Warung Bebas
Showing posts with label Semangat Merah Jambu. Show all posts
Showing posts with label Semangat Merah Jambu. Show all posts

Wednesday, 28 September 2011

Payung


                Sedikit demi sedikit jalan menuju rumah dilalui Fany, tampaknya beberapa hari ini sering sekali hujan. Walaupun tak deras tetap saja menyusahkan. 3 hari berturut-turut hujan turun, Fany kira cerah tadi pagi akan awet sepanjang hari. Perkiraannya meleset, beberapa menit sebelum bel pulang rintik hujan mulai membahasahi. Siapa sangka cuacanya akan seperti ini?
                Daripada terlambat pulang lebih baik Fany basah kuyup, "hanya gerimis" pikir Fany daritadi. Tak mungkin dirinya sakit, hanya gara-gara udara dingin dan tetesan air yang secara langsung mendarat di rambutnya tanpa penutup apapun. Fany memutuskan untuk tak pulang dengan Moan, ia tak mau mengganggu Moan yang masih ada latihan pulang sekolah. Fany tertunduk, entah beban pikiran atau apa yang membuatnya lebih sering murung akhir-akhir ini. Sepertinya sudah tak bersemangat untuk hidup. Wajanya hanya melihat ujung sepatu yang sedari tadi beradu dengan tanah dan batu sepanjang jalan. Tak lupa dibumbui dengan basahnya air hujan yang membuat kakinya lembab. Dan tentunya kaus kaki ini akan jadi terakhir untuk minggu ini.
                Langit semakin tak menunjukkan keramahannya. Tetesan air semakin ramai mengucur . Jalan pun menyepi, hanya beberapa orang yang tak peduli dengan guyuran hujan yang semakin deras. Sedangkan Fany? Kesialan menimpanya hariini. Jaketnya serta payung yang biasa menemaninya kala hujan tak bersamanya kali ini. Tak ada yang menutupi tubuhnya selain seragam SMA.
                Sempat terbesit di benak Fany seorang pangeran yang menolongnya membawakan payung dikala wajah manis Fany basah karena hujan, kemudian melepas jas nya untuk tubuh kecil Fany yang kedinginan. Berkata manis sambil memeluk tubuh Fany untuk menghangatkannya. Namun apadaya, hayalan tersebut terlalu tinggi, "sudah terlanjur basah seperti ini boro-boro ada yang mau bawain payung"
                Siapa sangka? Sebuah payung akhirnya menutupi tubuhnya yang basah, kala itu. Siapa ini? Apakah hal ini seperti cinderella atau snow white ? atau bahkan seperti di sinetron ? atauu..
                Fany dengan ragu menoleh kebelakang, siapa yang menopang payung tsb. Tak disangka orang itu Sam. Fany kaget bukan kepalang. Dan terjadilah beberapa konflik dibawah payung tsb
"Komeng?"
"gak tega gue liat lo kehujanan"
"sejak kapan…"
"gue kan kalo pulang nungguin lo terus"
"tapi bilang kek kalo ngikutin"
"terserah  lahh, nih payungnya, kayak biasa gue ngikutin lo dari belakang aja"
"jangan, lo bawain payung gue aja, gue juga kasian liat lo menderita terus"
"makasih cantik, tumben"
"gausah gombal daripada gue suruh lo basah kuyup dibelakang"
"peace cantiiiik hehe…"
                Dua sejoli tsb akhirnya menyusuri jalan berdua. Biarpun ada sedikit rasa canggung di keduanya, tapi tetap saja beberapa konjadi konflik kecil terjadi beberapa kali. So sweet, kah ini ? tak ada yang bisa menilai.
                Percakapan itu semakin lama semakin hangat, Fany baru kali ini merasa nyaman berada di dekat sam. Ada sedikit keraguan, namun untuk kali ini saja Fany mencoba untuk mendekat sedikit pada Sam. Dibawah payung, dibawah hujan yang menyatukan mereka. Sepertinya tuhan punya maksud lain di balik kesialan Fany.
                Tinggal beberapa langkah keduanya sampai di rumah Fany. Udara dingin semakin menusuk tulang di siang itu. Sinar matahari tampak terkorupsi oleh tebalnya awan. Tak ada pertanda cuaca akan membaik, beberapa kilat bahkan sesaat muncul.
"Fan, ntar malem ya"
"apa?"
"jangan pura-pura lupa deh"
"iya gue inget"
"janji dateng ya"
"gue gak janji"
                Jawaban jutek Fany tak melunturkan semangat Sam. Malah Sam berbisik kecil pada Fany, sedikit senyum simpul tersamar dibalik wajah Fany. Akhirnya mereka berpisah. Senyum Sam tampak terpancar cerah melepas kepergian Fany.
To Be Continued…


(oleh @iimamf)

