banyak, tapi yang dari aku kan Cuma satu. Lagipula, siapa tahu abis suka sama hujan kamu juga jadi bisa suka sama aku, hahahaha" ujarnya sambil tertawa.
            Satu cubitan keras melayang di lengannya yang berisi dan agak kekar. Ojan meringis kesakitan.


31 Agustus 2011
           
Tiara Mentari (01:43)
            Your sun? you mean, your little sister? Well, in fact you're the one who called me "sun"
            SEND.

            Ya, kuputuskan untuk membalas lagi pesannya. Entah apa yang akan terjadi pada menit-menit berikutnya. Yang jelas akan kupastikan, segala pertanyaanku tentangnya akan terjawab sekarang agar segala penasaran bisa segera hilang.

5 menit kemudian..
            Masih belum ada balasan. Mungkin saja dia ketiduran atau memang tidak ingin membahasnya. Ada rasa sesal karena telah memenuhi egoku untuk membalas pesannya tersebut dan mulai memancingnya ke arah pembicaraan yang aku inginkan. Kuputuskan untuk tidur saja dan melupakan semuanya.

BIPP! BIPP!
            Sudah setengah mengantuk  mataku terpejam. Namun mendadak, kantukku hilang begitu mendengar bunyi pesan masuk tepat setelah aku memutuskan untuk melupakan semua dan pergi tidur.

Ternyata memang dari dia.
            Raining Man (01:48)
            Not a little sis, I guess. But that's why I hope you always being my only one sun. because you're the girl who gave me sweet and lovely memories, you always have a place in my heart..

            Tertegun aku membaca balasan pesannya. Setidaknya aku sedikit tahu bahwa aku ternyata memiliki arti di dalam kehidupannya. Bahkan hingga saat ini. Lalu, mengapa pada saat itu ia memutuskan untuk pergi? Meninggalkanku sendiri. Dia memberiku payung untuk berlindung ketika hujan turun. Namun, hatiku tidak dapat kupayungi dari seorang Ananda Lelaki Hujan. Hatiku terlanjur ke"hujan"an. Basah kuyup.



~ (oleh @naminadini)

Friday, 16 September 2011

Si Lelaki Hujan #3


                 "Hujan. Kamu dan aku terjebak dalam kenangan -- @naminadini"

28 November 2008 (15:10)
                Ajaib. Hujan benar-benar berhenti. Langit hanya menyisakan titik-titik air pada kuncup bunga dan pucuk dedaunan. Beberapa ruas jalan dipenuhi genangan air serupa "jebakan". Tingginya hampir semata kaki, membuat para pejalan kaki harus mawas diri. Langit tidak begitu cerah, namun tidak juga mendung. Hawa dingin menelusup pori-pori dan akan membekukan tubuh jika saja tadi aku jadi tidak menggunakan sweater. Entah ada konspirasi apa antara alam dengan si peramal cuaca gadungan, Sam, lelaki yang aku sangat sukai itu.
                Teringat penggalan kalimat sebelum perbincangan kami ditelepon berakhir,
"Dih, yakin bener sih kamu! Percaya sama siapa ujannya bakalan berenti? Percaya sama kamu? Dasar peramal cuaca gadungan.." ledekku.
Sam tertawa. "Percaya sama Tuhan lah, Cantik" lanjutnya kalem.
"......"
Aku sukses dibuatnya tak bisa berkata-kata.  Sam memang penuh kejutan, pribadi yang spontan dan blak-blakan. Beberapa poin lagi yang membuat aku tergila-gila padanya.

