Warung Bebas
Showing posts with label Rekam Imaji. Show all posts
Showing posts with label Rekam Imaji. Show all posts

Wednesday, 28 September 2011

Rekam Imaji #13

Dua wajah, dua pasang mata, dua rupa dalam satu akar berupa rindu.  Tak lagi terombang-ambing dalam
lajur waktu dan sekelumit aksara ambigu atau saling adu bias abstrak. Selisih temu oleh waktu, bukan maksud mempermainkan rindu, tapi waktu tengah meramu masa, menguji nyali hingga tiba temu.

Jogja, Februari

Pelangi memandangi sepanjang jalan sementara bapak pengayuh becak asyik bercerita tentang tiap sudut Jogja yang katanya menjadi saksi atas pertemuannya dengan sang istri, bagaimana mereka meramu rasa hingga akhirnya menghasilkan buah hati yang kini beranjak dewasa. Juga bagaimana kecintaannya dengan becak hingga ketika si anak memintanya diam beristirahat di rumah, ia tetap mengayuhkan pedal becak.
Sampai pada persimpangan jalan, si bapak menghentikan laju becak mengikuti semua kendaraan yang juga menghentikan laju lantaran lampu lalu lintas memerah. Cuaca memang panas kala itu, tapi Pelangi menyukainya, bahkan ia menyebut dirinya wanita musim panas. Tanpa atap becak ia membiarkan paas
matahari perlahan semakin menggelapkan kulitnya yang berwarna kuning, tapi kini sudah berubah menjadi kecoklatan.
Sebuah becak juga ikut berhenti disebelah Pelangi. Suara ramai bapak pengayuh becak saling sapa. Pelangi menoleh...lama terdiam sampai akhirnya di bibirnya terlukis senyum.

Bumi menyandarkan punggungnya, ia merapatkan topi ala Cowboy-nya juga membenahkan kaca mata hitamnya, menghalau terik matahari.
Kulitnya menjadi semakin legam selama ia singgah di Jogja. Sesekali ia menimpali celoteh bapak pengayuh becak mengenai sejarah nama-nama jalan di Jogja, sesekali juga terkekeh mendengar gurauan si bapak.
Becak kemudian berhenti ketika lampu lalu lintas berpindah ke merah, berhenti tepat di sebelah sebuah becak yang ditumpangi seorang perempuan.
Bumi sibuk menata hatinya ketika perempuan itu menoleh, kemudian mengukir senyum...
Keduanya saling tatap, bahkan ketika kedua becak yang mereka tumpangi melaju beda arah. Keduanya menikmati temu yang hanya sebatas senyum itu. Temu yang walau hanya beberapa menit mampu menyalakan percik rasa yang tengah mereka telusuri kebenarannya. Sampai ketika dua pasang mata sudah tidak
bisa lagi saling tatap, keduanya tertawa kecil, membuat sipu memerah di pipi. Bumi mengeluarkan kotak kayu dari dalam sakunya, membuka kotak kemudian memperhatikan dua pasang cincin kayu di dalamnya.
"Wah, mas...sampean mau melamar kekasih?" Tanya bapak pengayuh becak.
Bumi menoleh, "mungkin...saya menunggu waktu menciptakan temu."
"Walah mas....kalau menunggu waktu sih keburu disamber orang! Harusnya temu itu kita ciptakan sendiri!" Seru si bapak jujur.
Ucapan jujur dan polos dari seorang pria tua yang pastinya sudah paham betul tentang rasa, waktu, temu dan nyali. Ucapan yang sepertinya menyadarkannya, anak muda yang terlalu bergantung dengan banyak hal,
sampai-sampai untuk membuktikan nyali dan rasa saja harus bergantung dengan waktu dan temu.
"Mau mengikuti pepatah 'mengalir seperti air sungai?'"
Bumi hanya tersenyum malu, "mana kita tahu ke mana air sungai akan bermuara mas?"
Bumi terdiam, ia kembali memandang sepasang cincin kayu. 

Sudah ku bilang, aku adalah ratu yang menguncup di antara ilalang,
jelang senja yang menjadikanku kekasih...
kemudian ketika jingga memerah layang-layang singgah di antara bumi dan langit,
terombang-ambing semilir...
seperti rindu yang selalu ku pintal atas namamu...

Jajaran ilalang menari-nari lantaran tiupan semilir angin menyerukan nyanyian jelang senja. Jemari Pelangi menjelajah bersamanya, sambil sesekali ilalang merayu memintanya tinggal dan ikut menari bersama.
Di sudut lain Bumi tengah menikmati sisa letupan setelah pertemuan tak terduga barusan. Bibirnya terus mengukir senyum. Kakinya terus melangkah tanpa tahu tujuan. Padang ilalang...ini menjadi tempat di mana tiap sudut seperti mengingatkannya pada sosok Pelangi. Ah...saat ini saja ia serasa tengah mencumbu aroma manis dari tubuh Pelangi, sesekali mencumbui ingatan lalu.
Jarak yang begitu sempit di antara keduanya tapi tak seorangpun yang menuruti nafsu yang menggebu. Mencicipi tiap remah dalam temu yang hanya sesekali, tanpa kata ataupun aksara, hanya saling tatap mata. Rasa itu, biar bisa dinikmati keduanya saja. Temu itu nantinya akan membawa Bumi dan Pelangi kembali pada pilihan, menentukan apakah rasa akan terus membawa pada kebersamaan? Apa nantinya kebersamaan akan tetap diiringi rindu? Apa dengan bersama dengan rasa akan memupuk nyali di antara keduanya?
Bumi menarik napas panjang, langkahnya sedikit dipercepat.
Kemudian ia berdehem pelan, membuat sosok perempuan di sampingnya terkejut.
Kemudian keduanya saling tatap dan melempar senyum.
"Ketika waktu sudah mempersempit jarak, sekarang bagaimana caranya agar waktu menciptakan temu?"
Keduanya menyusuri ilalang, seolah temu tak tercipta dengan hamparan ilalang menguning sebagai jarak, ketika senja menciptakan masa. Di ujung sana, akan ada dua persimpangan...
"Bukan waktu, tapi kamu...".
"Lalu, kamu mau berapa banyak temu?"
"Bagaimana kalau tiap rindu? Tiap aksara yang mengakar pada namamu, tiap resah yang ku dendang untukmu, tiap jarak yang mengekori lajur waktumu, tiap detik yang ku sepuh dalam imaji atasmu?"
Bumi diam kemudian terkekeh, "bagaimana kalau kita pinang saja waktu?"
Kini giliran Pelangi yang tersipu. Semoga Bumi tidak menemukan wajah malunya, "boleh...siapkan saja nyalimu, maka akan ku matangkan rasaku".
"Baiklah, ku tunggu kamu di ruang rindu, bisakah kamu temukan aku?"
"Aku sedang ingin ditemukan...".
"Aku sudah hapal aromamu!"
"Benarkah?"
"Beraroma ilalang kala basah mengembun, ketika senja merona jingga...".
Mereka berada tanpa jarak, kalau saja ingin segera, mereka sudah menikmati temu yang diciptakan waktu. Keduanya saling berhadapan, kemudian sama-sama menatap jalan bercabang di hadapan mereka. Jalanmu atau jalanku? Begitu tanya keduanya melalui tatapan mata...Bagaimana bisa kita tahu rasa kita ingin temu atau tidak dalam jalan 'aku' dan 'kamu'?
Bagaimana kalau jalan 'kita' masing-masing, dan lihatlah apa akan ada 'aku' dan 'kamu' dalam 'kita'?
"Ikhlas...".