Sunday, 25 September 2011

Sebuah Kata Hati


"Moaaan !!!!!!!!!"
"apa nyet, lo ganggu gue tidur aja"
"Si Sam ngajak gue nonton, terus pake ngancem pake foto gue yang sama Indra lagi"
"Waduh ??"
"dia dapat dimana coba?"
"mana gue tau, tanya Indra lahh"
"ihh moan lo semenjak gue punya masalah serius sama Sam jadi gini ya? Gak habis pikir gue"
"ahh gue bukannya orangnya emang cuek Fan ?"
"ya tapi gak gini juga kali"
"yahh terserah lo deh"
                Semenjak, kejadian saat hujan tersebut, makin lama hubungan Fany dengan Moan semakin memburuk. Entah apakah pengaruh dari Sam ataukah sikap Sam yang seperti itu membuat Moan semakin tak nyaman bergaul dengan Fany ?. Fany merasa ada yang disembunyikan darinya, hanya saja Fany tak berani menanyakannya pada Moan.
                Besok malam Fany bahkan harus meladeni Sam dengan permintaan konyolnya menemaninya nonton di bioskop. Fany dengan berat hati akhirnya menerima ajakannya. Tampaknya ada yang direncanakan Sam untuknya. Ingin meminta bantuan Moan, tapi Fany sedikit risih dengan sikap Moan tadi. Harus sendiri? Ya? Siapa takut? Akan banyak orang di Bioskop nanti.
Kelas XII ipa 2 ~ 7:15
"Moan sorry yang semalam ya, gue gak maksud buat lo marah"
"gapapa kok salah gue juga udah terlalu overdosis gak peduli sama lo"
"iya salah gue juga yang kelewat emosi"
"okedeh saling maafan aja ya kita"
"sip"
"gimana rencana lo ngedate sama Sam" kata moan sambil melirikkan matanya pada kumpulan anak cowok di luar, nampak Sam ada diantaranya
"Ihh moan gue bukan mau ngedate"
"lahh secara malam minggu gini nonton berduaan gitu kalo bukan ngedate ngapain coba ?"
"yah terserah lo deh gimana yang jelas, gue minta bantuan lo soal itu"
"bantuan apa ?"
"ikutan ya ntar malem, plissss"
"mana gue bisa Fan kan gue mesti temenin nyokap gue berobat, gue udah bilang kan minggu lalu"
"oh iya, gimana dong nihh"
"good luck ya nyet"
                Percakapan tersebut segera berakhir dengan datangnya guru ke kelas mereka. Sepanjang pelajaran Fany semakin tak tenang dengan sikap Sam. Gosip pun mulai berhembus, semenjak itu Sam dan Fany lebih sering pulang dan pergi bersama. Tentu saja dengan posisi Sam yang tak selalu berdampingan dengan Fany. Kicauan celetukan Sam pun tak lagi terdengar. Hanya saja musibah lagi bagi Fany jika sikap Sam seperti ini. Sepertinya serba salah apapun yang dilakukan Sam pada Fany.

                Fany kira janji Sam berubah tak sedrastis ini. Cukup drastis sampai-sampai masalah baru muncul. Jalinan persahabatannya dengan Moan pun beberapa kali bermasalah. Fany tak mungkin meminta sam kembali seperti dulu. Menaruh permen karet di kursi fany, kelabang di laci Fany, Ngerjain Fany sampai kegeeran, dan sampai hampir menghilangkan Fany gara-gara terpeleset. Ada sedikit rindu dalam suasana itu, hanya saja siapa yang ingin menyalahkan Sam atas kemauannya untuk berubah. Fany tak bisa menolak, itu sudah janji Sam untuknya.
                Masalah lain kemudian tiba ketika Fany sedikit demi sedikit mulai ada 'rasa' pada Sam. Apakah ini misi Sam? Atau bahkan ada maksud lain?. Namun ada kalimat lain dalam hati kecil Fany yang lebih tepat menggambarkan ini semua.
"Aku rindu Sam yang dulu"

To Be Continued…

Special Thx for Theresia Jayani GBU


(oleh @iimamf)

Saturday, 24 September 2011

Dari Sam, dengan Cinta

"Sam datang ke rumah gue !"
"ngapain dia ?"
"ngaku ke ortu gue ada tugas kelompok, gila gak ?"
"lah bilang aja ke ortu lo dia Cuma ngaku-ngaku"
"gak bisa, gue diancemin mau di lamar kalo gue gak nemanin dia belajar"
"anjrit lo percaya ?"
"ihh moan lo gak tau rasanya jadi gue"
"yaudah sist gue ngantuk, good luck ya!"
"eh moan !!!"
                Telfon kemudian terputus, Fanny semakin risau. Sam datang ke rumahnya dengan pakaian sopan, dan tak mencerminkan berandalan kelas seperti biasa. Sebelumnya Sam memencet bel rumah Fany, kemudian disambut hangat oleh ibu Fanny.
*-*-*
"tingtoong" bel rumah berbunyi
"iya siapa ya " ibu Fany membukakan pintu untuk Sam yang ditunggu diluar
"saya Sam tante, janji ada kerja kelompok sama Fany"
"oh silahkan masuk, Fany lagi dikamarnya nanti tante panggilin ?"
"iya silahkan tante, saya nunggu disini aja ya"

                Sebelumnya seperti biasa Sam sempat mengancam Fany agar menemaninya belajar. Fany yang polos akhirnya dengan sangat terpaksa belajar dengan Sam dengan alasan kerja kelompok.
*-*-*-*
               

"weh cowok sial ngapain lo ngaku ke nyokap gue kayagitu, pake ngancem gue lagi" lirih Fany sambil menahan suaranya agar tak terdengar oleh Ibunya
"gapapa cantik, ajarin gue yang ini dong" dengan wajah menggodanya
"Anjrit gausah kegombalan gue panggilin bokap gue nih"
"panggil aja, gue udah bawa mahar emas 200 gram dalam tas gue, lo panggil gue lamar"
"eh sialan udah mana sini gue kerjain"


