Warung Bebas
Showing posts with label In Reply To Yang Tak Kunjung Henti. Show all posts
Showing posts with label In Reply To Yang Tak Kunjung Henti. Show all posts

Wednesday, 28 September 2011

'In Reply To' yang Tak Kunjung Henti #16 (Tamat)


Minggu pagi, 18 September 2011

Sesaat setelah bangun dari tidurnya, Bian langsung mengambil 
blackberrynya untuk menyapa Randhy.

"Pagi sayang. Kereta jam 8 malem ya?"

"Iya.. Hari ini aku mau jalan-jalan sama temen-temen aku, kamu ikut ya. Nanti aku kenalin"

"Malu. Jalan-jalan kemana?"

"Gak tau. Tapi kayaknya ke pantai deh. Ngikut aja, nanti malem dianter mereka ke stasiun."

"Gitu? Gak apa-apa emang aku ikut?"

"Iya dong. Nanti kamu siap-siap ya sayang, abis Dzuhur dijemput."

"Oke.."

***

Setelah mendapatkan telepon bahwa Randhy dan teman-temannya sudah sampai di depan kost, Bian langsung menuju ke mobil dan berkenalan dengan teman-temannya Randhy yaitu Tia, Arif dan Andi.

Perjalanan menuju pantai Bian isi dengan membaca novel, walaupun sesekali Randhy mengingatkan bahwa jangan membaca terlalu dekat dan gelap. Tapi Bian tetap membacanya.

Hari terakhir Bian bertemu Randhy, sangat ia nikmati dengan memanfaatkan momen-momen terakhir bersamanya. Sampai akhirnya tidak terasa kebersamaan mereka sudah berada di sore hari, artinya semakin sedikit waktu yang tersisa.

Ingin sekali Bian meminta satu hari lagi agar bisa bersama dengan Randhy, namun Bian mengerti masih banyak yang harus diselesaikan oleh Randhy dan merelakan ia kembali ke Jakarta.

Jam 8 malam kurang, Bian sudah berada di stasiun. 3 hari kebersamaan mereka pun terasa sangaaaat cepat dan Bian ingin mengulangnya lagi. Sampai tiba-tiba terdengar ada pengumuman bahwa kereta akan segera berangkat dan Randhy berpamitan kepada teman-temannya.
Dan terakhir, dia berpamitan kepada Bian lalu mereka berpelukan.
"Aku pulang ke Jakarta ya."

"Iya, jangan macem-macem sayang. Aku percaya sama kamu. Kabarin aku terus ya."

"Kamu. Kuliah yang rajin."

Pelukan yang sangat singkat itu membuat mata Bian semakin berkaca-kaca. Berat rasanya untuk melepaskan Randhy dan mulai menjalani status sebagai LDR. Tapi Bian yakin, tidak lama lagi mereka akan segera bertemu.
***
Setelah kejadian itu pun, rasa sayang Bian semakin dalam. Dan Bian juga merasakan Randhy juga sangat menyayanginya. Hingga suatu hari, mantan pacar Bian tiba-tiba BBM. Mantan yang sempat mengajak balikan tapi ditolak oleh Bian karena playboy, melihat Display Picture Bian yang sudah berganti memasang foto bersama Randhy,

"Pacar baru? Katanya gak mau pacaran? Katanya mau langsung nikah?"

"Lho emang kenapa? Emang gak nyari pacar kok. Nyarinya calon suami."

"Yakin? Keliatannya sih ya, ini keliatannya, palingan gak bakal tahan lama. Kita liat aja."

"Tau dari mana? Seneng ya kamu, hobi banget gak suka liat orang bahagia? Namanya juga tetep usaha dan doa."

"Ya liat aja ntar."

"Ya mohon doanya aja ya semoga langgeng."

Bian tidak mau meneruskan percakapannya lagi karena terlihat percuma dan sangat membuang-buang waktu.

Mungkin orang lain juga memiliki pikiran yang sama, mantan Bian hanyalah salah satu dari orang-orang di luar sana yang memiliki kesamaan pendapat, tapi Bian tidak pernah ambil pusing, tidak peduli apa kata orang yang berpendapat: 
"Perkenalannya cepat, jadiannya cepat, putusnya juga cepat"

"Toh yang ngejalanin gue sama Randhy, yang tau perasaannya gimana cuma kita berdua, yang ngejalaninnya pun cuma kita berdua. Kalau ada masalah atau apa, cuma untuk kita berdua. Kenapa orang lain repot membicarakan hubungan gue? Kenapa orang lain yang ngurusin? Kita malah santai-santai aja."

***

Beberapa minggu kemudian..

Rasa rindu yang selalu meningkat setiap harinya membuat Bian ingin segera kembali bertemu dengan Randhy.. Tapi apa daya, kesibukkan keduanya yang sangat sulit untuk meluangkan waktu. Tapi semua bisa diatasi dengan mengirimkan voice note, foto, dan saling telepon.

Dan sampai kapanpun menunggu balasan 'in reply to' di twitter dari Randhy tidak akan pernah ada, karena semuanya sudah terjawab di dalam dunia nyata dan Bian sangat menyukai itu.

***
"Rasa sayang aku ke kamu muncul bahkan sebelum aku bilang 'Halo, nama saya Randhy' dan kita bersalaman. Bulan lalu kamu bukan siapa-siapa aku, i didn't even see you were coming, tapi malem ini, cuma kamu yang bikin aku berulang-ulang liatin gallery foto dan senyum-senyum sendiri.

Kamu itu adiktif.

Aku selalu percaya semua jalan sudah ada yang ngatur. Allah works in mysterious ways, and so does love."