Terdengar suara bunda samar di telinga keduanya.
Pelangi bersiap melangkah ketika Bumi bersuara, "tunggu!"
"Ya?"
"Berjaga-jaga kalau...kamu tahulah," Bumi menatap Pelangi, "mencintaimu adalah sebuah rasa yang ku tanam ketika pertama kali mata bertemu mata, Februari...yang kemudian tanpa temu, tumbuh, dalam memori tentang kamu yang samar. Apa aku nyata Pelangi?"
"Senyata rindu, semenyakitkan temu yang hanya sebatas imaji."
Lambat laun sosok Pelangi hilang, tenggelam bersama lautan ilalang. Bumi merogoh saku celananya, sekali lagi memandangi kotak kayu. Apapun yang terjadi, ia harus berterima kasih pada sosok bunda. Digenggamnya erat kotak kayu, langkahnya mantap sudah.Menjajal nyali...toh, tanpa temu ia telah bertekad akan  menciptakan temu. Berdiam atau mundur tidak akan membawanya pada temu, juga tidak akan menguji
nyali.


Jogja, awal November
Bumi mempercepat langkahnya begitu melihat dua sosok yang dikenalnya tengah bermesraan, ya, itu yang ada di sudut matanya. BERMESRAAN. Keduanya terdiam begitu sosok Bumi mendekat. Bumi meletakkan
dengan agak kasar tas ransel besarnya di sebelah Langit, kemudian ia duduk di sebelah Pelangi yang tampak cuek dengan kehadirannya. Bagi Pelangi, selama beberapa bulan ia telah cukup terbiasa dengan perilaku Bumi yang grasak-grusuk, semaunya, datang tanpa diundang, tiba-tiba marah, tiba-tiba menjadi begitu
romantis. Begitulah...
Langit-pun apalagi. Mengenal sosok Bumi yang sudah seperti saudara tapi juga rivalnya. Jangan anggap ia telah melepas Pelangi sepenuhnya. "Pertemuan diam-diam...hebat lo Ngit!"
"Dari mana lo tau gwe bakal dateng ke Jogja?"
"Insting."
"Cih!" Langit kemudian terkekeh.

Pelangi hanya memperhatikan saja dua pria yang ada di dekatnya. Hubungan yang kalau dipikir agak aneh. Langit, sosok yang pernah hampir menjadi suaminya. Dan Bumi...sahabat Langit, sosok yang membuat Pelangi menumpahkan siksa rindu dalam Rekam Imaji, sosok pria yang juga telah melingkarkan cincin kayu di jari manisnya. Sebelumnya, Bumi adalah imaji dan Langit adalah nyata. Dua sosok hampir serupa tapi sesungguhnya sangat berbeda. Langit yang manis, sedangkan sosok Bumi kadang begitu menyebalkan. Hingga kini ia masih belum memahami betul sosok Bumi sebenarnya, ia hanya meyakini rasanya untuk Bumi.

"Apa sebaiknya kita menikah saja?"
Pelangi dan Langit memandang Bumi bersamaan dengan tatapan terkejut.
"Apa? Setidaknya pernikahan bisa membuat sahabatku ini berhenti memupuk rasanya untukmu."
Langit tertawa. "Selalu saja semaunya! Hahahaha...".
"Bagaimana kalau aku tidak ingin menikah?" Ujar Pelangi tiba-tiba, membuat wajah Bumi kemudian menjadi serius. "Maksudmu?"
"Aku tidak ingin dinikahi oleh pria yang datang dan pergi seenaknya saja. Tiba-tiba menghilang lalu pulang minta dicumbu...".
Langit semakin tergelak menyaksikan pemandangan di depannya. "Aku tidak ingin dinikahi oleh pria rumit yang lebih sering hidup di dunianya sendiri."
"Lalu dengan siapa kamu akan menikah?"
"Entahlah...mungkin aku harus menikahi pria bule itu?"
Pelangi melirik pria berambut kecoklatan dengan mata biru yang tajam, pria yang tengah memperhatikannya diam-diam.
"Tidak bisakah kamu tidak menarik perhatian banyak orang?"
Bumi mendaratkan bibirnya pada bibir Pelangi. Membiarkan berpasang mata menjadikan mereka tontonan kemesraan. Langit hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menikmati bir dingin dalam genggamannya.
Jelang senja...Pelangi, Langit dan Bumi...

Imaji adalah kamu yang ketika ku baringkan di sampingku malah asyik memainkan jarum jam...
Sederet angka dan jarum yang memekik seolah mengingatkan tidak pernah ada cukup waktu,
Maka ku dekap erat kamu agar tidak lagi menghilang ketika pagi,
Kalau perlu aku tidak
perlu memejam...
                                                                                                        Bumi untuk Pelangi


**
Untuk kamu bernama aksara Amezta. Aku mencumbuimu melalui
imaji, menjadikan rindu serasa dosa. Untuk tiap aksara yang ku retas dalam
setumpuk rindu, Rekam Imaji..untukmu...

Sedikit remah,
-End-
Imaji..untukmu...


~ (oleh @NadiaAgustina)

Sunday, 25 September 2011

Rekam Imaji #12

Jogja, Januari
Bumi Amezta
"Pelangi masih berada di Jogja." Suara langit datar terdengar, tanpa amarah.
"..."
"Bukannya gwe masrahin dia ke elo Mi...tapi gwe juga nggak mau memaksakan dia. Dia nggak ngijinin gwe
bilang ke lo, jadi jangan muncul tiba-tiba...dan satu hal Mi, jangan lo muncul di hadapan dia sebelum lo bener-bener punya nyali!" Lanjutnya tegas.


Aku bersandar pada tembok kayu dari bangunan bergaya lama. Di pintu berkaca yang dibingkai kayu tergantung tanda 'CLOSE', tiraipun masih menutupinya. Ku lirik jam tangan, waktu menunjukkan pukul 7. Aku masih harus menunggu hingga jam 10 untuk bisa mengunjungi toko antik ini. Beberapa waktu lalu saat mengunjungi toko ini aku menemukan jam pasir berwarna pelangi. 

"Kamu mengingatkan saya kepada seorang perempuan muda yang beberapa waktu lalu suka
datang ke tempat ini."

Aku kembali teringat dengan kata-kata wanita tua pemilik toko. Kemudian terbayang wajah Pelangi. Wanita tua itu berbicara seolah memberiku sedikit petunjuk mengenai Pelangi, mengenai rasanya...hemm, tapi bisa
saja itu perempuan lain. Andaikan saja itu Pelangi, aku juga tidak bermaksud menunggunya di sini. Tidak munafik aku merindukannya dan ingin segera bertemu, menyampaikan rasa dan menunjukkan nyali. Tapi kalau saja tidak ku ingat ucapan Langit...

Nyali dan rasa sudah seperti letupan, masih harus ditambahi oleh rindu yang seolah memaksaku untuk menarik sosok Pelangi dan merebahkannya di sisiku. Tapi ku rasa belum saatnya, aku tidak ingin menciptakan rindu di
antara resahnya. Rasanya bodoh kalau aku terus mengganggunya, mengiriminya pesan berulang kali, menelponnya...aku sudah bukan lagi remaja labil yang bisa memaksakan rasaku sendiri.

Ku jauhkan diri dari toko antik tersebut. Berjalan ditemani kata entah. Menyusuri jalan-jalan yang ramai oleh kedatangan para turis lokal seperti aku salah satunya, maupun internasional. Aku tidak terlalu mengenal
Jogja, tapi aku tahu Pelangi tergila-gila dengan kota ini. Pernah dulu ia menceritakan dengan antusias apa yang membuatnya tertarik dengan kota berhawa panas ini.

"Aku pingin tua nanti hidup di Jogja."
"Kenapa?"
"Jogja tuh indah...di mana budaya dan modernisasi saling membatasi. Menjadi tua...lalu memiliki rumah
mungil dengan hamparan ilalang." Kemudian Pelangi memandangku dengan mata bulatnya di antara kilat senja yang masuk melalui jendela. "Tua bersama pria yang aku cintai, maukah?"