Kesialan menimpa Fany lagi. Ayah dan ibunya ada acara dan harus pergi keluar, jadilah hanya Fany dan Sam di rumah. Fany tentunya tak usah khawatir tetangganya sering protes jika Fany memutar Tape cukup keras. Itu berarti suaranya bisa terdengar keras jika teriak.
                Entah 'lucky' nya Sam atau kenapa sampai diberi kesempatan untuk mereka berdua. Tentunya musibah besar bagi Fany. Niat Fany tak lain adalah mengusir Sam dari rumahnya setelah mobil kedua orangtuanya sudah pergi keluar dari garasi. Itu artinya, Fany yang berkuasa di rumah. Rencananya untuk mengusir Sam tak bisa ia bendung lagi.
"Eh kampret, keluar lo!"
"gakmau cantik"
"kalo gue gakmau"
"gue teriak"
"teriak aja"
                Seketika Fany terdiam, hanya tak tau harus berbuat apa. Mungkin ia tak tega jika sampai Sam dipukuli oleh tetangganya. Sedangkan Sam sudah bilang ke orangtua Fany untuk belajar bersama. Bukan pacaran apalagi sampai macam-macam dengan Fany. Fany sendiri masih merasa tak tenang dengan kehadiran Sam di rumahnya.
                Tak berapa lama kemudian sam berdiri, kemudian mendekati Fany, mendekat, dan semakin mendekat. Fany yang saat itu ketakutan tak bisa berteriak, apa yang akan dilakukan Sam dengannya?. Langkah demi langkah Sam semakin dekat, Pundak Fany akhirnya menyentuh dinding. Keringat dingin mulai mengalir di wajah Fany.
                Tangan Sam kemudian disandarkan ke tembok, menatap wajah Fany tajam. Berapa wanita yang mungkin akan bilang hal ini so sweet ? bagi Fany di tatap oleh sam dengan posisi seperti ini sudah kelewatan. Bibir Sam mendekat ke wajah Fany. Fany tak pasrah, tangannya perlahan terangkat, ingin menampar Sam.
                Tangan Sam menangkal tangan Fany. Sam merogoh Kantongnya dan mengeluarkan dompetnya. 2 lembar tiket keluar dari dompetnya. Fany hany terdiam heran, ia bingung apa yang akan dilakukan sam untuknya.
"ini ada 2 tiket, terserah lo mau film yang mana besok malam gue tunggu di Depan bioskop"
"kalo gue gak mau ?"
"Gue cium lo !"
"PLAAAAAK        ! " satu tamparan melayang ke pipi Sam
"Mainan lo gak lucu!!"
"hehe sorry cantik, just kidding"
"gak lucu!"
"jangan ngambek dong cantik, Foto lo sama Indra ada sama gue loh "
"eh…."

To Be Continued..

Special Thx for Kak Jhonny,Kak Manil, Kak Uju, Kak Yuli, Kak Heri, Kak Eni


(oleh @iimamf)

Thursday, 22 September 2011

Tentang Moan

Beban fikiran Fany sedikit hilang, baginya hariini terlalu ribet untuk dilewati. Beberapa curhatnya ke Moan melalui kontak BBM sepertinya tak cukup untuk meluapkan kekesalannya. Entah kenapa Fany ingin menghajar seseorang untuk menghilangkan amarahnya yang menggebu.
                Beberapa saat yang lalu, Indra mengirimnya pesan. Ia berterima kasih atas hari ini, terimakasih telah jujur, dan…. tentunya bonus tonjokkan dari Sam untuk Indra adalah hal yang belum diketahui Fany sama sekali. Bahkan ancaman Sam kepada sahabat Fany sendiri, Moan. Tak ada yang Fany tahu soal itu, terlalu banyak hal yang disembunyikan Sam dan Moan dari Fany. Fany menyadari itu semua, hanya saja kurang nyaman baginya untuk menuduh kepada Moan.
                *-*-*

                Moan hanya menyendiri di kamar. Ancaman dari Sam tadi siang sepertinya membuat Moan tak kunjung berhenti galau. Apalagi kalau bukan karena Irfan, yang sebenarnya merupakan mantan dari Moan sendiri, hanya saja suatu kejadian membuat Moan terpaksa menghentikan hubungan mereka.
                Irfan merupakan seorang dancer, dalam aliran balet. Tentunya bagi laki-laki kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang ngeh, untuk digeluti. Namun berbeda dengan Irfan, tubuhnya tinggi kurus, lentur, dan tentunya wajahnya tak menggambarkan sekali bahwa ia seorang penari balet.
                Tentu hal ini bertolak belakang dengan Sue gien min atau biasa dipanggil Moan . Senior karate, sabuk hitam di sekolahnya. Bebrapa bulan lagi akan masuk "dan 2". Moan merupakan gadis yang ramping, namun atletis, dan tentu saja keturunan tiong hoa . Beberapa cowok juga naksir dengannya. Siapa yang bisa menolak gadis sepertinya. Belum lagi ia keturunan Chineese, dan kulitnya putih bersih. Hanya saja Moan terbilang apa adanya, suka bercanda masalah cinta. Sehingga beberapa anak laki-laki sedikit berfikir untuk 'menjalin' hubungan dengannya. Kalaupun ada yang nekat ingin jadian, harus terima resiko pacaran beberapa jam dengannya.
"ahh, pacaran serius kayak gitu kayak udah pasti dibawa kawin aja"
                Kata-kata tersebut sering terdengar dari mulut moan ketika beberapa orang sedang curhat seputar cinta dengannya. Hal itu dianggap sepele oleh moan, namun siapa sangka seorang Balerina akhirnya mengalihkan dunianya?
                Moan tak pernah cerita asal mula rajutan cinta itu bermula. Moan hanya menyebutkan bahwa Irfan merupakan pria idamannya, Moan tak peduli bahkan jika dunia mereka berdua sangat bertolak belakang. Namun dengan beberapa Curhatan moan pada Fany, Fany tau bahwa Moan mencintai Irfan dengan tulus. Irfan bukan orang yang spesial, namun kesederhanaan dan kejujurannya sudah cukup untuk mengalihkan dunia seorang master karate seperti Moan.
                Kisah cinta mereka tak berjalan lama, hanya 2 bulan. Namun sisa-sisa cinta mereka masih meninggalkan barang-barang yang seakan menjadikan cinta mereka tak akan pupus walaupun sudah tak yakin akan cinta yang akan selalu bersatu. Namun barang itu sengaja di titipkan ke Fany,beberapa hasil Photobox dengan beberapa pose so sweet pasangan muda sekarang, boneka teddy bear pink, sweater jingga, bahkan tarian yang dibuat Irfan untuk moan pun yang disimpan berupa keping dvd kini berpindah tangan kepada Fany.
                Moan janji akan mengambilnya suatu hari nanti, ia hanya butuh waktu. Bagi Moan sudah terlalu lewat untuknya mengistimewakan cinta. Menomor 100kan cinta lebih baik daripada menjadi hidup sebagai pengemis cinta.
                Namun Fany tau, ada banyak rasa cinta yang disimpan moan untuk Irfan. Hal ini terbukti oleh beberapa curhatan Moan yang masih disimpan oleh Fany. Fany tak anggap hal itu sebagai kemunafikan cinta. Moan hanya berusaha konsisten tentang prinsipnya.
                Dan tentu, orang kalem seperti irfan, mungkin tak akan berdaya dengan geng Sam dkk. Hanya sekumpulan anak-anak nakal yang suka tawuran. Bagi Moan maupun Fany Sam merupakan anak ter-kalem dalam geng itu. Namun yang paling kalem saja sudah seperti ini, kalau panggil anak buah bisa bonyok yang diserang.
                Sehingga rasa cinta itu bahkan sampai merelakan keselamatan sahabat sebangku Moan sendiri. Mungkin enteng bagi Sam mengancam Moan untuk hal itu, namun rasa cinta moan sepertinya tak membiarkan hal itu akan terjadi.
*-*-*
                "bzzzzzt" sebuah pesan masuk ke handphone Moan. Mood Moan tak mengizinkan dirinya untuk mengangkat pesan tersebut. Di dalam pikirannya sekarang hanya Irfan.
                "bzzzt" untuk kedua kalinya ada pesan masuk ke handphone Moan masih dengan mood yang sama, handphone tersebut kemudian menjadi seperti tak bertuan. Tak beranjak dari tempat asal.
                "bzzzt" kaliini sepertinya Moan cukup penasaran dan akhirnya membuka handphonenya.

