Warung Bebas
Showing posts with label Selarik Rindu. Show all posts
Showing posts with label Selarik Rindu. Show all posts

Thursday, 15 September 2011

Selarik Rindu: Seseorang-Yang-Gak-Boleh-Disebut-Namanya #4

Shafa
                "Aku rindu..." Kataku dengan isak tangis di kamar mandi dengan sedu-sedu. Ku rasakan airmata juga membasahi hape yang ku tempelkan ke telinga. Suara bising terdengar lebih jelas dari suara pria yang sedang ku ajak bicara. Dia, seseorang-yang-gak-boleh-disebut-namanya".
            "Aku lagi di jalan Shafa, nanti aku telpon balik" serunya dengan suara yang keras dan terdengar agak kasar di telingaku.. Tangisku makin sedu. Rindu sudah kelewat terlalu di hatiku, tapi tidak di hatinya. Aku enggan mematikan telpon ku.
            "Aku mau ketemu, sekarang"
            "Apa? Aku gak denger"
            Dengan melantangkan suara ku, aku mengulang kalimat ku "Aku mau bertemu, sekarang!"
            Ada erangan dari mulutnya, "Kamu belum berubah..masih sama kaya dulu. Coba kamu liat, jam berapa sekarang?" tanyanya. Kini sudah tidak terdengar lagi suara bising.
            "Rindu ku sudah gak bisa menunggu lagi, penawarnya cuma kamu, bertemu kamu..." isakku makin keras. Aku jatuh bersender di tembok berubin kuning kamar mandi. Celana pendek ku basah terkena basah lantai kamar mandi. Ia diam. "Kenapa rindu tidak melewati hatimu? Kenapa rindu cuma tinggal di hatiku saja, kenapa?!" nada suara ku naik.
            Nafas nya terdengar panjang. "Hhhh...oke. Kamu dimana? Aku jemput kamu sekarang juga" terdengar gerungan suara gas motor yang baru saja dinyalakan kembali. Tangisku reda.

Seseorang-yang-gak-boleh-disebut-namanya
            Aku sudah sampai di depan rumah sahabat mantan kekasihku, ketika ku lihat ia sudah menunggu ku di depan terasnya. Pintu pagar sudah terbuka, dan aku tinggal memarkirkan motorku didalam rumahnya. Ku lepas helm berwarna putih kesayangan ku, yang juga helm kesayangannya. Mata kami bertemu, dan aku sudah tidak merasakan rasa seperti yang dulu mencintainya dengan terlalu. Menggebu. Tapi Shafa, adalah gadis manja yang selalu ku rindu derai manja nya. Paras wajah yang seringnya merah merona. Dia gadis terlucu yang pernah singgah di hatiku. Aku mencintainya, dulu.
            Ada bekas airmata di kerut sudut matanya. Aku hapal betul kerut yang selalu nampak jika ia sedang gelisah. Dan saat itu juga rindu menyergap aku dalam tatap matanya yang seolah lemah.
            "Aku gak bisa, Cha.." ucapku saat ia mulai menggelayuti ku manja. Aku mulai memanggilnya Chaca seperti teman-temannya. Aku ingin mebiasakan dia menganggapku kembali teman seperti sedia kala sebelum ada cerita cinta antara kami.
            Entah apa yang buat aku mati rasa. Keegoisannya. Kecemburu butaannya. Entah, semua indah hilang. Begitu tergantikan dengan seseorang yang sedari dulu tidak kusadari adanya, Rani. Kini aku sedang jatuh bangun mengejarnya untuk dapat ku raih.


- (oleh @PenaAwan - penandilaga.tumblr.com)

Selarik Rindu: Lima Bintang

Lima Bintang
Aku mau menunggu biar sampai gigil jari kuku ku, aku mau menunggu. Biar cinta yang mengalahkan rindu, bukan sebaliknya. Aku mau kali ini cinta yang menang sebagai kita, bukan sebagai aku atau bukan sebagai dia. Aku mau menunggu sampai tak berbatas waktu, karena kata, bila Tuhan sudah punya mau menyatukan aku dan dia tidak akan selama membalikkan telapak tangan.
"Aku mau menunggu, karena aku tau sesuatu yang indah itu tidak akan selesai hanya dalam satu waktu. Aku mau menunggu seperti elang gundul yang tak akan berpaling sampai pasangannya dijemput mati. Aku mau menunggu seperti tangkai yang setia menunggu bunga mekar. Sebesar itu rasa ku padamu.."
Kalimat itu jatuh dengan mata yang berkaca-kaca. Aku mau dia tidak jadi ragu dan menganggapku tidak sanggup. Aku mau dia tidak jadi ingin ditunggu olehku. Sekuat tenaga aku menahan bulir airmata yang sudah mengkilat-mengkilat di mata. Akhir desember yang ceria.
***
Tahun baru tinggal esok, Shafa yang tengah menjahit hati nya menggunakan mimpi sebagai benang tengah asik menjejalkan perasaan cinta yang ia miliki saat ini pada ku.
"Jadi, lo udah ngelupain si 'seseorang-yang-gak-boleh-disebut-namanya' itu? " tanya ku. Raut muka Shafa berubah dari merah merona, menjadi merah padam. Dia menatapku lekat. "Gue pengen lo balik sama dia deh, kalian berdua tuh cuma lagi dalam tahap cobaan tau gak, kalian pasti bisa ngelewatin ini kalo kalian mau.." cerocos ku terus tanpa mempedulikan raut muka marah Shafa.
Shafa bungkam, diam. Ia berbaring di sampingku yang juga tengah berbaring di atap rumah ku. Pandangannya lurus ke malam gelap yang hanya berhiaskan lima bintang dengan tanpa alas di kepala-kepala kami. Aku memiringkan wajahku untuk mengamati wajah nya.
"Dia tetap bintang di hati gue, yang cuma gue dapat rasakan hadirnya kala malam kemudian hilang sementara kala siang. Tetap dia bintang terbesar gue, walau jauh, tapi bintang tetaplah bintang. Dia punya cahaya sendiri buat gue."
Aku lihat matanya lekat menatap bintang yang berkelap-kelip diatas awan hitam yang terlihat mendung. Hujan duluan di mata Shafa. Ku lihat segaris airmata turun dari sudut matanya. "Pejamkan mata lo, rindu mungkin akan cepat sampai pada nya.." kataku mencoba menghibur dirinya. Ia memalingkan wajah ke arahku. Kami berdua bertatapan. Selama lima tahun bersahabatan dengannya, aku hapal betul kerut yang ada di sudut matanya yang berarti menandakan kegusaran hatinya yang dalam. Aku menatapnya lekat-lekat, mencoba menelusuk dalam hatinya bahwa ia akan baik-baik saja. Segaris airmata nya turun kembali tepat sebelum Shafa kembali menatap ke langit hitam diatas sana dan memejamkan matanya. Pukul 00.00, kembang api warna-warni mencacah langit meninggalkan asap putih yang meliuk-liuk liar seolah menyelimuti bintang-bintang. Aku turut memejam mata, entah untuk alasan apa.


- (oleh @PenaAwan - penandilaga.tumblr.com)