Saat itu aku merasa kamu tengah melamarku masuk ke dalam dunia impianmu. Menawarkan sebuah impian yang dapat dibina berdua dengan aku dan kamu, lalu nantinya akan ada keluarga baru di antara kita. Membayangkannya membuatku malu hingga akhirnya aku menganggapnya guyon, impian anak-anak kecil
yang belum tahu susahnya hidup. Impian naif dari seorang gadis kecil polos..
.
Langkahku terhenti pada penjual gula-gula kapas yang menjadi primadona di antara bocah-bocah. Haha...Jogja ini rasanya berisi jejak Pelangi! Tawaku dalam hati.

"Dasar anak kecil, itu tuh, makanan bocah-bocah tau!" Seruku lagi-lagi menggoda Pelangi yang tengah
asyik menikmati gula-gula kapas berwarna pink.

"Sirik, berisik! Udah tua emang nggak boleh makan-makanan anak muda!" Balasnya dengan bibir yang
mecucu.

"Kebiasaan makan kayak gitu bikin gigi lo ompong, kayak keponakan gwe."
"Nih liat!" Pelangi membuka mulutnya, memperlihatkan deretan gigi rapih tanpa bolong. "Gigi sehat!
Rajin gosok gigi!"

Kemudian ia beranjak meninggalkanku. Rasanya menggodanya tak hanya cukup sekali atau dua kali. Jadi
ku sejajari langkahnya, lalu merebut gula-gula kapasnya. Membuatnya merengek seperti bayi, melihat wajah lucunya saat mecucu.


Wajah Pelangi, aku memiliki banyak wajah Pelangi yang ku abadikan dengan kameraku. Mencetaknya berlembar-lembar, menempelnya di dinding tiap kali aku agak lima singgah di suatu tempat. Kalau tidak, ku simpan beberapa di dompet, telepon genggam hingga lap top. Memandangnya saat hati tak tenang, lalu aku akan terkekeh sendiri. 

Eh, suara perutku meronta! Hemm..tanpa sadar kakiku melangkah ke kafe dulu tempat kami bertemu. Saat Langit memperkenalkan Pelangi sebagai calon istrinya. Saat itu aku berusaha untuk tidak gugup, berusaha untuk menahan rasa, jangan sampai tiba-tiba aku mendekapnya erat. Akupun memilih tempat duduk yang sama, mereka-reka penampilan Pelangi saat itu. Dress kaos panjang yang dibalut dengan blazer hitam.
Rambutnya semakin panjang dan bergelombang, warnanya agak coklat, ketika disibakkan Pelangi memamerkan deretan anting-anting di telinga kirinya. Pelangi hanya sesekali meneguk es coklat di hadapannya, minuman yang kerap menemaninya...iya, es coklat, tidak berubah!
"Permisi." Seorang pelayan sudah siap meletakkan pesananku di atas meja. Sepertinya beberapa saat ia memperhatikanku yang sejak tadi tersenyum sendiri. "Ah, nanti tolong bawakan bir dingin juga, terima kasih."
"Baik mas. Botol besar atau kecil?"
"Kecil."
Ku lahap dengan cepat makanan yang tersaji. Kemudian menyalakan korek dan membakar tembakau. Dulu Pelangi suka sekali minta dibuatkan kepulan asap bulat, dia memang kekanakan...Haha...lagi-lagi aku terkekeh sendiri.
"Ini mas, birnya...". Pelayan tadi meletakkan sebotol bir di atas meja. "Hemm, sepertinya sedang jatuh cinta ya mas?" Tanyanya sambil tersenyum sembari mengangkat piring-piring kotor dari atas meja.
Aku tak menjawab, hanya membalasnya dengan tawa pelan, pastinya ia sudah tahu jawabannya.
Ku sandarkan tubuh pada punggung sofa, meneguk bir dingin, memejamkan mata. Kembali terbayang Pelangi..tepatnya Pelangi dan aku. Hamparan ilalang...
Liar adalah kamu yang ku cumbu dengan napas menderu semalam, desah napasmu yang ku jamah semalam suntuk, ketika letupan rindu menemui titik temu. Tak perlu lagi akasara bahkan kata, menyentuhmu dengan rupa dan aroma...tembakau, rindu, resah meruah…
Tak perlu menakuti malam yang kemudian akan menjadi pagi, siang lalu sore, dan nantinya akan kembali malam. Kita sudah punya satu tempat untuk mengadu, memiliki rasa untuk diadu dengan rindu, memilin bilur-bilur ketika bibir saling adu, bersentuh kulit dengan ujung jarimu berpeluh…
Sayang…liar adalah kamu yang membuatku rindu dijamah, dikecup, diusap, dijelajah…
Liar adalah kamu ketika menjelajah tubuhku tanpa merayu terlebih dahulu, ketika degup jantungku seperti mengaduh, ketika semalam tanpa memejam, Pelangi tertidur di sampingku, tubuhnya membelakangiku sehingga aku hanya bisa melihat punggungnya yang terbuka, hanya ditutupi beberapa helai rambut. Aku baru tahu ia memiliki dua tahi lalat di bahu kirinya, dan yang satu di sekitar rusuk. Ku sentuh perlahan, tidak ingin
membangunkannya. Kemudian aku tersadar, baru saja ku sentuh Pelangi...tidak, bukan hanya ku sentuh! Aku mengecupnya, tidak hanya di bibir. Menyentuhnya, tidak hanya sebatas kulit dan jari beradu, tapi kulit kami saling sentuh..saling menjelajah...
Aku menikmatinya...saat jemari Pelangi menjalar, desahnya di telingaku. Menyentuhnya dengan melupakan Pelangi yang saat itu merupakan calon istri dari sahabatku, aku menghabisi sisa gadis dalam diri Pelangi. 
Haaaahhh...ku hela napas panjang. Ku lirik jam tangan. Pukul 9.30. Ah, sebentar lagi...aku akan kembali ke toko antik. Rasanya sambil jalan aku akan sampai di sana sekitar jam 10.
"Permisi...". Ku buka pintu, lonceng berbunyi. Ku intip, masih sangat sepi.
"Selamat pagi...". Sapa wanita yang dulu berbincang denganku, pemilik toko kalau aku tak salah tebak. "Sepertinya anda pernah ke sini."
Aku mengangguk, "anda pernah menceritakan seorang perempuan yang memandang jam pasir yang sama denganku."
"Ah!" Ia menjentikan jarinya. "Ya...wah, baru saja ia keluar dari sini, sekitar beberapa menit lalu."
Aku cukup kaget mendengarnya. "Oh, ya...".
Selalu saja wanita tua ini tersenyum penuh arti, "panggil aku bunda, wanita muda itu juga biasa memanggilku begitu." Aku mengangguk.
"Silahkan melihat-lihat, mungkin anda bisa menemukan sesuatu yang menarik, seperti yang ditemukan wanita muda tadi."