–Randhy Fazralimanda Effendy

TAMAT


~ (oleh @biandadeti)



*Cerita ini berdasarkan kisah nyata dengan sedikit perubahan susunan kata dalam kalimat. Jumlah cerita dibuat sesuai tanggal jadian, yaitu 16.

'In Reply To' yang Tak Kunjung Henti #15


"Harus dijawab sekarang?"

"Ya terserah kamu sih. Lebih baiknya sekarang. Sebenarnya aku dateng ke sini emang niatnya mau nembak kamu, tapi tadi keburu Pak RT dateng."

"Kalau besok-besok? Kan kamu masih di Jogja jg, besok kita ketemu kan?"

"Iya.. Ya udah terserah."

Gak ada yang bisa ngegambarin perasaan Bian saat itu, deg-deg-an gak karuan. Senang juga, tapi tiba-tiba terpikirkan bahwa Bian pernah janji pada dirinya sendiri untuk tidak main-main lagi. Tidak ingin berpacaran karena malas suatu saat akan putus lagi.
Tapi untuk hal yang satu ini rasanya ingin segera Bian menjawab "Ya" karena memang Bian yang duluan menyukai Randhy.

"Randhy.. Kamu tau sendiri kan aku males pacaran? Aku takut ntar putus lagi. Males."

"Iya aku tau. Aku juga udah bilang, ya terserah kamu kok."

"Lagipula kalau dijalanin nanti kita LDR dong?"

"Iya LDR. Gimana?"

Mendengar kata LDR pun Bian rasanya sangat sesak. Tidak tahu akan kuat menjalaninya atau tidak. Tapi kalaupun tidak LDR, toh tidak akan bertemu setiap hari juga. Karena Bian memiliki jadwal kuliah dan kegiatannya yang lumayan padat, dan Randhy pun sibuk mempersiapkan urusan rencana perkuliahannya lagi. Dan Bian sangat sepakat ketika ada yang libur, jika kondisi dan waktunya memungkinkan, salah 1 harus mengunjungi.

"Ya"

"Yakin?"

"Iya.."

"Oke, kita jadian deh."

...

"Duuhh Randhy.....  AAAAAAA MASA AKU PUNYA PACAR? TERHARU!!"

"Iya yaudah kalau gitu ya, nanti di telepon lagi. Aku pulang dulu ya sayang, ini udah di jalan sama anak-anak."

Absurd? Memang. Keduanya memang
  sama-sama tidak jelas dan akhirnya dipertemukan. Tapi, saat itu Bian senang sekali hingga menuju tidur pun ia selalu tersenyum. Dan tidak sabar menunggu hari esok.


***

"Nanti aku jemput abis Magrib. Dandan yang cantik ya."

"Gak bisa dandan. Kamu terima aku apa adanya dong."

"Oh iya, gak usah dandan juga kamu udah cantik."

"Duh ya, masih aja doyan ngegombal? Mau ke mana kita nanti? Makan? Nonton?"

"Gampang mau ke mana aja, nanti yang penting kita ketemu dulu."

Hari itu Sabtu, pagi hingga sore hari Bian tetap kuliah sampai sore. Sepulangnya ke kost, ia dengan semangat mandi dan siap-siap dijemput Randhy setelah shalat Magrib.
*handphone berdering*

"Aku udah di depan kost ya."

"Oke"

Beberapa langkah kaki keluar dari gerbang kost, Bian melihat rumah Pak RT di depan ternyata sepi dan tidak ada yang melihat Bian pergi. Maklum, Bian masih sempat kesal karena semalam Pak RT datang merusak suasana.

Ketika memasuki mobil, Randhy yang saat itu mengenakan poloshirt warna hitam, cukup menyita perhatian Bian dan sesekali Bian lagi-lagi mencuri-curi pandang sambil tersenyum sambil melihat Randhy berbicara. Ya, lelaki yang awalnya dia suka hanya dari linimasa itu, kini sedang berada tepat di sebelahnya.

"Jadi mau ke mana?"

"Coba XXI"

"Oke, mau nonton apa?"

"Hmm Final Destination 5?"

"Jam?"

"Bentar liat jadwalnya dulu... Hmm malem sih. Yaudah kita makan aja dulu."

***
Sesampainya di 
Slushie, Ambarrukmo Plaza, Bian dan Randhy sangat menikmati malam minggunya itu, layaknya orang yang sudah bertahun-tahun pacaran, mereka merasa akrab satu sama lain, seperti yang sudah lama saling kenal. Padahal itu hari pertama setelah mereka jadian. Dan sambil menyantap makanannya pun, mereka selingi dengan bersendau gurau, tidak lepas menahan tawa yang tiba-tiba selalu muncul.

Bisa dibilang, malam itu adalah malam minggu teridah yang pernah Bian lewati.

*bersambung..


~ (oleh @biandadeti)

Sunday, 25 September 2011

'In Reply To' Yang Tak Kunjung Henti #14

Tanpa berpikir panjang Bian segera keluar kost dengan rambut berantakan dan baju rumah seadanya. Padahal Bian tau sesaat lagi dia akan bertemu orang yang sangat spesial baginya.
* membuka gerbang kost*

Bian melihat ada 2 mobil di depan kostnya dan beberapa orang di dalamnya turun menuju Burjo (tempat menjual Bubur Kacang Ijo)

"Wowwwww gila kamu Randhy! Ngapain ke sini?"

"Ya kan surprise!"

"Gila surprisenya kamu. Gak ngerti banget deh kamu senekat ini. Jadi ini sama temen-temen kamu bareng semua dari Jakarta? Wow!"