                Pesan panjang dari Fany, 3x PING!!!
"ASTAGA!!!!!!!!" Moan kemudian terkejut dengan pesan yang didapatnya dari Fany.

To Be Continued…

Special Thx For Ria Rizky J


(oleh @iimamf)

Tuesday, 20 September 2011

Serpihan Rasa Itu


"Eh, Sam, ngapain lo disini? Lo ngekor kita bedua tadi?"
"ngapain tuh si Fany ama Indra beduaan? Pake pegangan tangan lagi"
"ya lo liat aja"
"An lo mending jauh dari sini deh, gue mau ada urusan sama si Fany"
"ogah ah gue udah janji, sama Fany bakal jagain dia kalo si Indra kenapa-napa"
"lo mau Irfan gue gebukin ?"
"eh, jangan!!"
"makanya lo jauh-jauh dari sini"
"Iya gue pergi, tapi gue Cuma minta 2 aja"
"apa?"
"pertama gue minta lo jagain Fany, gue takut temen gue di macem-macemin sama Indra"
"alah udah lahh gampang mahh itu"
"satu lagi !!, gue minta tolong lo jangan apa-apain Irfan ya"
"Kalo itu sih gampang, kalo lo nurut apa kata gue"
                Beberapa percakapan tersebut akhirnya menyebabkan menjauhnya Moan, dari tempat ia mengintai Fany. Dari posisi Moan tersebut akhirnya digantikan oleh Sam. Moan terpaksa menyerahkan Fany pada Sam, tentu saja dengan ancaman keselamatan Irfan menjadi ancaman Sam. Dengan langkah ragu, Moan meninggalkan sahabat sebangkunya itu. Rasa bersalah yang besar ada dalam hati Moan. Sementara itu Sam yang menggantikan posisi Moan akhirnya menguping pembicaraan Indra dan Fany.
"Fan, gue gak yakin buat ngomong ini" dengan posisi masih mengangkat tangan Fany
"to the point please !!"
"oke aku usaha berani buat bilang ini, gue suka sama lo, lo mau jadi pacar gue? Please, gue yakin bakal setia kok di singapur nanti, biarpun bakal long distace. Baru lo yang bikin gue kayak gini"
"Sorry, gue tolak, males gue liat cowok kayak lo" Fany akhirnya melepas tangannya dari indra dan bergegas kabur
                Langkah Fany semakin cepat, tanpa peduli Moan ada disitu apa tidak. Langkah kaki Fany menuju kerumahnya semakin cepat. Sam yang dari tadi menguping pembicaraan Fany dan Indra tentu saja cukup geram. Melihat Indra yang sendirian Sam rasa ini bisa jadi waktu yang tepat untuk memberikan pelajaran pada Indra. Sam akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya dan mengambil langkah seribu mendekati indra. Sembuah tonjokan melayang ke wajah Indra yang mengakibatkan terjatuhnya Indra. Tangan Sam menarik kerah seragam Indra.
"Lo dasar cowok anjing!!"
"sebentar, maksud lo apa ?"
"lo nembak Fany kan tadi, lo ngaku aja gue dengar lo ngomong apa aja" satu tonjokan lagi melayang ke wajah indra sampai hidungnya terlihat berdarah.
"Gue gak ngerti maksud lo apa?, so kenapa kalo gue nembak Fany?"
"Lo gausah dekatin Fany, sekali lagi lo nyentuh dia, lo mati tau gak !!!"
                Dengan luka lebam tersebut, indra hanya terdiam. Sam dengan amarahnya melepaskan cengkraman tamgannya di kerah Indra. Dan kemudian pergi meninggalkannya sendiri.
*-*-*-*
"Fan, sorry tadi lo gue tinggal, bokap gue nelfon nyuruh gue cepet pulang"
                Pesan tersebut masuk dalam Chat List Handphone Fany. Tentu dari Moan, Fany baru sadar meninggalkan Moan disitu. Namun dengan pesan yang dikirim Moan padanya akhirnya membuat Fany lega. Namun yang sekarang menjadi beban pikiran Fany adalah apakah sikapnya tadi pada Indra tidak kelewatan? Wajah kecewa berat memang muncul di wajah Indra, But who's care ?. Bagi Fany, hal seperti itu jangan dijadikan beban pikiran.
To Be Continued…

Special for Samara Astarina J GBU sist 


(oleh @iimamf)

Surat Dari Indra


Dear Tiffany
                Sebelumnyague mau ngucapin Happy Valentine, senang bisa liat lo senyum setiap pagi.Lo udah tau gue kan ? Indra, dari kelas XII IPS.
                Di hari-hari terakhir gue di indo gue mau minta tolong sesuatu ke lo. Temuin gue tanggal 16 february di danau dekat sekolah. Gue minta tolong, tolong banget, bentar lagi gue mau pindah ke singapur jadi lo bisa ya dateng. Gue gak mau macem-macem sama lo, kalo gak yakin silahkan bawa temen lo, tapi jangan gerombolan ya.
                Gue minta tolong,banget.
Indra
*nb : ingat foto kita berdua di pantai waktu itu ?