Perjalanan dari rumahku ke tempat kami janjian membutuhkan waktu 60 menit, sudah termasuk macet sana sini setelah hujan turun. Aku datang terlambat. Sial, baru sekali diajak janjian aja udah telat, curiga besok-besok dia kapok janjian sama aku! Rutukku pada diri sendiri.
"Kiri bang!" ujarku pada supir angkutan umum.
Sial lagi. Kejauhan dari tempat janjian! Terpaksa, setengah berlari aku menghampiri tempat itu.
                Tempat kami bertemu namanya  Gor C-tra Arena, letaknya di Jl.Cikutra, Bandung. Tempat ini biasa dijadikan pusat kegiatan olahraga dan beberapa kali dijadikan tempat pertandingan olahraga tingkat nasional. Saat masuk, kulihat suasana gor tidak terlalu ramai seperti biasanya jika ada pertandingan olahraga bergengsi dilaksanakan. Beberapa orang memang sedang bertanding basket di lapangan. Mataku menjelajah seisi gor, seharusnya tidak sulit menemukan Sam dengan tubuhnya yang menjulang tinggi hampir mencapai 2 meter itu.
                "Hei, non.. nyari siapa?" ujar seseorang dari belakang seraya menepuk pundakku. Suaranya begitu familiar.
                Reflek kubalikkan badan. "SAM!!! Tiang listrik dasar!!! Ngagetin aku aja!!! Kalau kamu reflek aku kasih jurus tae kwon do gimana coba!" teriakku, berpura-pura marah.
                Sam tertawa.
Bagus, bener Tuhan pemandangan didepan mataku ini. Andai saja bisa kuhentikan waktu barang sejenak, biar sosoknya bisa kuabadikan dalam gambar.
"Yuk, pertandingannya baru masuk kuarter 3 tuh" ujar Sam, sambil menggandeng tanganku.
Tuhan, ini cobaan apalagi? Setelah Kau ijinkan aku melihatnya tertawa sekarang Kau biarkan ia menggandeng tanganku pula. Oke, ini berlebihan, tapi sumpah aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk senyum-senyum sendiri. Setengah mati aku tahan rasa bahagia ini. Bisa disangka gila aku nanti.
Kami duduk tak jauh dari bangku pemain. Sam duduk tepat disebelah kiriku. Ada beberapa orang yang duduk dengan kami disana. Satupun tidak ada yang kukenal wajahnya. Tapi syukurlah, bukan aku satu-satunya wanita di tempat ini.
"Ini pertandingan apa, Sam?" tanyaku, mencoba memulai percakapan. Sebenarnya sekalian sih menggugurkan rasa canggungku. Kebiasaan buruk yang selalu berhasil aku siasati. Canggung di depan gebetan. :))
"Pertandingan antar gereja non, ini yang main gereja tempat aku biasa ibadah" jawabnya. Sambil menatap mataku.
Belum tuntas kekagetanku mendengar pernyataan Sam tentang gereja-tempat-dia-biasa-ibadah ditambah pula grogi karena tatapan matanya Sam terhadapku. Aku tidak bisa membayangkan ekspresi apa yang terdapat di wajahku ini.
Aku memang berteman cukup lama dengan Sam, tapi aku baru tahu kalau dia seorang Kristiani. Dulu aku sempat beberapa kali melihat dia di mesjid sebelum latihan basket dimulai. Seolah bisa membaca pikiranku, Sam bersuara:
"Sehabis lulus kuliah, aku masuk Katolik, Non. Ayahku seorang pastur, ibuku dulu muslim, setelah melahirkanku beliau masuk katolik juga. Mereka tinggal di Medan, sedari kecil aku tinggal di Bandung dan dibesarkan oleh nenekku yang seorang muslim, ibu dari ibuku. Aku masuk Katolik tanpa paksaan kok, keluarga mengajariku Islam dan Katolik, mereka bilang setelah dewasa aku boleh memilih masuk ke agama manapun yang aku yakini. Dan inilah, pilihanku" ceritanya sambil tersenyum
"oh…" hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Speechless mendengar ceritanya sekaligus bingung karena dia begitu terbuka mengenai keluarganya kepada aku yang notabene bukan siapa-siapanya. Mulai lagi deh aku geer. Hehe.