"Eh...panggil saya Bumi."
Bunda terkekeh menatapku, ia mengangguk lalu memberi isyarat agar aku mengikutinya. "Ku tunjukkan padamu tempat aku menyimpan barang-barang baru."
Tak berapa lama kami berdiri di depan meja di mana di atasnya terdapat beberapa kotak kayu tua dengan ukiran batik. Banyak sekali perhiasan antik. "Silahkan melihat-lihat, saya tinggalkan sebentar."
"Ah, tunggu...apa yang perempuan itu temukan?"
Bunda menatapku, "Sepasang...sebuah petunjuk, arah dan...". Bunda meletakkan kedua tapak tangannya di pipiku. "Keikhlasan...".
Setelah itu bunda meninggalkanku. Mataku menyusuri benda-benda di atas meja. Hemm...aku tidak ahli dalam hal perhiasan, tidak terlalu suka juga memakainya. Paling hanya sepasang anting hitam kecil di  kedua telingaku, jam tangan dan beberapa gelang yang ku beli di sekitar Malioboro. Dalam tumpukan perhiasan ku temukan sebuah kotak kecil yang juga terbuat dari kayu. Ku buka, di dalamnya terdapat sepasang cincin dari kayu berwarna coklat tua, masing-masing terdapat satu buah mata.
Tanpa pikir panjang ku ambil kotak dan kedua cincin tersebut, menemui bunda yang tengah menyusun  barang-barang di etalase.
"Saya tertarik dengan ini." Ku letakkan kotak di atas kaca etalase.
Bunda mengamati kotak tersebut, dia membuka kotaknya, lalu memperhatikan kedua cincin. Seperti biasa, beliau tersenyum penuh arti, seolah ia tahu akan sesuatu tapi enggan berkata.
"Hemm...yakin?"
Aku mengangguk mantap.
"Bumi...ini adalah cincin sepasang. Cincin yang nantinya akan kau sematkan di jari manis wanita  yang benar-benar kau cintai...".
"Aku tahu...".
Bunda mengisyaratkanku untuk diam, mendengarkannya sampai selesai. "Ketika kedua cincin sudah tersemat, tak ada jalan untuk kembali...maka pikirkanlah sebaik mungkin sebelum kau memberikannya."
Wajah bunda terlihat sangat serius. Aku mulai curiga, barang antik milik orang-orang Jawa biasanya menyimpan banyak rahasia, atau...sebut saja yang terburuk, kutukan! Bodoh, aku tahu...tapi bukankah mistis dan hal-hal semacam itu akan selalu lekat dengan rakyat Indonesia, mau seberapa kerasnya invasi Barat?
Tak lama bunda tersenyum, "cincin ini akan membawamu padanya."




~ (oleh @NadiaAgustina)

Friday, 23 September 2011

Rekam Imaji #11


Jogja, Januari

Pelangi Sekar Sahari
Rasanya sepeninggalan Langit ada sedikit sesal, tapi aku
yakin tetap menempatkan Langit di sisiku akan lebih menimbun sesal dan berakhir
pada sesak. Lucu saja saat aku kerap menatap telepon genggamku yang biasanya
berbunyi tiap beberapa menit atau jam, dari Langit. Sekedar  menanyakan kabar, sudah makan belum,
menyemangati saat aku disibukkan dengan pekerjaan. Mungkin karna sudan menjadi
kebiasaan dalam beberapa lama hubungan kami.
Kalian tahu, sudah menjadi impianku menenggelamkan diri di
Jogja tanpa rutinitas yang selama ini hampir membuatku tidak bisa bernapas.
Menempuh pendidikan di Universitas sekaligus membagi luangku dengan pekerjaan
di antara tumpukan tugas dan pekerjaan sampingan lainnya. Kadang aku ingin
cepat-cepat berlari ke Jogja kalau saja aku tidak ingat kedua orang tuaku masih
membutuhkanku.  Ayah yang semakin tua
tidak akan rela ditinggal lama oleh putri satu-satunya ini. Walaupun aku
seringnya bekerja tidak berada di rumah, setidaknya aku pulang dan ayah bisa
melihat wajahku walau sebentar.
Sedang ibu yang selalu cemas, apakah aku sudah makan? Apa
sudah memakai jaket? Dan kecemasan-kecemasan lainnya yang membuatku terlanjur
bergantung padanya. Terbiasa mengecup keduanya, dan keduanyapun biasa dikecup
oleh putrinya. Apa kalian rasa seperti yang ku rasa? Menahan ego demi kedua malaikat
yang semakin menua? Keduanya adalah orang yang menyediakan telinga ketika kau
rasa semua orang tidak mau mendengarkanmu, menyediakan senyum ketika kau lelah
berpeluh bertarung dengan remehan banyak kepala, menyediakan mata ketika semua
berpaling, menyiapkan percaya ketika banyak orang yang menatapmu enggan, dan
terlebih...mereka  menyediakan hati tanpa
batas.
Ini pertama kalinya aku lama berada jauh dari ayah dan
ibuku. Sebut saja aku manja, tapi beginilah adanya aku...
Tiap kali keluar hotel aku hanya mengikuti ke mana langkah
kakiku membawa. Berjalan-jalan, memfoto sana-sini, mengobrol dengan pedagang
kaki lima, naik becak yang merupakan kendaraan favoritku, mengitari seputar
Malioboro, sampai merebahkan diri di antara lautan ilalang.
Pertama kali rasanya aku tidak terlalu memikirkan Bumi. Aku
tidak terlalu memikirkan apakah Bumi masih berada di Jogja atau tetiba bertemu
dengannya. Menikmati apa yang kini bisa ku nikmati. Kadang aku menemui bunda,
melihat-lihat apakah ada barang antik baru yang menarik. Seperti saat ini.
"Banyak aksesoris sama perhiasan ya, bun...". Kataku sambil
memperhatikan dengan seksama barang-barang yang baru saja datang, masih belum
dipajang, toko juga masih belum buka.
"Iya...sedang banyak yang mencari. Terutama pasangan-pasangan
muda."
Aku menganggukkan kepala. Mataku tetap teliti, mencari-cari,
tapi terlalu banyak yang menarik hati sedangkan aku susah sekali memilih.
"Emm..bun...ini baru semua?" Tanyaku sambil mengangkat kotak kayu berisi
gelang-gelang, kalung, cincin sampai anting-anting berdesain klasik.
"Iya, baru. Cucu bunda yang buat, dia pintar buat aksesoris.
Kalau yang benar-benar antik di kotak satunya."
"Terlalu banyak yang bagus bun...aku susah milihnya."
Bunda menghampiriku, ikut duduk di atas lantai kayu tempat
biasa kami bercengkrama. Sembari tanganku terus memasukkan kue coklat buatan
bunda ke dalam mulut.
"Sudah ikhlaskah?"
Aku melirik, tersenyum kecil. "Melepas Langit atau
keberadaan rasaku pada Bumi?" Aku terkekeh.
"Memang sungguh berbahaya...kecantikan pelangi bahkan bisa
membuat langit dan bumi berseteru. Semoga senja tidak ikut-ikutan dalam duel
ini."
Kamipun tertawa. Bunda menatapku penuh arti. "Kenapa bun?"
"Apa yang kamu cari sekarang pelangi?"
Aku terdiam. Berhenti mengaduk-ngaduk kotak kayu. Kemudian
menatap langit pagi.
"Di mana posisi Bumi kini ketika kau melepas Langit?" Tanya
bunda lagi.
"Itu yang aku cari bun...menelusuri petunjuk-petunjuk yang
tersimpan dlam Rekam Imaji. Mencari rasa apa sebenarnya di antara tumpukan
rindu."
"Masih menyiksa diri dengan rindu?"
Aku menggeleng. "Tidak...lebih lega rasanya. Aku menggenggam
rindu terlalu erat, hingga ia melindungi dirinya dengan perisai berduri. Jadi
ku regangkan saja, biar ia memilih...tetap tinggal atau meninggalkan. Aku tak
ingi terburu, mendesaknya, aku tidak ingin dia membuat perisai berduri
lagi...aku ingin dia percaya padaku...".
Ku tatap bunda yang tengah memandangiku dengan senyumnya
yang hangat. "Seperti kata bunda...bukan sekedar belajar, tapi juga
mengikhlaskan keberadaan cinta, hmm...ataupun rindu...".
"Bagaimana dengan Langit? Ah...ia begitu tampan dan
menggemaskan." Ujar bunda kemudian tertawa kecil.
"Haha...ya, Langit memang menggemaskan...".

Tiba-tiba mataku tertarik pada sepasang kompas tua berumah
kayu. Ku buka, jarum kompas berputar.
"Awalnya sangat berat, tapi akhirnya dia bisa menerima
keputusanku. Kami masih belum menghadap keluarga besar dan megumumkan
pembatalan pernikahan. Tapi Langit bilang akan segera menjelaskan, terutama
pada ibunya....". Ku hela napas panjang, seintas wajah ibunda Langit terbayang.
"Menghancurkan hati putranya...mungkin beliau tidak akan pernah memaafkanku."
"Tapi suatu saat dia akan bersyukur,...karena kamu tidak
menghancurkannya hingga berkeping."
Berulang-ulang ku mainkan sepasang kompas tua tadi.
Memperhatikan ukiran batik pada kayu pembungkusnya. "Sepasang...".