"Damn!!! Indra !, moan lo kok gaktau sih di meja gue ada ginian dari hari gue pingsan ?"
"yee emang berani bayar berapa lo gue mau bersihin laci bau gitu ?"
"yakan paling kagak ngintip lah ada apa aja dalem sini"
"Demi apa Fan ?"
"Demi, si Irfan yang lagi les balet " sambil menjulurkan lidahnya tanda mengejek Moan.
"eh sialan lo, gitu-gitu setia men"
"eh udah deh ini gimana? Dia pake ngancem mau macem-macemin foto gue sama dia yang pas gue lagi pake bikini doang lagi"
"eh serius lo pake bikini full ?"
"bawahnya gue pake jeans lah, lo mau gue diperkosa ditempat ? lagian itu juga waktu gue ketemu dia di pantai waktu gue lagi liburan ama ortu gue"
"siapa suruh, salah lo sendiri mau foto ama dia, pake bikini lagi"
"yang ngambil foto bokapnya dia an!!! Gue mah terpaksa senyum"
"yaudah datengin aja dianya, gue ikut deh"
"yaudah, lo jagain gue ya, lo kan udah sabuk hitam, kalo dia macem-macem, tendang aja perutnya, jangan ragu-ragu"
"jangankan perutnya, burungnya aja gue bakal tendang kalo ada yang macem-macemin elu"
"okedeh, sip"
                Meski wajahnya tersenyum, Fany masih resah dengan apa yang akan Indra lakukan padanya. Fany merasa ia dikelilingi banyak pria bajingan yang akhirnya dengan munafiknya menyatakan cinta mereka pada Fany. Tentang Sam yang kemudian jadi semakin gombal dengannya, dan Indra yang punya kartu as yang sudah menjadikan Fany seperti orang yang serba salah dan tak berdaya.
                Bagi Fany, mereka sama saja. Cinta yang membuahkan pikiran licik para pria tersebut. Sebenarnya Fany sendiri sudah muak dengan tingkah laki-laki yang seperti ini. Namun, apa daya? Spesies yang seperti mereka sekarang banyak jenisnya. Fany hanya bisa menolak apapun cara mereka berusaha melabuhkan hati pada Fany.

-*-*-
                Bel pertanda pulang akhirnya berbunyi, seisi kelas berhamburan pergi keluar. Guru di jam pelajaran ini sepertinya hanya pasrah melihat tuntutan tugas yang akhirnya dijadikan tugas rumah. Fany akhirnya semakin Resah, apa yang akan terjadi padanya nanti. Bagaimana jika Moan tidak akan berdaya melawan tubuh indra yang besar tersebut. Surat ini sudah lama Fany tinggalkan dan tidak banyak waktu Fany untuk berfikir, jika saja surat ini sudah dibacanya, mungkin Fany sudah berusaha mati-matian ngomelin Indra di depan umum, dan tentunya dengan bonus tamparan.
"Gimana  sist ? udah siap ?"
"gue takut An"
"gapapa ada gue kok, lo mau cowok badannya sebesar gentong apa aja gue lawan"
"jagain gue ya an, gue takut, kalo bukan gara-gara foto itu juga gue gak bakal mau kok"
"gapapa sist, habis tu cowok kalo ngapa-ngapain lo"

                Sesampainya di danau tersebut, terlihat indra dengan santai duduk sendiri. Siapa lagi kalau bukan Fany yang ia tunggu ?. Kulit Indra yang kecoklatan dan tubuh yang besar lumayan kekar, yang dengan gaya bahasanya yang "Made in Medan" cukup kental itu bersandar  pada sebuah pohon, yang tumben sepi jam segini. Sementara Moan mengawasi dari Jauh, Fany datang sendiri ke hadapan indra dengan Nyali yang cukup besar.
"Ndra, ngapain lo manggil gue kesini ?"
"Eh Fany, gue kira gak dateng"
"udah deh to the point aja"
"sabar lahh, santai aja, gue disini gak mau macem-macem kok"
"terus?"
"jadi, sebelum gue ninggalin indo , gue mau bilang sesuatu"
"bilang apa ?"
"sebenarnya sudah lama gue mau bilang ini, terserah lo mau ngartiinnya gimana" sambil mengangkat kedua tangan Fany secara perlahan, Indra berkata kecil
                Melihat tangan Fany sudah di sentuh, Moan dengan sigapnya menyediakan sebatang balok dan menyiapkan beberapa jurus yang akan ia pakai untuk membanting Indra. Namun dari belakang Moan seseorang menyentuh pundak Moan.
To Be Continued…

Special thx buat Arta, Yayat, dll yg udah buat gue ngakak tiap hari sampe six pack hehe. GBU all guyz J


(oleh @iimamf)