"Gak kok. Mereka temen-temen SD aku yang kebetulan kuliah di Jogja. Aku dari Jakarta naik kereta tadi pagi, dan baru sampai magrib barusan."

Seketika Bian tersentuh, karena memang Randhy menjadi cuek dan beda setelah kejadian itu. Tapi ternyata dia mempersiapkan sesuatu.

"Jadi kamu sendiri kesini naik kereta? Kenapa gak bilang dulu?"

"Ya namanya juga surprise kan."

"Hmm.."

"..."

"Eh kok bisa ke kost Annisa?"

"Iya aku liat
foursquare kamu. Di situ adanya kost Annisa, makanya aku kira kamu di kost itu jadi aku langsung aja yakin ke sana."

"Hahahaa iya itu kost aku dulu, tapi sekarang udah pindah ke sini."

"Ya aku gak tau, cuma bermodalkan
foursquare."

Sembari mereka bercakap-cakap, ada seseorang yang memperhatikan yaitu Pak RT.
Ya, Pak RT yang rumahnya tepat berada di depan Kost Putri selalu memantau anak-anak kostnya. Membuat peraturan yang bisa dibilang lumayan ketat. Salah satunya tidak boleh ada yang bertamu melewati pukul 9 malam.

Apalagi saat itu, Randhy datang jam sudah menunjukkan pukul 21.30 lewat.

"EHEEMMMM EHEEMMMM."

Entah batuk atau memang sengaja, Pak RT berulang lagi mengulang seperti itu. Bian langsung merasa tersinggung dan langsung berkata,

"Pak.. Maaf ya sebentar ini teman saya jauh-jauh datang dari Jakarta."

"Oh iya mbak, iya."

Lalu Bian pun melanjutkan percakapannya dengan Randhy di gerbang kost.
                                                                                            
"Jadi sampai kapan kamu di Jogja?"

"Sampai Minggu malam, aku udah beli tiket kereta untuk pulang juga."

"Wow oke, besok berarti kita main ya!"

Bian tidak mampu untuk menyembunyikan sikap kepura-purannya kalau dia benar-benar menyukai dan menyanyangi Randhy.

"Iya, makanya sengaja beli hari Minggu juga."

"Eh, jadi tadi kita BBMan itu sebenarnya kamu otw ke sini? Gila hahahahahhaa."

"Iya, aku td Magrib langsung dijemput sama Arif dan aku nginep di kaliurang nanti."

Saking terlalu menikmati pertemuannya dengan Randhy, Bian tidak ingat bahwa saat itu sudah terlalu malam dan Pak RT bolak balik sambil 'mengingatkan'.

Lalu tiba-tiba Pak RT pun datang menghampiri mereka berdua dan menyimak obrolan mereka. Sangat memperhatikan. Lalu berkata,

"Mbak.. Mas.. Tolong saya.. Ini sudah malam, sudah lewat dari jam bertamu."

"Iya pak bentar lagi ya, ini teman saya jauh dari Jakarta"

"Iya saya mengerti, tapi tolong juga mengerti saya. Tidak enak dilihat tetangga, kalau di Jogja beda dengan di Jakarta ya Masnya."

DEG! Akhirnya Bian segera mengakhiri pertemuannya sambil memberi kode kepada Randhy. Tapi ia meminta perpanjangan waktu..

"Pak sebentar lagi aja ya Pak? Sebentaaarr.." pinta Randhy sambil memohon-mohon.

Sebelum Pak RT menjawab akhirnya Bian berkata, "Yaudah nanti telepon aja ya Ran."

Sambil berlalu masuk ke dalam kost dan tanda kecewa dengan Pak RT.
*handphone berdering*

"Hallo.. Randhy maaf banget ya, rese emang itu Pak RTnya!"

"Iya gpp kok, aku mau pulang ya. Ini anak-anak juga udah selesai ngeburjonya."

"Iya maaf ya, besok kita ketemu oke!"

"Hmm iya.. Eh.. Sebenarnya tadi itu ada yang mau aku omongin tapi keburu Pak RT dateng."

"Iya, kenapa Randhy?"

"Hmm... Kamu mau jadi pacar aku?"

*bersambung..


~ (oleh @biandadeti)

'In Reply To' Yang Tak Kunjung Henti #13

Setelah kejadian itu pun, Bian semakin, semakin dan semakin tidak terlalu berharap dengan Randhy karena ternyata dia memang hanya menikmati percakapan fiksinya bukan di kehidupan nyata.

Keesokan harinya, Bian masih menunggu jawaban 'in reply to' yang masih belum juga dibalas.
Beberapa jam sekali dia mengecek linimasa Randhy tapi memang tidak ada tanda-tanda dia sedang online.

Sampai pada akhirnya di sore hari setelah Bian pulang kuliah, dia mendapatkan rasa lelah yang amat sangat dan berniat untuk tidur dahulu setelah Magrib kemudian bangun pada malam hari untuk mengerjakan tugas.
Saat itu Bian dan Randhy masih BBMan namun Bian merasa menjadi tidak akrab, mungkin suasana hati Bian yang masih terbawa 'gondok' sama Randhy.

Dalam sela-sela perbincangan mereka pun Bian sekaligus meminta tolong untuk dibangunkan pada pukul 10 malam agar bisa mengerjakan tugasnya. Dan Randhy pun mengiyakan.

**

*bunyi handphone berdering*

"Hallo..."

"Ayo bangun.. Katanya mau belajar sama ngerjain tugas?"

"Eh iya. Makasih ya udah dibangunin"

"Eh kostan kamu itu namanya Annisa kan? Warna ijo bukan?"