~ (oleh @NadiaAgustina)

Thursday, 22 September 2011

Rekam Imaji #10

Hilang. Aku hilang kabar dari Langit dan Pelangi. Keduanya
tidak bisa dihubungi, bahkan lajur waktu benar-benar menjadi beku.  Dalam kepalaku masih terngiang wajah Langit
yang tengah murka padaku, sebelumnya ia tak pernah semarah itu kepadaku. Kini,
lebam dimataku menjadi bukti betapa aku sudah menyakiti dua orang yang
terpenting dalam hidupku.
"Jangan lagi memancing
rasa kalau kamu sendiri tidak punya nyali!"
Kali ini aku benar-benar habis. Kehilangan sahabat sekaligus
perempuan yang aku sadar betul seberapa rasa yang ku tanam untuknya, hingga
kini sudah tumbuh menajdi begitu rindang. Yang aku tahu memang tidak akan ada
pernikahan, entah siapa melepas siapa. Maaf saja tak akan pernah cukup untuk
keduanya.
Tanpa kulihat nama di layar, telepon genggam ku angat,
"hallo?"
"Bumi...".
Aku terdiam, mengenal, sangat mengenal suara di seberang
sana. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang.

Desember 2010
Menemani perempuan belanja sama sekali bukan keahlianku.
Berkeliling membandingkan harga ini dan itu, mencari warna ini dan itu,
seharusnya sebelum berbelanja dipertimbangkan dulu mau pilih yang mana,
kebutuhannya. Sayangnya sepertinya banyak perempuan yang spontan dalam hal
berbelanja. Lihat ini mau ini tapi bandingkan dulu dengan toko sebelah, beda
harga seribu jadi masalah. Cih!
"Gwe ke toko buku aja deh! Lo muter-muter aja sendiri, cape
gwe!" Kataku ketus pada adik perempuanku yang sedang masanya menjadi centil.
"Iya, sana! Gwe masih pilih-pilih nih!" Jawabnya tak kalah
ketus tanpa menoleh ke arahku. Pandangannya lebih disibukkan memilah di atas
tumpukan T-shirt yang semuanya terlihat sama di mataku. Berwarna cerah seperti
Barbie, di sebelahnya berderet pakaian mini. Tidak habis pikir kalau sampai
melihat si bungsu ini memakainya...
Setidaknya berada di dalam toko buku membuatku lebih santai,
lebih tenang. Berbagai buku keluaran terbaru berderet. Mulai dari penulis
senior sampai pendatang baru dengan novel remaja kesukaan adikku.
Saat itu mataku tertarik pada etalase yang memajang sebuah
buku dengan cover bernuansa senja, dengan pemandangan padang ilalang yang
dibuat sedikit buram. Rekam Imaji, begitulah judul yang tertera di covernya.
Hmm...rasanya familiar betul dengan kata-kata itu. Mataku kemudian mencari-cari
nama si penulis. Pelangi Sekar Sahari. Sesaat aku terdiam. Lama tak ku dengar
nama itu, jarang mungkin. Padahal Februari dulu hingga beberapa bulan lalu
namanya selalu berkeliaran di kepala, terutama ketika kubuka lajur waktu,
tempatnya asyik meracau.

"Sebuku aksara rindu
untuk pria imaji di dalam lajur waktu tanpa temu...
Sesapan resah yang menumpuk dalam
coretan waktu yang semakin kelabu.
Rindu, yang berakar pada namamu...
Tanpa perlu mengusikmu, ku susun tiap
rekah rasa di antara lajur waktu yang menggelisah...
Seakan temu selalu sebatas pada
rindu,
Pada rayu yang sesekali menggelayut,
namun mengusik, memaksa untuk sedikitnya ikut larut...
Untukmu, sebuku rindu ku ciptakan
rekam imaji tentangmu...
Yang hadirnya bagai kotak pandora,
dengan sengaja ku nikmati kutukan yang menusuk entah sampai kapan.
Batasan-batasan yang ku diamkan, tak
perlu sengaja ku beri kamu kata, cukup remah yang sekali waktu mungkin bisa kau
temukan...
Sesekali intiplah rekam ini, tak
perlu kasihani...cukup tadahkan sebelah tanganmu,
Setidaknya nanti ku tahu, sedikitnya
kamu tahu,
Sebuku ini adalah jejak imaji
tentangmu..."

Membaca sinopsis di bagian belakang buku malah membuatku tak
tahan menyunggingkan senyum. Akhirnya kamu membukukan deretan aksaramu yang
sering kali ku temukan tumpah meruah dalam wajur waktu. Membuatku enggan memalingkan
mata dan terkadang sedikit bermain dengannya, entah apa kamu menyadari
itu...menyadari kadang aku mengusikmu...
Selanjutnya aku menemukan diriku tenggelam dalam kubangan
aksara seorang Pelangi. Membacanya seperti menggerakkan jarum jam yang telah
lama terhenti, hingga tanpa sadar memori Februari terulang lagi.
Pelangi...melantunkan rindu melalui aksara tanpa nama apakah
tidak terlalu ambigu? Sudah berapa pria yang mengenalmu tertipu dengann racauan
rindumu yang menyayat layaknya pisau tajam yang baru saja kau asah.
Kamu tahu? Bibit tanaman yang ku tanam dulu serasa disirami
dengan setangkup senja dan seliter embun...
Suara telepon genggamku berbunyi menyadarkanku dari memori
lalu. Di atasnya nama seorang sahabat berkedip-kedip. "Hey!" Sapaku dengan
sumringah.
"I'm in love!" Itulah kata pertama dari sahabatku di
seberang sana. Aku terkekeh, sepertinya pembicaraan ini akan lama. Mengingat ia
hampir tak pernah bercerita mengenai perempuan sejak bertahun lamanya.
Langit nama sahabatku sejak SMA. Kami memiliki banyak
persamaan, rasanya sampai selera perempuan sekalipun. Ia tengah bercerita
mengenai seorang perempuan di tempat kerjanya. Perempuan keras kepala yang
sering kali berbeda pendapat dengannya. Berbeda dengan perempuan lainnya yang
sering kali menurutinya dan bersikap centil seperti makhluk penggoda.
Ya...berbeda denganku, Langit lebih kaku kalau soal perempuan.

"Lo ribut sama dia hampr tiap hari tapi lo bilang ke gwe lo
jatuh cinta? Hahaha...". Aku terbahak mendengar cerita Langit. Membayangkan perempuan
keras kepala macam apa yang sudah berani mengusik ketenangannya. "Perempuan
macam apa yang bisa mengusik kekerenan seorang Langit?! Hahaha...". Tawaku
lagi.
"Shit Mi! I can't stop thinking of her!"
"Oke..oke...then?"
"Ya, gwe Cuma mau bilang kita lagi menjalani hubungan yang
serius."
"Shit!" Giliranku memaki. "Jadi lo telpon gwe Cuma buat
pamer? Shit lo man!" Makiku tapi dengan nada canda. Karna jujur saja aku turut
senang.
"Yeah...gwe udah ngelamar dia."
"Woh! 5 bulan dan lo udah berani ngelamar dia?!" Tanyaku
sungguh tak percaya.
"Yap. Orang tuanya udah fine ko...Orang tua gwe juga."
"Selamat man! Gila! Emang gwe dari dulu udah yakin kalo lo
duluan yang bakal di jajah perempuan! Wahahahaha...". Langit-pun ikut tertawa.
"Gwe mau minta tolong."
"Apa aja buat lo."
"Be my wedding photographer."
"Ngit...lo kan tahu gwe paling ogah disuruh moto nikahan
gitu."
"Gwe ngerti..tapi gwe kan sahabat lo, gwe tahu kemampuan lo.
Gwe Cuma bisa percaya sama lo. Lagian lo backpakeran mulu, travelling ke
mana-mana..ni bisa jadi ajang reuni lah...".
Beberapa menit aku diam, memikirkan tawaran Langit.
Hah....desahku, "oke...di mana kita ketemu?"
"Jogja. Gwe ada kerjaan di sana awal Januari, sekalian gwe
kanalin lo sama calon istri gwe. Tapi inget...".
"What?"
"Jangan jatuh cinta lagi sama pilihan gwe."
"Hahahaha...sial! Gwe bukan lagi remaja labil Ngit!"
"Good then..". Langit terkekeh, "kita ketemu di sana."
"Good then..". Langit terkekeh, "kita ketemu di sana."