Sunday, 18 September 2011

Ada yang Terlewat

 "Gue gak ada apa-apa sama dia"
"Terus tadi lo jalan bareng ?"
"Dia nekat jemput gue di depan rumah, pake ngancam mau Ngelamar gue lagi?"
"terus lo percaya"
"ya sapa tau aja dianya nekat"
"gak mungkin lah Fan, ntar kalo lo ama dia keburu kawin anak lo mau dikasi apa ?"
"Amit-amit an lo kok doainnya gitu sih ?"
"ya, kan gue bilangnya Kalo, kalo lo mau gapapa sih kita enak-enakan masa kuliah lo udah gendong anaknya Sam sambil masak di dapur"
"anjir lo makin parah aja sih doainnya, bantuin gue dong nih gue gak suka si Sam jadi sok gombal gitu"
"haha mau diapain lagi coba? Kan udah janjinya dia"
                Bel tanda masuk kemudian berbunyi, kedua manusia yang tadi sibuk berbincang di depan pintu kelas saat itu akhirnya beranjak menuju meja mereka yang bersebelahan. Yap kaliini pelajaran Bu Sur, seisi kelas kemudian membeludak masuk jika tak mau dapat masalah dari guru killer tersebut. Tak berbeda dengan murid lainnya, Fany dan Moan juga gelagapan mempercepat langkah mereka ketika mengetahui bu Sur datang.
"good morning children, buka daily activities 4 tukar dengan teman sebangku, hariini saya akan ambil nilai tugas dari PR yang saya sudah berikan kemaren"
                Jantung Fany serasa mau copot, mana dia tau selama dia pingsan ada PR. Biarpun sudah memberi pembelaan kalau dia jatuh pingsan tak sadarkan diri. Tetap saja ada space satu hari yang tidak bisa di Toleril untuk Bu Sur. Andai saja Sam melakukan hal yang lebih penting waktu itu seperti mengerjakan tugas Fany daripada menunggu Fany bangun tapi tak berbuat apapun.
"Fany, sudah mengerjakan tugas  ?"
"b.. be belum bu, kemaren lusa kan saya pingsan terus di RS ampe malem"
"terus bukannya kemaren sekolah diliburkan? Harusnya anda punya inisiatif dong untuk mengerjakan. Kalau pun anda anak yang rajin sudah pasti tadi malam sudah mengerjakan tugas ini dirumah"
                Fany terdiam, apapun pembelaan yang keluar dari mulut Fany sudah pasti akan memperburuk keadaan. Tentunya Fany tak mau dibawa ke ruang BP bahkan karena masalah ini. Jadi Fany terpaksa untuk tetap diam dan mengalah. Ceramah tersebut Rupanya masih di teruskan oleh Bu Sur, harapan Fany hanya ceramah yang keluar dari mulut Bu Sur ini segera berakhir. Beberapa menit kemudian sebuah pertanyaan melayang lagi dari mulut Bu Sur.
"ada lagi yang belum mengerjakan?"
                Seisi kelas dikejutkan dengan seorang Sam yang mengangkat tangan kala itu. Tentunya bagi seorang murid yang berani mengakui kesalahannya di depan Bu Sur secara blak-blakan adalah "sesuatu" yang cukup memicu adrenalin.
"saya bu, saya lupa ngerjain"
"kalian berdua, kerjakan tugas diluar sampe pelajaran saya selesai"
                 Sampailah kedua anak manusia ini di lorong kelas, wajah kesal dari Fany tak dapat terhindarkan. Emosi , malu , sampai bingung bercampur jadi satu dalam benak Fany. Kenapa Sam harus mengaku? Padahal biasanya dia juga kerja sama sama teman-teman disampingnya ?. Apa dia mau cari kesempatan lagi?
"ngapapin lo ngaku gak ngerjain ?"
"lohh? Harigini men masih bohong ? gimana negara kita mau maju? Ya nggak? CANTIK "
"udah cukup gue gasuka di panggil gitu meng, plis gue gak nyaman ama panggilan lo yang itu"
"terserah gue dong, pokoknya sekarang gue penggil lo gitu ya lo harus terima, emang gue ada marah lo manggil gue komeng ? enggak kan ?"
"terserah, yang jelas sekarang lo ngerjain dekat tangga, dan gue di sini, jangan dekat-dekat! Ngerti"
"oke cantik"
                Sampai akhirnya masa hukuman berakhir mereka berdua akhirnya diperbolehkan masuk kelas. Wajah Fany terlihat campur aduk ketika menuju mejanya yang terletak persis sebangku dengan Moan. Sementara Sam, terlihat stay cool dengan teman-temannya dibelakang.
"cieh, so sweet banget yah tadi diluar, cerita dooong"
"So sweet pala lo peang tersiksa batin gue diluar!!"
"wess nyantai Fan, gue tau kok dari liat muka lo"
"yaudah gausah nanya lagi, udah ahh gue pusing baru masuk aja udah kayagini"
"haha eh ada sisir gak ?"
"bentar gue cari, kemaren gue dirumah juga nyari, kayaknya ketinggalan di laci nihh"
                Fany kemudian meraba laci mejanya yang sudah ia tinggal 2 hari tersebut. Terasa ada sesuatu di dalam sana. Dua hari terakhir tak mungkin ada sampah di lacinya, lantas apa yang ia raba ini ? seperti ketas, dan…
"surat apa nih?"
"eh?"
                Sebuah amplop surat merah jambu, dengan bertuliskan "To : Tiffany Olivia" tersisip diantara gelapnya laci meja Fany. Terkejut sudah pasti, namun siapa pengirimnya? apakah Sam lagi? Sepertinya bukan. Amplop ini tak se sederhana yang diberikan Sam kemarin, terkesan lebih spesial dan tulisan "To : Tiffany Olivia" tersebut di tulis tangan, dan bukan seperti tulisan cakar badak Sam. Lantas siapa?

To Be Continued…


(oleh @iimamf)