"HAH?! Kenapa emang?"

"Iya bener bukan itu kostannya?"

"Lho kamu dimana sih memangnya? Jangan bilang kamu bikin surprise lagi datengin aku ke Jogja? NGAKU!"

"Iya ini aku di depan kost Annisa. Kost kamu ini kan?"

"Bukan. Kost ku namanya Kost Putri. Di belakang kampus"

Belum lama Bian melanjutkan obrolannya, ada suara seorang cewek menggantikan Randhy dibalik telepon.

"Hallo Bianda, kost kamu di mana? Kalau dari UMY ke sebelah mana ya?"

"Hmm.. Di belakang UMY, masuk jalannya dari asrama cewek."

"Yaudah gini aja, kamu bikin denah kostnya, nanti kirim ke BBM Randhy. Oke?"

"Eh.. Hmm oke!"

Setelah menutup percakapan dengan cewek tersebut, Bian sempat diam. Lagi-lagi dikejutkan dengan kedatangan Randhy yang bisa dibilang 'nekat' sampai akhirnya Bian tidak membuang-buang waktu dan segera mengambil secarik kertas beserta pulpen kemudian menggambarkan denahnya.

...

Dan foto tersebut akhirnya sudah sampai di BBM Randhy. Tapi beberapa menit Bian menunggu jawaban dan telepon masih juga belum ada yang masuk. Tiba-tiba..

*dering handphone*


"Iya? Gimana?"

"Namanya Kost Putri kan? Lagi dibangun kan kostannya?"

"Iya."

"Yap, sekarang kamu keluar ya. Aku ada di depan kost kamu."

...

*bersambung


~ (oleh @biandadeti)

Friday, 23 September 2011

'In Reply To' yang Tak Kunjung Henti #12

Setelah pertemuan mereka di Bandung, intensitas tweet saling mention menjadi berkurang. Karena mereka semakin mementingkan yang ada di BBM daripada di twitter.

Hari demi hari yang dilalui mereka berdua membuat Bian semakin tersenyum lebar. Hatinya sudah terisi oleh Randhy. Bisa dibilang mungkin ini terlalu cepat untuk menjalin sebuah hubungan. Dan tidak masuk akal karena mereka baru pertama kali bertemu dan kenal dari twitter, lebih tepatnya dari percakapan fiksi yang semua orang pasti akan mengira sangat tidak wajar.

Tetapi Bian pun merasakan kalau Randhy mulai menikmatinya juga.

Saat itu mereka saling BBMan yang entah-ngobrolin-apa, dan Randhy membuat 1 kesalahan, timbul niat Bian yang hanya bercanda untuk menghukum Randhy.

"Aku marah."

"Lho aku jadi harus gimana?"

"Nyanyi."

Tanpa menunggu lama, Bian menerima voice note dari Randhy dan ternyata dia benar-benar mengirimkan suaranya!


"Hallo.. Assalamualaikum adek mahasiswa. Ini lagu yang kamu minta nih..

When you love someone
Just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love
Don't ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true…

Udah ya. Dimaafin gak?"

...

"HAHAHAHAHAAAAAA."

Tertawa dan menangis pun menjadi satu. Ya, tertawa hingga mengeluarkan air mata. Mendapatkan voice note seperti itu sekaligus mendengarkan suara orang yang dia sayang.

Akhirnya Bian pun kembali melanjutkan BBM-annya. Dan mereka mengobrol seperti sedia kala.
Semakin dekat seperti orang berpacaran, Bian bingung apakah Randhy hanya mempermainkan kegombalannya atau memang menyukai Bian juga di kehidupan nyata?

Terlalu dini untuk mengambil keputusan dan menerimanya tapi Bian semakin merasakan nyaman ketika dia menghubungi Randhy. Walaupun Bian semakin bingung sampai kapan bakal digantungkan seperti ini.

Dan pada suatu malam, ada tweet salah 1 dokter spesialis mata favoritnya itu membuka "lapak" berjudul #dokterpakcomblang.

Bian sebenarnya bimbang untuk mengikuti, melihat teman-temannya ikut hashtag itu di twitter, Bian pun tidak mau kalah. Walaupun sebenarnya timbul perasaan tidak enak kepada Randhy, karena mereka sedang dekat.

"Hmm.. Ikut gak ya? Kan lumayan nanti kalau di retweet dr ferdiriva. Tapi gak enak sama Randhy. Ah biarin aja, toh dia bukan siapa2 gue. Kalau pun marah dia gak ada hak dong."

Akhirnya Bian pun memutuskan untuk mengikuti.

(biandadeti) @ferdiriva Aku aku aku!!! FK UMY semester 5 gak butuh pacar tapi calon suami. :D

..

Hanya beberapa detik me-refresh timeline timbul tweet yang membuat Bian langsung lemas.



(Randhy_)       : @ferdiriva Tuh, yang mau dipromoin sama bang @ferdiriva sang #dokterpakcomblang mention sekarang. Saya sih ngga perlu lagi dok, sudah nemu dia. :')

"DIA?? DIA SIAPA? Kalau emang gue GR sih, yang Randhy maksud itu gue? Atau emang dia lagi deket sama cewek lain juga? Tapi sama siapa dia deketnya lagi? Kalaupun 'dia' nya itu gue, oke deh dihapus aja tweet buat dr ferdirivanya."

Saat itu pun Bian langsung BBM Randhy.

"Ikutan dokter pak comblang ahh hihihihihiiii.."

"Promosi terus."

"Hah? Promosi apaan? Orang baru ikutan sekali juga. Emang salah?"

"Gak."

"Toh kamu bukan siapa-siapa aku ya, Randhy."