~ (oleh @NadiaAgustina)

Tuesday, 20 September 2011

Rekam Imaji #9

Jogja
Langit duduk  tertunduk bersandar pada dinding kaca. Sedang aku menatap lurus ke luar
jendela, memandangi jelang senja yang perlahan mendung, seperti mewakili
perasaan Langit yang sama mendung.


"Tidak bisakah kita menyembunyikannya saja?"

"Menyembunyikannya sampai kapan? Apa bisa membangun hidup
dengan berpura-pura lupa?"

"Aku bisa...aku bisa demi kamu, bersamamu Pelangi...".
Pertama kalinya Langit terisak. Untukku, dan sungguh tak pantas!

"Kamu berharap aku menyakitimu lebih dan lebih lagi?"
Ku hampiri Langit, membenamkan pilunya dalam pelukku.
"Maaf...maaf...".

Tidak bisa menyakitimu lebih dari ini...
"Tidak seharusnya kupertemukan kamu dengan Bumi..harusnya
tak ku biarkan kalian menghabiskan banyak waktu bersama...Harusnya tak ku
biarkan lagi Bumi berada di antara hidupku dan perempuan yang ada di
sampingku!".

"Hentikan Langit!" Ku paksa Langit menatapku. "Rekam Imaji
ada sebelum kamu datang...merindunya adalah salahku...".

"Lalu salah siapa tetap menikmatinya ketika seharusnya ia
tahu bagaimana cara melepasmu? Salah siapa tidak memiliki nyali untuk menahanmu
sebelum aku meminangmu?..."
Aku diam...aku belum mendapat jawabannya dari seorang
Bumi...



Jogja, awal Januari

"Benar tidak perlu mengatakannya kepada Bumi?"
Aku menggeleng. "Begini saja dulu...".
Langit mengecup dahiku, "hubungi aku kapanpun. Ini.." ia
menunjukkan sepasang cincin yang menggantung sebagai liontin kalung yang
melingkar di lehernya. "Masih selalu untukmu."

Aku tersenyum, "simpanlah untuk wanita yang benar
menumpahkan penuh hati dan rindunya untukmu. Suatu hari...bawalah padaku, biar
ku lihat seperti apa wanita cantik yang merebut hati Langit-ku."

Kami terkekeh. Sekali lagi saling tatap. Melepas Langit
sungguh adalah kebodohan terbesar. Melepas pria yang sungguh tulus memberikan
hati dan hidupnya padaku. Sungguh aku berusaha mencintai Langit, belajar...tapi
belajar sampai kapan? Sedang setengah hati seperti terikat mati pada Bumi,
berpasangan serasi dengan rindu yang sakitnya hingga menyayat hati.

"Sampai kapan kamu akan di sini?"
Terakhir kalinya kami bergandengan tangan, menyusuri lorong
stasiun yang hingar bingar. Sepasang usia senja berpelukan. Sang wanita
sumringah di antara garis tua di wajahnya, menyambut kekasih yang akhirnya
pulang.


"Salah satu yang ku kagumi dari seorang wanita...".

"Apa?"
"Keteguhan hati,..."
"Untuk menunggu?"
"Mungkin...aku tidak pernah tahu dari mana nyali menunggu
itu datang."

"Hemm...andai aku pria beruntung yang kamu tunggu itu."
Aku hanya tersenyum, karena aku saja tidak tahu mengapa
harus Bumi yang aku tunggu.

"Baiklah..keretaku sudah datang."
Sekali lagi Bumi menatapku. "Aku akan sangat merindukanmu."
"Aku juga...berbahagialah."


Bumi...apa warnamu
sebenarnya? Kalau kamu sehijau dedaunan di dalam hutan, maka ijinkan aku
menjadi coklat seperti tanah dan batang pohon tempatmu tinggal. Kalau kamu
sebiru lautan, izinkan aku menjadi sewarna pasir pantai yang sering kau
singgahi kala pasang. Kalau kamu sehijau hamparan ilalang, ijinkan aku menjadi
kuning yang kau letakkan dipuncak hingga ketika senja datang membaur bersama
nila. Kalau kamu sebiru langit kala pagi tanpa mendung, maka biarkan aku
menjadi seputih awan yang berarak seperti dalam dekapmu...


Keteguhan hati untuk menunggu...menunggumu Bumi. Dan
entahlah...sama seperti ketika aku belajar menempatkan Langit di hatiku, entah
sampai seberapa batasan belajar ada dalam diriku. Sampai akhirnya ku lepaskan, bukan
menyerah, tapi menempatkan rasa di tengah rindu dan rasa yang lain bukanlah
perkara mudah. Apalagi kini ketika dihadapkan pada temu dan sentuhan yang
seharusnya hanya menjadi milik Langit.

Aku tidak akan mengerti apa rencana Tuhan ketika
mempertemukanku dengan Bumi dan Langit. Yang jelas, aku tidak ingin
menyandingkan keduanya dalam ruang hati yang sama. Langit selalu menjadi sosok
yang nyata, bersamanya, mungkin saja aku akan menikmati hubungan aman tanpa
perlu menemui kegagalan lagi. Rindu tanpa ragu dan tahu di mana harus
menempatkan rindu.

Sedang Bumi, terlanjur menikmatinya sebagai imaji adalah
salahku, hingga tak tahu cara membedakan rindu ini nyata atau hanya imaji. Ada
rasa dengan percik kasmaran atau hanya keingintahuan.


Aku tidak ingin bertemu Bumi dalam rasa seperti ini, rasa
yang dulunya hanya ku kenal sebatas imaji dengan rindu yang menggebu hingga
tumpah ruah dalam Rekam Imaji, tapi kini justru ku pertanyakan sendiri.
Bagaimana ketika Bumi dan temu adalah nyata? Lalu apa setelah temu? Bersama,
hidup bahagia selamanya? Apa sesimpel itu? Apa nyaliku telah sampai pada
tahapan itu? Apa...Bumi memiliki nyali menjadi sepasang hingga senja?


Sesungguhnya bukan
rasa yang ku sangsikan, tapi nyalimu. Setelah sekian waktu ku pertaruhkan nyali
dan tunggu..aksaramu kadang bisu, kadang lisanmu merayu, ulur hati dan waktu.
Kamu Cuma tahu menimbang rasamu..Menunggumu kadang serasa sia belaka,
mencintaimu, mempertaruhkan nyali hingga tak setetes tersisa.
dan waktu.
Kamu Cuma tahu menimbang rasamu..Menunggumu kadang serasa sia belaka,
mencintaimu, mempertaruhkan nyali hingga tak setetes tersisa.





~ (oleh @NadiaAgustina)

Monday, 19 September 2011

Rekam Imaji #8

"Apa ketika menikah dengan ayah ibu mencintai orang lain?"
Ibu terkekeh mendengar pertanyaanku. "Kok malah ketawa bu?
Aku tanya serius loh, ini...". Ujarku cemberut.

Ibu yang tengah merapihkan tumpukan bajuku berhenti. Beliau
menghampiriku yang sedari tadi berkaca di depan cermin meja rias. Ibu mengambil
sisir. Ini salah satu kegiatan yang aku suka saat sedang bersama ibu. Dan
beliau-pun mulai menyisir rambut panjangku dengan lembut. "Apa ada sesuatu yang
perlu ibu tahu?"