"Padahal aku nggak nanya loh, Sam" candaku. Mencoba mencairkan suasana yang agak kikuk. Buatku sih terutama. Aku lihat dari wajah Sam, ekspresinya begitu tenang. Atau dia memang pandai menyembunyikan perasaannya?
"Muka kamu itu, Non! Muka pengen tahu, muka penasaran! Kayak anak umur 5tahun ilang di pasar!" ledeknya.
"Kampret! Emang mukaku segitunya apa? Sok tahu kamu!" ujarku sewot.
"Hahaha, apa sih yang aku nggak tahu dari kamu? Kamu tuh bisa kebaca tau nggak, begitu aku liat ekspresi muka kamu, aku udah bisa nebak apa yang ada di pikiran kamu!"
"Cih, baru sekali doang bener ngeramal cuaca, udah  sok-sokan jago baca pikiran orang!"
"Itu kuasa Tuhan, Non. Tapi, ramalanku jitu semua kan, Non? Kamu juga mengakuinya kan!"
"Errr.. Nan, Non, Nan, Non! Kamu tuh lupa namaku ya! Kalau SMS manggil "Cantik"!" ujarku sedikit kesal dan coba mengalihkan pembicaraan.
"Tiara Mentari, keberatan kalo aku pengen manggil kamu Nona Cantik?" ujarnya dengan tatapan memelas.
Sial sesial-sialnya. Lagi aku dibikinnya skak-mat.
"Terserah deh…" jawabku jutek. Memalingkan muka darinya sebelum mukaku memerah gara-gara ucapannya barusan.
"Hahaha, duh gitu aja marah. Bercanda, Non. Aku suka liat kamu lagi jutek gitu. Gemes pengen godain mulu"
Nih orang maunya apa ya? Dari tadi bisa banget bikin aku jadi salah tingkah, mati kutu.
"Sam? Samudera Wijaya Hasibuan?" sapa seorang lelaki. Ia berdiri tak jauh dari tempat kami duduk. Tak lama ia menghampiri aku dan Sam.
"Ojan? Huaaa Ojaaaannnnnn kan?!!!!" teriak Sam, kemudian ia dan lelaki itu bersalaman, dan berpelukan sesaat.
"Iya Sam, ini gue Ojan! Elo apa kabar?"
Awalnya aku berpikir si Ojan ini adalah sosok penyelamat. Ditengah situasi aku sedang di-bully oleh Sam dia datang dan membuat keadaan kembali normal. Namun, kedatangannya ternyata agak mengganggu, sekarang pusat perhatian Sam tertuju pada si Ojan ini. Mereka mengobrol seolah didunia ini Cuma ada mereka berdua. Wait, did it mean I'm jealous?
"Eh itu cewek lu, Sam?" Tanya si Ojan sambil menunjuk ke arahku.
Udah datang tiba-tiba, mengganggu kencanku dan sekarang bersikap sok tahu. Tuhan, kenapa harus ada makhluk ini sih disaat aku sedang berduaan dengan Sam?
"Haha, dia temen kampus gue, anak basket juga. Kenalan dulu deh kalian" perintah Sam.
Lelaki itu mengulurkan tangannya kepadaku. "Ojan" ujarnya singkat.
"Tiara Mentari, tapi temen-temen sih biasa manggil aku Yara. Eh, namanya beneran Ojan?" tanyaku, sembari membalas jabat tangannya.
"Haha, itu nama panggilan doang dari temen-temen, nama lengkapnya sih Ananda Lelaki Hujan"


31 Agustus 2011

Raining Man (01:40)
                No, it's still you. Still looks my same dear sun.
                if I still looks your same dear sun, does it mean you still love me too? terbesit pertanyaan itu saat kubaca ulang pesan darinya. Ingin rasanya pertanyaan itu aku ajukan padanya sekarang, tapi untuk apa?

Tiara Mentari (01:41)
                Haha. I took that as a compliment. :P Anyway, thx u. :)
SEND.

BIPP! BIPP!
Raining Man (01:42)
                Your welcome my dear. Hope you always being my sun. :)

Kantukku menghilang, namun kini yang timbul malah rasa penasaran. Seperti ada yang coba ia sampaikan.  Aku yakin 1000%, jika pesannya kubalas, maka hal-yang-entah-apa itu akan terungkapkan. Namun, jika pesannya tidak kubalas, tidak akan pernah ada yang terungkapkan. Lalu adakah bedanya sebelum dan setelah aku mengetahui pesan yang dia coba sampaikan? Aku berpikir cukup keras.

Kini, aku tahu apa yang harus aku lakukan.


~ (@naminadini)