...

"Eh aku baru baca tweet kamu. Aku hapus aja ya tweetnya."

"Oh, hahahaha santai aja Bianda."

...

Timbul perasaan bersalah setelah Bian mengikuti hashtag #dokterpakcomblang itu, tapi sekaligus bingung. Kalau emang Randhy keberatan Bian mengetik tweet itu mengapa dia pura-pura menerima saja. Tapi Randhy juga tidak ada hak untuk melarangnya. Entahlah, mungkin hanya Bian saja yang ke-GR-an dan mengharapkan yang berlebih, apalagi setelah Randhy mengunjunginya di Bandung.

"Ini orang kenapa ya, kalau emang gue salah ngetik kayak gitu atau emang gak terima ya bilang. Apaan dibilang "promosi terus" orang cuma sekalinya ngikut beginian. Tapi ternyata malah jual mahal abis sok-sok bilang gak apa-apa. Ah yaudahlah Bian, berarti dia emang gak suka sama lo. Sekarang tinggal mikir aja mengarang indah itu ending 30 hari cerita cinta jadinya gimana."

*bersambung..


~ (oleh @biandadeti)

Thursday, 22 September 2011

'In Reply To' yang Tak Kunjung Henti #11

 (Randhy_)          :  @biandadeti jadi, apakah kejutan hari ini bisa diterima?' Bisa untuk membayar kejutan yang salah kemarin?
(biandadeti)       : @Randhy_ Jadi ini sengaja untuk membayar surprise yg gagal kemarin? Gila kamu gila! :')
(Randhy_)           : @biandadeti kamu yang bikin aku gila duluan. Kamu ngga suka? :'(
(biandadeti)       : @Randhy_ Lho aku ngapain sampai membuat kamu gila randhy? Aku suka kemarin..... :')
(Randhy_)           : @biandadeti hanya berpose diam menjadi avatar saja sudah membuat aku #deg!
(biandadeti)       : @Randhy_ Yasudah perhatikan saja avatarnya terus. Tidak perlu bertemu aku lagi pun tidak apa2 kan?
(Randhy_)           : @biandadeti andai setiap avatar dan fotomu, bisa bergerak dan bercerita tentangmu setiap saat. Ah. Aku tetap butuh fisikmu.
(biandadeti)       : @Randhy_ Jika memang kamu menginginkan itu, bayangkan saja diri aku saat bertemu dirimu kemarin. Aku pun butuh yang sama.
(Randhy_)           : @biandadeti andai bayanganmu kemarin itu sempat aku rekam seperti voice note yang kamu kirim. Aku lupa, terlalu sibuk memperhatikanmu. :')

Hahahaha. Ya, Bian sempat mengirimkan voicenote ucapan "Selamat Pagi Pak Dokter" karena setelah sebelumnya ia mendapatkan kode dari Randhy bahwa itu adalah cara untuk membangunkan dia dari tidurnya. Seringkali Randhy bangun kesiangan, dan dia pun sudah tidak percaya lagi pada kokoknya ayam. Maka, Bian berinisiatif untuk membangunkannya dengan cara lain.


(biandadeti)       : @Randhy_ Memang kamu memperhatikan aku? Justru aku yang selalu memperhatikanmu ketika kamu berbicara. Dan aku ingin kembali ke waktu kemarin
(Randhy_)           : @biandadeti every single of you. Sampai akhirnya kereta itu membawamu pergi dariku. Menjauh. :'(

"Terharu. Ternyata Randhy juga memperhatikan gue ya.... :') "

(biandadeti)       : @Randhy_ Kamu tahu, kemarin aku mencari sosokmu di balik Jendela kereta. Aku berharap kamu mengantarkan aku hingga benar2 berangkat. :'(
(Randhy_)           : @biandadeti jadi surprise kemarin gagal lagi? Maaf ya, aku engga sebaik yang kamu harapkan. :'(
(biandadeti)       : @Randhy_ Siapa bilang gagal? Seandainya kamu nunggu aku pasti hal itu akan jadi sempurna skali.
(Randhy_)           : @biandadeti mudah-mudahan, bila masih ada nafasku, dan masih sanggup ragaku untuk mempersembahkan yang lebih baik. Someday I will. :)
(biandadeti)       : @Randhy_ Ya, dan aku tidak akan berharap banyak untuk itu. Nanti aku bisa semakin gila. :)
(Randhy_)           : @biandadeti harapan adalah akumulasi mimpi dan doa, namun dapat terintervensi oleh keragu-raguan dan ketidakpercayaan. Masih mau berharap?
(biandadeti)       : @Randhy_ Kalau memang begitu, sampai kapanpun aku akan mencoba menghindari ktidakpercayaan dan keragu-raguan itu.
(Randhy_)           : @biandadeti bolehkah aku jadi orang yang mengemban kepercayaanmu itu? Kalau iya, sungguh satu tugas yang amat berat, tapi membanggakan. :')
(biandadeti)       : @Randhy_ Mengapa itu menjadi tugas yang berat dan membanggakan bagimu?
(Randhy_)           : @biandadeti pasti semua laki-laki mau ada di posisi aku sekarang ini
(biandadeti)       : @Randhy_ Posisi seperti apa? Apakah itu tugas yang berat?

...

Sangat lama menunggu balasan tweet terakhir tersebut. Walaupun mereka semakin sering berkomunikasi via BBM dan telepon, tapi tetap saja Bian mengharapkan Randhy tetap meneruskan percakapan fiksinya di twitter. Padahal bisa dibilang, percakapan mereka di kehidupan nyata pun tidak jauh beda. Semakin dekat bahkan selayaknya orang yang sedang berpacaran.