"Kok malah balik tanya, bu?"
"Ya karena anak perempuan ibu mempertanyakan soal cinta,
padahal beberapa bulan lagi akan berada di pelaminan bersama orang yang
dicintainya." Aku tidak berani menatap ibu. Mata dan jariku tengah memainkan
cincin pertunanganku dengan Langit. "Benarkan Langit pria yang kamu cintai?"

"Hemm...". Aku hanya menggumam, masih tidak menatap ibu.
"Jelang pernikahan...tiap pasangan akan dihadapkan pada
cobaan."

"Apa ibu dulu juga begitu?"
"Tentu saja."
Oh, apa mungkin Tuhan memberiku cobaan melalui Bumi? Untuk
menguji seberapa yakinnya aku? Atau seberapa kesungguhan dan nyaliku?

"Ibu mencintai ayah sejak kapan?"
"Sejak ayahmu belum mencintai ibu."
Ku lirik ibu melalui pantulan di cermin. "Lalu?"
"Haha...ibu membuat ayahmu jatuh cinta."
"Tapi katanya pria tidak belajar mencintai, perempuan yang
harusnya begitu...".

"Maksudmu? Apa cinta harus dikotak-kotakkan dengan gender?
Apa perempuan tidak boleh mencintai? Tidak boleh mengejar cintanya?"

"Apa boleh?"
Ibu duduk di sampingku, akupun memiringkan tubuhku mulai
menatap wajah ibu.


"Tiap manusia dibolehkan mencintai, dan boleh berharap untuk
dicintai. Karna Tuhan menciptakan kita dengan hati Pelangi...". Ibu menghapus
air mataku, beliau tahu aku sedang resah dan ragu. "Pelangi,...cinta itu bukan
sekedar belajar, tapi juga ikhlas menerima kehadirannya...".

"Cinta itu bukan
hanya tentang belajar mencintai...tapi juga ikhlas menerima keberadaannya."

Tiba-tiba aku teringat kata-kata bunda. Bunda adalah sosok wanita
bijaksana, ia memang jauh lebih tua dari ibu, ia pemilik toko barang antik di
Jogja. Aku sering kali ke sana, bermain-main dengan barang tuanya, terutama jam
pasirnnya yang unik. Kadang aku juga membantunya membersihkan toko, sebagai
imbalannya, aku bisa memeilih beberapa aksesoris tua yang dipajang di etalase
toko.

"Sekarang kamu katakan yang sejujurnya sama ibu." Ibu menatapku,
senyumnya membuatku tidak bisa menolak untuk menatapnya. "Apa kamu benar-benar
mencintai Langit?"

"Ibu...". Aku semakin terisak, menangis di bahu ibu. "Aku...aku tidak
tahu bu..". Kataku di sela isak tangis.

Ibu mengusap kepalaku. "Masih ada waktu...pikirkanlah baik-baik. Dan
bila ada pria lain yang benar kau cintai, perjuangkanlah perasaanmu...sebelum
kamu belajar mencintai, belajarlah dulu jujur terhadap perasaanmu."

Ku benamkan diri dalam resah, ragu, kebingungan, rindu dan rasa
bersalah. Ku luapkan semua dipundak ibu.

"Bicaralah pada Langit." Ibu mengecup keningku. "Sepertinya memang
perempuan dikeluarga kita tidak cocok untuk acara perjodohan." Ibu lalu
terkekeh, akupun memeluk beliau.
Aku harus segera berbicara dengan Langit, juga..Bumi...entah bagaimana
akhirnya nanti, yang jelas tidak akan ku biarkan rasa bersalah, rindu, dan
kebohongan macam ini menumpuk dan ku jadikan fondasi dalam rumah tangga yang
akan ku bina nantinya. Ketika kita berani mencintai, bukankah harus disertai
nyali untuk memperjuangkannya?





~ (oleh @NadiaAgustina)

Sunday, 18 September 2011

Rekam Imaji #7

Langit menatap layar lap top dengan serius, memanggutkan
kepala, serius lagi. Aku menatapnya serius, ditemani rokok dan sebotol bir
dingin. Hemm...ku perhatikan wajah Langit lama. Mencoba mencari tahu apa yang
membuat Pelangi tertarik pada sosok sahabatnya yang kaku ini. Kulit putih,
wajah campuran Jawa-Cina, matanya kecoklatan sama seperti mataku...yah,
sahabatku ini ternyata memang cukup tampan.
Sebaliknya, aku tak perlu mencari tahu apa yang membuat
Langit begitu tergila-gila dengan Pelangi. Setengah tahun lalu Langit menjadi
begitu cerewet. Hampir tiap malam ia menggangguku melalui telepon dan berbicara
mengenai sosok perempuan yang yang membuatnya jatuh cinta. Bagaimana mereka
bertengkar tetang banyak hal, meributkan hal-hal sepele di kantor tempat mereka
bekerja, seberapa keras kepalanya si perempuan. Dan suatu ketika Langit
mengatakan akan melamar perempuan itu...tak lama ia meminta bantuanku. Aku
pikir aku bisa menjadi sosok sahabat yang baik dengan menerima permintaannya,
membantunya menjadi fotografer di hari bahagianya. Nyatanya? Aku malah jatuh
cinta untuk yang kedua kalinya pada calon istri Langit, sahabatku...
"Nice! Gwe tahu lo paling pas! Lo tahu apa yang gwe mau!"
Ujarnya antusias, mengagetkanku yang tengah melamun. "Gwe suka foto-foto
Pelangi. Tinggal foto gwe sama Pelangi. Mungkin minggu depan gwe bakal suruh
dia nyusul. Man..gantian sekarang dia yang sibuk."
"Oke." Ujarku singkat. Sibuk dengan pikiranku sendiri,
berkali-kali menghela napas panjang. Sepertinya ku lupa Langit ada di sana dan tengah
memperhatikanku.
"Mi..ampir gwe lupa. Masalah apa sih, lo?! Perempuan mana?"
Aku tersentak, langsung saja ku tatap Langit. Wajahnya
meminta jawaban.
"No one...".
"Terus?"
"Masalahnya ada di gwe sendiri."
"Hemmm...".
"Emm...lo inget dua tahun lalu saat gwe cerita tentang
perempuan yang gwe suka?"
"Well, you told me a lot about women you liked, and which
one is it? Detail...please..".
Aku tersenyum geli. Langit benar, aku menceritakan tentang
banyak perempuan yang ku kencani, terlalu banyak tepatnya...aku benar-benar
brengsek...
"Anak magang waktu gwe masih kerja di majalah fashion."
"Oh! Iya! Lo suka irbut sama dia karna lo gangguin dia
terus. Yes..kenapa tuh? You meet her?"
Itu...itu pertanyaan yang tidak bisa ku jawab begitu saja
Langit. Apa aku bertemu dia? Kalau kau tanya itu, rasanya hampir tiap hari aku
bertemu dengannya. Sayangnya, hanya melalui lajur waktu.
"So?" Langit meminta penjelasan.
"Gwe jatuh cinta lagi sama dia...that's it."
Langit menghela napas, kemudia menyandarkan punggungnya.
Memanggutkan kepala, kemudian meneguk gelas berisi bir yang sudah bercampur
dengan batu es yang mencair. "Fight for it then..".
"I wish i could."
"Oh, come on!" Langit memajukan tubuhnya, menatapku tajam,
nada suaranya agak tinggi. "Perempuan mana yang pernah kamu perjuangkan? Sudah
berapa perempuan yang lo tinggalin gitu aja? Atau jangan-jangan tiap lo
tinggalin mereka lo gunain pekerjaan lo ini? Karena itu lo terus berpindah
tempat?!" Tanyanya sinis.
Aku diam, kesal sebenarnya, pertanyaan-pertanyaan Langit seolah
menyudutkanku sebagai seorang pengecut. Tapi itu benar. Aku terus berlari dari
kjaran 'hubungan serius'. Lantas apa nantinya yang akan ku tawarkan pada
Pelangi? Jelas saja nantinya Pelangi lebih memilih Langit. Pria di hadapanku
ini, ahli dalam menetapkan keputusan, ahli mencari dan kemudian mendapatkan apa
yang ia inginkan...memperjuangkannya...
"Nggak segampang itu...".
Aku beranjak. "Oh well, sekarang seorang Bumi kabur
lagi...".
"Gwe bukan kabur," aku berbalik, "Cuma mencari tahu, apa
yang sebaiknya gwe lakuin saat perempuan yang gwe sayang akan menikahi orang
lain."
Langit diam, akupun tidak ingin lagi menatapnya. Karna tiap
kali aku menatapnya, rasanya aku ingin bilang, "hey langit sahabatku, aku
mencintai calon istrimu!".