Saturday, 17 September 2011

Drastis

                Pagi mulai pancarkan sinarnya, hariini sepertinya gerimis. Tak selebat saat kejadian saat itu. Fany dengan wajah masih kusut dan rambut acak-acakan dan masih bersembunyi dibalik selimut tebalnya, asik mengutak-atik handphone melihat pesan yang masuk. Namun ada satu unknown number yang mengirim pesan singkat padanya. Isinya mungkin sedikit buat ngeh kalau dibaca pagi-pagi, apalagi jika sang pengirim tidak menyebut dirinya siapa.
"Pagi cantik, kujemput ya"
                Pesan tersebut menghiasi inbox Fany pagi ini. Fany dengan acuh melempar handphonenya ke atas ranjang dan segera mandi.
"paling fans"
                Setelah siap dengan seragam dan tentunya penataan rambut yang sesuai dan payung Biru muda yang biasa ia bawa saat hujan akhirnya ia keluar dari rumah. Sepertinya ayah dan ibunya sudah pergi duluan sehingga rumah benar-benar tanpa penghuni. Beberapa langkah menuju pagar rumahnya sesuatu terjadi. Terlihat Sam dengan gaya cool nya bersandar diluar pagar membawakan payung untuk Fany.
"pagi cantik, udah siap berangkat?"
                Fany terkejut dan kembali ke teras rumahnya, apa yang terjadi ? jadi sms tadi pagi dari Sam? inikah janji dari Sam kemarin di dalam suratnya?. Kemudian ada pesan masuk ke handphone Fany.
"please, gue mau buktikan kalau isi surat gue kemaren bukan omong kosong"
                Fany bingung, apa yang harus ia lakukan? Bolos sekolah ? atau manjat pagar dibelakang? Kemudian terdengar suara dari arah pagar.
"Fany kalo lo kalo gamau keluar gue bakal dateng lagi nanti malam ngelamar lo! Gue gapeduli bokap nyokap lo bilang apa"
                Kontan Fany langsung keluar pagar, dan menghentikan teriakan Sam. Rupanya ancaman Sam berhasil kaliini. Fany langsung menghentikan aksi nekat Sam dengan memaksanya turun.
"sial lo meng ! diem lo!, apa kata tetangga ntar ?"
"makanya lo berangkat bareng gue, biar gue yang bawain payung lo, oke cantik"
"gombal banget, gue tampar lagi nih" sambil tangan Fany ambil posisi
"Tampar lagi cantik, aku rela kok, aku ikhlas"
"yaudah mana payungnya sini ihh, dasar cowok brengsek"
"oke cantik"
                Gerimis semakin menderas, Fany memakai payung yang dibawakan Sam untuknya. Sementara Sam, rela basah kuyup mengikuti Fany dari belakang. Sebenarnya payung Biru muda itu masih ada di dalam tas Fany, tapi siapa peduli ?
                Sesekali mereka berdua berjalan beriringan tapi Fany kemudian marah dan menyuruh Sam berjalan agak jauh darinya. Fany tak mau kemudian ada gosip lagi di sekolah karena sikap sam yang seperti ini. Tampak wajah Sam yang sabar mendampingi Tiffany dari belakang.
"nanti pulang bareng lagi ya cantik"
"udah gausah manggil gue cantik! Jijik! "
"Pilih cantik atau gue panggil sayang"
                Satu tamparan lagi melayang pipi sam, namun hal tersebut tak melunturkan semangat merah jambu Sam untuk menunjukkan bahwa permohonan maaf pada Fany. Bagi Sam semua butuh perjuangan, tentunya untuk mendapat maaf dari gadis seganas Fany.
"langgeng ya Fan" Moan kemudian menepuk pundak Fany dari belakang.
"eh, bukan an, bukan, itu cowok emang kurang ajar" Sangkal Fany
"udah deh tinggal tunggu waktu aja, iya gak sist" Mata Moan berkedip kearah Fany
"tapi … ta ta pi "


- (oleh @iimamf)

Friday, 16 September 2011

Janji Itu

                Ibu Fany tampak heran melihat kelakuan putrinya yang gelagapan menghubungi temannya, tampaknya wajanya memaklumi jika hal ini merupakan urusan anak muda. Fany pun berlari kembali ke kamar agar percakapannya tak didengar oleh orangtuanya.

"Moan ini maksud lo apa sih ? Ini surat lo kasih ke nyukap gue ngakunya ucapan cepat sembuh, taunya dari cowok brengsek satu itu"
"Sabar Fan, lo kayak kebakaran jenggot aja, tar sore deh gue jemput lo, kita ke Kafe kayak biasa gue sama lo aja oke, kita cerita masalah itu"
"Kenapa gak sekarang aja sih lo cerita?"
"Ga bisa ini gue lagi jagain sepupu gue, oke ampe nanti ya Fan…"
                Tampaknya telepon diputus oleh Moan, hal itu tentunya membuat rasa penasaran Fany semakin membeludak. Tak mungkin sekarang Fany menghubungi Sam, apa katanya nanti?. Lagipula Fany tak tahu seluk beluk rinci Sam, menyimpan nomor Sam saja ogah, apalagi sampai meneleponnya. Rasanya sudah tertanam benci yang dalam pada Fany untuk Moan. Tapi siapa tau saja yang kemaren bukan akting? Fany tak pernah melihat Sam seperti itu. Wajahnya serius, jarang sekali menampakkan gaya cool nya seperti itu di depan anak perempuan. "So, am I special for him?" pertanyaan itu akhirnya muncul dalam pikiran Fany. Pertanyaan yang bahkan terlalu ngeh untuk dipikirkan apalagi diucapkan.
                ---
                Fany sudah siap dengan segala sesuatu karena ada janji sore ini dengan Moan. Selain cantik tentunya Fany juga modis, gayanya tak terlalu feminin, namun netral-netral saja. Kalau sudah seperti ini siapa pria yang tak tertarik padanya.
                "tiing toooong" bel rumah berbunyi, Fany yang daritadi duduk di kursi tamu melihat Moan di luar pintu. Tanpa basa-basi gadis itu akhirnya keluar.
"Udah siap lo?"
"Udah ayo cabut"
                Sesampainya di kafe tersebut mereka memulai berbincang hebat, Fany tampak sangat malu-malu jika membahas masalah Sam. Mengucap namanya saja sudah membuat Fany tidak enak.
"Cerita dong, itu kenapa suratnya ampe lo yang bawa, gue yakin Sam yang nulis, tulisan kayak muka badut gitu udah pasti punya sam kan"
"Emang sam kok yang nulis"
"Lah terus kenapa jadi lo yang ngasih ke ortu gue?"
"Fan, gue yakin lo gak mungkin benci segitunya sama Sam jadi gue cuma mau bantu dia minta maaf, ke elu"
"Lo tau rasanya an kepala nyentuh lantai kelas gak? Tau ? tau gimana rasanya hampir mau mati?"
"Iya gue tau lo pasti bakal ngomong gitu, tapi kasi kesempatan lah buat Sam. Itu surat dikasi Jerry ke gue, dia minta tolong nitip ke gue buat ngasih ke elu, katanya si Jerry si Sam langsung mabok di kamarnya gara-gara stress abis nulis itu surat"
"Hah ? Si Sam ampe segitunya?"
"Udah lah lo maafin aja si Sam, kasian dia"
"Ogah ahh, gue pokoknya mau liat janjinya dia di surat itu mau ngerubah sikapnya dia ke gue dulu baru gue maafin"
                Fany yang kala itu sedang emosi akhirnya meninggalkan Moan sendiri di kafe tersebut. Moan tak habis pikir, sebenarnya siapa yang salah? Apakah Sam yang keterlaluan ataukah Fany yang terlalu emosian.
To Be Continued…