*bersambung..


~ (oleh @biandadeti)

Wednesday, 21 September 2011

'In Reply To' Yang Tak Kunjung Henti #10

"Bian.."

"Randhy.."

Mereka pun bersalaman layaknya dua orang yang benar-benar baru saling kenal saat itu juga. Anggi pun menyusul untuk memperkenalkan diri. Lalu Bian pun mulai bertanya pada Randhy.

"Kok niat banget sih? Dari Jakarta langsung kesini? Kok gak ngasih tau dulu?"

"Ya namanya juga dapet super kode, kan surprise!!!"

...

WHAAATTTT????

Super kode yang dinyatakan Bian hanya sebatas dunia maya sebenarnya, tapi kenapa Randhy harus mengikuti di kehidupan nyata?

Semua percakapan fiksi itu lama kelamaan larut oleh perbincangan mereka di kehidupan nyata. Layaknya teman lama yang sudah tidak pernah bertemu. Akrab. Aneh? Memang.

Bian saat itu sangat merasakan keakrabannya yang hadir tanpa adanya sikap menjaga image satu sama lain. Mungkin karena situasi yang membuat Bian seperti itu, situasi dikejar waktu. Pukul 8 malam kereta akan berangkat, dan saat itu sudah menunjukkan pukul 6 lewat tetapi masih di parkiran Ciwalk yang sangat macet menuju pintu keluar.

Ya, Bian dan Anggi menerima tawaran Randhy untuk mengantarkan mereka pulang. Anggi yang saat itu akan diantar ke Rumah Sakit tempat adiknya berada, dan Bian yang akan diantarkan langsung ke stasiun setelah sebelumnya menuju rumah neneknya di Dipati Ukur untuk mengambil 2 koper yang berisi baju dan buku.
Tidak mungkin juga ajakan itu ditolak mentah-mentah, karena waktu sudah mengejar-mengejar dan Bian terlihat sangat panik.

**

Sesampainya di dekat Rumah Sakit Advent, Anggi pun turun dan tinggal mereka berdua. Tidak hening, justru selalu ada saja topik satu sama lain.

Saking terlalu memperhatikan Randhy menyetir, Bian tidak terlalu menyimak apa yang dibicarakan lelaki tersebut. Ingin rasanya Bian bertanya,

"Ini niat banget sih. Eh eh kok gombalnya keterlaluan banget deh kemarin twitteran gitu. Pasti tiap orang digombalin? Terus kenapa mau nerusin conversationnya itu? Kok ternyata nyimpen juga itu 100+, kok kok kok kok kok kok..........."


BYARRRR!


Lamunan Bian pun buyar seketika karena tersadarkan jangan sampai Bian juga memperlihatkan KODE yang sesungguhnya. Jangan sampai Randhy tahu, bahwa Bian memang menyukai dirinya.

Sesampainya di stasiun, Randhy membantu membawakan 2 koper Bian yang lumayan berat menuju tempat duduk kereta.

"Nih.. Berat ya kopernya.." Ujar Bian sembari mengeluarkan tissue dari tasnya karena melihat Randhy mengeluarkan banyak keringat.

Rasanya masih ingin berlama-lama mengobrol dengan Randhy, tapi situasi dan kondisi saat itu sudah tidak sangat memungkinkan karena bel di stasiun sudah berbunyi dan tandanya kereta akan segera berangkat.

"Aku turun ya.."

Bian pun mengangguk dan mereka bersalaman.

Sedih? Ya.
Senang? Ya.
Bahagia? Pasti.
Jatuh Cinta? Sangat.

Semua perasaan campur aduk menjadi satu, semakin Bian berharap bahwa suatu saat mereka harus dipertemukan lagi bagaimanapun caranya. Entah saat dia bermain ke Jogja, atau saat Bian pulang ke Jakarta tempat orang tuanya.

Pertemuan mereka di dunia nyata bukan berarti terhentinya percakapan fiksi di twitter, karena percakapan tersebut akan terus berlangsung sampai dirasa cukup. Entah yang dimaksud di dalam percakapannya untuk kehidupan nyata atau bukan, Walaupun mereka kini sudah semakin sering berkomunikasi via BBM dan Bian sangat bahagia hingga perjalanan Bandung – Yogyakarta itu pun tidak dipergunakan untuk tidur, tapi untuk melamun dan Bian tidak dapat berhenti tersenyum.

*bersambung..


~ (oleh @biandadeti)

Tuesday, 20 September 2011

'In Reply To' Yang Tak Kunjung Henti #9

Disaat yang bersamaan mereka melanjutkan komunikasinya lewat Blackberry Messenger. Padahal waktu sudah menunjukkan hampir dini hari tapi keduanya masih belum mengantuk, Randhy pun bercerita seputar kegiatannya bahwa dia tidak bisa tidur karena memikirkan masa depan. Dia sedang menunggu panggilan untuk bekerja di suatu RSUD setelah memutuskan resign di tempat yang sebelumnya. Sembari menunggu, Randhy pun mempersiapkan untuk tes PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) dan berencana mengambil Ilmu Penyakit Dalam.
Seketika Bian semakin kagum dengan lelaki tersebut, karena Randhy sangat memikirkan masa depannya. Memang seharusnya begitu, tapi hal ini menjadi sangat spesial mengingat umur Randhy yang masih terbilang muda.
Banyak hal yang mereka bicarakan dan Bian merasa semakin, semakin, dan semakin akrab dengannya. Lalu Bian pun kembali membuka akun twitternya.