Karena cinta, kau beri padaku sepenuhnya
buatku merasa sangat berarti J


- (oleh @iimamf)

Thursday, 15 September 2011

Semangat Merah Jambu: Amplop Biru Muda

Semangat Merah Jambu
#4
Amplop Biru Muda
                Setelah boleh dipulangkan karena hanya menderita luka ringan, Fany akhirnya pulang dijemput orangtuanya. Tak sepatah katapun yang Fany ceritakan pada ayah dan ibunya ketika di mobil. Terkadang Fany menangis kecil, dan menjawab singkat beberapa pertanyaan orangtuanya. Hanya Sam yang membuat Fany menyesal telah melayangkan Tangan Halusnya pada pipi Sam. "Kenapa hal yang kulakukan pertamakali harus menamparnya" pertanyaan itu begitu jelas melayang dalam benak Fany. Wajah Sam begitu tak bersalah disitu, namun karena apalagi Fany terpeleset kalau bukan gara-gara ingin menampar Sam ?. Bukankah setiap hari sam selalu berbuat jahil padanya? Kenapa ? kenapa?. Beberapa pertanyaan melayang memenuhi otak Fany.
                Sam bisa dibilang anak yang populer di sekolah. Belum lagi karena permainan sepak bolanya sudah cukup membuat anak-anak perempuan menjerit keras. Beberapa sahabat Fany juga banyak yang naksir dengan si "komeng," demikian olokan dari Fany untuk Sam. Fany tak begitu tertarik dengan Sam, hanya saja sepertinya Fany membaca kemunafikan cinta dalam diri Sam. Namun sudah cukup dengan semua yang telah Sam lakukan pada Fany, Sam sepertinya sudah masuk daftar orang paling di benci versi Tiffany Olivia.
"Fany cepet sembuh ya" "Fany GWS ya" "Fany jaga kesehatan ya" begitu banyak pesan masuk di daftar Chat di handphone Fany, namun mungkin sedang bad mood karena kejadian tadi pagi, pesan-pesan tsb hanya di balas oleh sebuah brodcast message oleh Fany.
"thx all GBU J aku sudah baikan kok, jangan ganggu dulu ya "
                Suasana kamar yang sepi akhirnya membuatnya memikirkan kejadian tadi, bagaimana bisa? Musuh bebuyutan seperti komeng menunggunya sepenuh hati selama ia tak sadarkan diri? Sambil menggenggam mesra tangan Fany. Orang yang hampir membunuhnya, kenapa bisa ?
                Mungkin karena terlalu lelah, Fany akhirnya tertidur dalam penyesalannya. Penyesalan yang dalam karena telah melayangkan tangan ke wajah Sam.
                Dalam mimpi Fany melihat seorang pria menunggunya disebuah bangku taman. Hanya mereka berdua disitu, langkah demi langkah dilalui Fany menuju bangku tersebut. Di depannyahanya ada sebuah pot bunga dengan bunga yang masih menguncup. Laki-laki itu semakin jelas terlihat wajahnya, seperti tak asing. Tiba-tiba pria itu menoleh, dan ya! Itu Sam .
                Fany terbangun dari mimpinya, rupanya sudah pagi, untung saja hariini sekolah diliburkan. Sepertinya, beban sedikit demi sedikit hilang dari kepala Fany. Seperti biasa handphone adalah hal yang dipegang olehnya setiap pagi. Namun ada yang menarik di atas meja belajar Fany. Seikat mawar merah dan surat dengan amplop berwarna biru muda, warna kesukaan Fany.

Dear Fany
                Sebelum kamu robek surat ini, aku harap kamu hargain sedikit untuk baca tulisanku.
Singkat saja, aku mau minta maaf atas semua kejadianku kemaren, aku khilaf, dengan sedikit merubah sikapku untukmu mungkin saja aku bisa menunjukkan rasa maafku. Akan ku buktikan besok.
Sam

                Surat singkat tersebut membuatnya hening seketika. Nasib surat itu sudah pasti lebih buruk dari surat abang tukang sate yang tentunya tak sampai membuat Fany hampir mati. Hanya saja pernyataan Sam untuk berubah menjadi tanda tanya besar pada Fany. Kejadian kemarin dirasa Fany tak mungkin merubah seorang musuh bebuyutannya berubah 180 derajat.
"lo kira dengan muka sedih sok cool kayak di FTV kemaren bisa buat gue melting gitu? NEVER!!!"
                Demikian rasa bersalah Fany pada sam seakan menghilang total dan akhirnya merobek surat itu, dan mawar tersebut tetap terpajang dalam kamarnya hanya saja dalam tempat sampah di sudut kamar Fany.
"maa…paaa… itu surat sama bunga kok bisa di meja aku?" sambil melangkah ke arah meja makan.
"Dari Moan, ucapan cepat sembuh katanya, tadi malam dia datang tapi kamu sudah tidur, dia gak mau ganggu jadinya Cuma nitip surat itu" kata ibu Fany sambil sibuk memasak sarapan.
"Moan ma ? serius?"
"ngapain mama bohong Fan ?"
                Dengan sigap Fany mengambil telfon genggamnya dan segera menghubungi Moan, apa yang terjadi dengan teman sebangkunya itu ? tulisan itu sudah jelas tulisan cakar ayam Sam, tapi kenapa Moan ?....
To Be Continued…

Wish you were here

 (oleh @iimamf - http://comotmencomot.wordpress.com)