(biandadeti)       : @Randhy_ gitu dong. Mau tidur jam berapa? Kan udah gak ada yg dipikirin lagi. :)
(Randhy_)           : @biandadeti bohong kalo ngga ada yang dipikirin lagi. Kamu selalu jadi pikiran. Mau tidur setelah kamu sukses bermimpi. :)
(biandadeti)       : @Randhy_ Kenapa selalu jadi pikiran? Aku punya utang ya :(
(Randhy_)           : @biandadeti kamu punya hutang. Hutang buat menjelaskan, kenapa aku punya perasaan seperti ini padamu
(biandadeti)       : @Randhy_ Perasaan seperti apa kalau aku sendiri tidak tahu. Jadi aku bingung apa yg harus aku jelaskan.
...

Sangat lama menunggu balasan tweet tersebut, hingga Bian berpikir bahwa Randhy sudah bosan membalas tweet2nya dan mungkin ada baiknya komunikasi via BBM saja. Tetapi, Bian tiba-tiba ingat bahwa Randhy pun ingin mempertahankan 'conversationnya' itu.

Hari terakhir, lagi-lagi Bian berencana untuk bertemu @sylvannyenji dan teman-teman yang lain untuk membahas seputar kerjaan isengnya di majalah. Bian yang saat itu mengenakan baju abu-abu, jeans hitam, flatshoes berpita, jepit berpita juga di rambutnya, sudah sampai Ciwalk terlebih dahulu setelah diantarkan oleh kedua orang tuanya yang akan segera kembali ke Jakarta.

Selama kurang lebih 2-3 jam rapat bersama teman-temannya, Bian baru ingat bahwa ada BBM yang belum sempat dibalas. Ternyata dari Randhy,

"Cihampelas macet banget ya. Jam 3 tadi lewat situ."

Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Bian dan Anggi pun bergegas untuk pulang karena takut nanti malam ketinggalan kereta.

Cukup lama Bian mencerna kata-kata Randhy di BBM.

"Jay, kok ini Randhy BBM dia bilang jam 3 lewat Cihampelas? HAH??!! Ke Bandung gitu dia?" Tanya Bian kepada Anggi setelah sebelumnya dia bercerita bahwa sedang dekat dengan Randhy.

"Tanya coba dia lagi di mana? Yaudah ketemuan aja sekalian."

"HAHHHH?!! GILA! Seriusan apa???"

Masih kaget, Bian yang berencana ingin berfoto box dengan Anggi pun menjadi tidak bisa leluasa bergaya di depan kamera.
Banyak tanda tanya di kepala Bian dan akhirnya dia pun menanyakan kepada Randhy.

"Serius? Ngapain ke Bandung? Demi apa?"

Segudang pertanyaan pun langsung dilontarkan dan Randhy pun menjawab, "Demi Tuhan. Mau bukti apa?"

Semakin lemas saat itu dan semakin tidak berkonsentrasi untuk difoto box, Bian pun langsung menerima foto yang dikirim oleh Randhy.

Tidak membaca dengan seksama isi kertas tersebut, yang jelas sangat terlihat 'J.CO Cihampelas Walk'

"JAYYYYYY, dia beneran di Ciwalk dong!!! MATI AJA GUE."

"Nah lho, udah mesra-mesraan gitu di twitter sekarang tweetup."

"AAAAAAKKKK GUE MALU."

"Yaudah jadi mau ketemu apa gak?"

Akhirnya Bian memutuskan untuk bertemu Randhy saat itu, di depan Texas Ciwalk setelah sebelumnya membeli pesanan makanan untuk adiknya Anggi yang sedang dirawat di Rumah Sakit, dan saat itu pula pertama kalinya Bian memiliki nomor handphone Randhy.

Cosmic Girl-nya Jamiroquai yang menjadi ringtone handphone Bian berbunyi ditengah suasana yang semakin membuatnya panik.
Panik karena sudah terlalu sore takut macet dan nanti malam ketinggalan kereta, panik juga karena mau ketemu Randhy. Hmm sepertinya poin nomor 2 lebih mendominasi kepanikannya.

Dan Bian pun langsung mengangkat panggilan di Hpnya tersebut.

"Iya.. Ehmm eh.. Aku di depan Texas."

"Kamu memang di sebelah mananya? Aku juga di depan Texas."

"Aku di bawahnya arah penunjuk jalan, depan Texas."

Tiba-tiba terlihat sesosok lelaki dengan postur tinggi besar, memakai kemeja warna hitam, berkacamata, sambil memegang handphonenya dan...... YA! ITU RANDHY!

*bersambung..


~ (oleh @biandadeti)

Monday, 19 September 2011

'In Reply To' Yang Tak Kunjung Henti, #8

(biandadeti)       : Batre tinggal sestrip itu rasanya kayak digantungin. Gak enak banget.

Malam minggu terakhir di Bandung sebelum Bian kembali untuk menuntut ilmu di Yogyakarta, ia manfaatkan untuk bertemu @sylvannyenji (Anggi) dan Cihampelas Walk adalah satu-satunya tujuan awal sebelum Bian menyadari bahwa saat itu juga akan berlangsung acara Stand Up Comedy di Bandung Food Fest.

(biandadeti)       : @Randhy_ Iya ini malming terakhir di Bandung. Tp kan aku multitasking. Bisa ngetwit ini. :">

(Randhy_)           : Sakit jiwa Bandung Food Fest ramenya. Pada nongtong #StandUpNiteBDG2 *geleng2* besok2 aku diajak dong bianda @biandadeti

(biandadeti)       : @Randhy_ Bsk2 nontonnya StandUp Jogja! Batre hp abis. Sedih bet dari pergi cuma bawa sestrip.
(Randhy_)           : @biandadeti kalo ada beneran stand up jogja, lalu aku free, aku ke jogja deh. Iya ngerti kok, berasa digantung kan yah?

DEG! Ternyata Randhy sempat membaca salah satu kicauan Bian bahwa batre bbnya abis dan-itu-gak-enak-banget.

(biandadeti)       : @Randhy_ Ada kok StandUp jogja, yg maen wkt itu ada shitlicious tp aku gak ntn. Iya berasa digantung.
(Randhy_)           : @biandadeti Ah, iya. Ini yang aku pengen liatin ke kamu. Yang tadi sore aku bilang mau aku kasih. [t.co]

TARAAAAAA!!!!!!!!
Tidak ada yang bisa menggambarkan wajah Bian saat itu seperti apa. Super kaget dan memang sangat kaget. Ternyata Randhy pun melakukan kegiatan yang sama, ia mengumpulkan semua percakapan fiksi mereka dari awal sampai akhir dan diberi judul (100+).
Bian pun berniat mengumpulkan cerita mereka untuk 1 tujuan, ya untuk mengikuti #30HariCeritaCinta yang berlangsung di twitter, diadakan oleh @poscinta dan peserta terbuka untuk umum.
Bian memang sudah berniat untuk mengikuti acara ini, tetapi belum ada ide yang terkumpul dan sangat sulit untuk mengumpulkan cerita bersambung dengan syarat minimal 10 episode dengan maksimal di 30.
Tetapi inspirasi itu datang ketika awal mula mention Bian terhadap Randhy yang memang secara iseng dibalas berkesinambungan hingga detik ini. Jadilah percakapan fiksi mereka Bian kumpulkan dan akan dibuat 1 cerita.

"Yah mati aja deh gue, udah ngajuin judul ke @poscinta judulnya 'In Reply To' Yang Tak Kunjung Henti. Tapi APA KABAR KALAU KAYAK GINI? Udah gak bisa ganti judul juga. Padahal rencana lainnya emang buat dikasih ke Randhy juga."

(biandadeti)       : @Randhy_ Gila kamu! Knp bs sama. Justru suatu saat aku pgn kasih liat jg. Dan ini udah tersusun rapi dgn tambahan kata2 dari aku. Argh!! :'(
(Randhy_)           : @biandadeti aahh pasti punya kamu lebih bagus. Pengen liat pengen liat pengen liat.

Saat itu pun Bian memberanikan diri untuk chat via BBM merundingkan tentang percakapan fiksi mereka di twitter. Ya mohon dicatat, itu pertama kalinya mereka BBMan dengan bahasa yang santai. Bukan lagi "pak dokter-adek" seperti sebelumnya yang hanya sepatah dua patah kata, tapi kali ini membahas hal yang memang menurut Bian ini penting.
Randhy pun sepertinya terlihat kaget bahwa Bian mengumpulkan percakapan mereka dan akhirnya Randhy berniat untuk menghapus tulisan di link tersebut dan mempersilahkan Bian untuk melanjutkan ceritanya. Apa adanya.
Sempat terpikir oleh Bian untuk merundingkan jalan ceritanya, agar ada pihak ketiga lah, sama-sama ribut lah, tapi nyatanya semua yang dibuat-buat tidak bisa terlaksana dengan baik. Akhirnya Bian pun menyerah dan melanjutkan cerita yang sudah setengah jalan ia tulis.

(Randhy_)           : @biandadeti ternyata apa yang aku siapkan tidak sesuai dengan harapan yah. Maaf aku bikin kamu kecewa. :'(
(biandadeti)       : @Randhy_ Aku gak kecewa. Justru aku seneng. Saking bahagianya aku gak nyangka kita punya pikiran yg sama. Pikiran aku kebaca jdnya kan.. :')
(Randhy_)           : @biandadeti aku gagal bikin kamu bahagia. Aku salah. Aku mundur, tapi ijinkan aku mundur dengan dignity-ku. :')
(biandadeti)       : @Randhy_ Kenapa kamu yg gagal dan malah kamu yg pergi? :(
(Randhy_)           : @biandadeti aku selalu berpikir aku akan bisa mengejutkan satu hari demi satu hari di hidupmu, ternyata aku salah. Delete saja aku. :'(
(biandadeti)       : @Randhy_ Lalu? Kamu rela meninggalkan aku?
(Randhy_)           : @biandadeti ikhlas tentu saja tidak. Namun bersamamu, apakah aku bisa kembali membuatmu selalu bersinar? Kau pun tak yakin. :'(
(biandadeti)       : @Randhy_ Apa yg membuatmu berpikir bahwa aku tak meyakini semuanya?
(Randhy_)           : @biandadeti teriakan "Argh!!" dan wajah :'( darimu seakan menyimpulkan ketidakyakinanmu akan kemampuanku melengkungkan senyummu. :'(
(biandadeti)       : @Randhy_ Itu hanya emosi sesaat yg aku tunjukkan. Tapi sekarang, aku sudah tidak marah lagi. Hanya karena itu, takut merusak semuanya.
(Randhy_)           : @biandadeti aku takut kalau kamu marah. :(
(biandadeti)       : @Randhy_ tidak randhy. Masih mau pergi? :)
(Randhy_)           : @biandadeti aku masih mau pergi. Dengan satu syarat. Aku mau kamu temani aku. :')
(biandadeti)       : @Randhy_ Apa gunanya aku temani kalau akhirnya kamu pergi juga?
(Randhy_)           : @biandadeti aku pergi kamu temani berarti aku tidak pergi dari kamu. :')

*bersambung..

~ (oleh @biandadeti)