~ (oleh @NadiaAgustina)

Saturday, 17 September 2011

Rekam Imaji #6

"Itupun kalau masih ada yang tersisa... Oh... Perempuan muda yang malang... Apa dia berhasil selamat dari
siksaan rindu?"
Ku pandangi dinding kamar. Tapi sepertinya bukan lagi dinding, melainkan sekumpulan wajah Pelangi yang kubekukan. Menikmati wajah Pelangi sembari menghisap berbatang rokok ditemani secangkir kopi, bersandar pada ujung tempat tidur, merasakan dinginnya lantai. Cih! Bukankah cuaca di Jogja seharusnya panas? Kenapa lantai ini seolah ingin bersikap dingin dan acuh padaku?
Aku terkekeh sendiri,  kemudian memandangi cover novel yang ditulis Pelangi, Rekam Imaji...
"Rindu itu layaknya candu...Bagaimana menurutmu Bumi?"
Tanya itu, seolah ikut menyentakku bersamaan dengan nyali yang ia pertanyakan,

"Aku lelah mencumbu imaji...aku lelah menanti waktu dan temu bersahabat...aku lelah dengan segala rayumu yang sebatas kata, aku lelah merindu hanya sebatas aksara...tidakkah sedikitnya kau rasa iba? Tidakkah nyalimu sedikit terusik?!"

Andai saja kau tanya rasa Pelangi...maka tak perlu kau ragukan mengenai rasa yang sudah ku tanam sejak kala itu, pertama kalinya mata kita saling beradu.
"Cantik?"
"Iya."
"Jadilah perempuan dengan 1000 topeng kalau ingin begitu."
"Hemm...apa harus menjadi cantik yang begitu itu?"


Seketika lampu-lampu membidik ke arahmu. Entah apa, seolah tangan dan jemariku tergerak tanpa  komando. Seenaknya memencet tombol kamera yang mengarah tepat ke wajahmu.  Aku tak berkedip. Tapi lalu...itu adalah kali pertama aku menatapmu lama. Mataku dan matamu beradu, tapi kita sama-sama bisu.


Saat itu, ya..ku rasa saat itulah aku mulai menanam rasa.
Tapi sayangnya aku lupa memupuk nyali...

"Dan aku...di mana aku bisa menemukanmu?"
"Kalau kamu benar mencariku, kamu pasti akan menemukanku...".

Melihatmu pergi, melihat punggungmu semakin menjauh, aku berpikir mungkin itulah akhirnya. Temu yang tidak disengaja setalah lama aku mencoba mencari tahu hanya melalui lajur waktu. Mengintip keberadaanmu yang semakin bisu. Bodohnya aku...
"Kadang aku berharap, Februari tak pernah ada dalam kamusku."
Februari itu.. Bulan yang masih ku ingat karna mempertemukan aku dan kamu. Kamu bisa dengan cepat menarik perhatianku. Membuatku tergoda untuk terus mengganggumu, setidaknya agar perhatianmu selalu tertuju kepadaku.
Mendengarmu berkata begitu rasanya...kamu tengah membuangku...
"Kamu nyata Bumi...tapi kebersamaan kita hanya imaji...".
Aku bukan pilihan... Nyatanya kini berujung pada sesal, aku ingin menjadi pilihanmu Pelangi... Bukan hanya sebatas imaji yang kau ciptakan dalam sudut ruang. Aku ingin menjadi nyata yang bukan hanya sebatas aksara.
Telepon genggamku berbunyi, tertera nama Langit di layar.
Sahabatku sejak SMA. Apa yang ku katakan pada Pelangi ketika kami bertemu, benar adanya. Langit dan Bumi...kami memiliki banyak persamaan. Bedanya, kalau aku cenderung 'brengsek', Langit adalah sosok yang agak kaku. Langit banyak mengalah untukku, ia membiarkanku menyukai para gadis yang juga ia sukai.

Ketika aku disibukkan dengan si ini dan si itu, Langit sibuk membangun karir impiannya sebagai fotografer fashion. Karirnya berjalan mulus, sedangkan aku harus berulang kali jatuh bangun mencari apa yang ku mau. Sampai akhirnya sekitar dua tahun lalu, tak lama setelah pertemuanku dengan Pelangi, ku tinggalkan karirku yang mulai mapan. Menjelajah dari satu kota ke kota lainnya, dari satu negara ke negara lainnya.
"Pulanglah...kita bekerja bersama, sampai kapan lo mau jadi tukang foto keliling? Lo tetap butuh rumah." Langit sering kali membujukku untuk segera kembali.
Telepon genggamku berbunyi lagi, masih nama Langit.
"Hallo."
"Ke mana aja lo?! Gwe belum liat hasil kerja lo man! Kita diburu waktu, pernikahan gwe sama Pelangi udah beberapa bulan lagi!" Langit langsung nyerocos dengan nada panik dan kesal.
"Sorry...gwe ada masalah sedikit."
"Cih! Apalagi? Perempuan lagi?"
Aku tersenyum kesal. Memang masalah perempuan, tapi seandainya Langit tahu siapa perempuan itu. Kemudian aku rasa bersalah. Bagaimana kalau ku katakan semuanya pada Langit? Tidak semuanya juga, tidak mungkin aku mengatakan tentang aku dan Pelangi, apa saja yang kami lakukan. Maksudku tentang hubunganku dan Pelangi. Tentang perempuan yang dua tahun lalu pernah ku ceritakan padanya.
"Bumi! Lo tuh di mana?! Gwe samperin!"
"Ah...gwe masih di Jogja."
"Oke, besok gwe ke Jogja."
"Sama Pelangi?"
"Nop. Ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan, dan lagipula dia mau stay di Jakarta untuk mempersiapkan pernikahan. Perfectionist."
"Oh..oke."

Pernikahan...jadi dalam beberapa bulan lagi aku akan berada di dalam pernikahan sahabat dan perempuan yang aku cintai. Haha...menyedihkan!
Sekarang saja sudah cukup menyedihkan melihat keduanya bermesraan di depanku.

Ku lihat lagi layar telepon genggam. Tidak, tidak ada yang menghubungiku lagi. Aku menunggu nama Pelangi tertera di dalamnya, berhari-hari...
Liar adalah kamu yang ku cumbu dengan napas menderu semalam, desah napasmu yang ku jamah semalam suntuk, ketika letupan rindu menemui titik temu. Tak perlu lagi akasara bahkan kata, menyentuhmu dengan rupa dan aroma...tembakau, rindu, resah meruah…
Tak perlu menakuti malam yang kemudian akan menjadi pagi, siang lalu sore, dan nantinya akan kembali malam. Kita sudah punya satu tempat untuk mengadu, memiliki rasa untuk diadu dengan rindu, memilin bilur-bilur ketika bibir saling adu, bersentuh kulit dengan ujung jarimu berpeluh…
Sayang…liar adalah kamu yang membuatku rindu dijamah, dikecup, diusap, dijelajah…
Liar adalah kamu ketika menjelajah tubuhku tanpa merayu terlebih dahulu, ketika degup jantungku seperti mengaduh, ketika semalam tanpa memejam, Sayang,…liar adalah ketika pagi nanti masih ada kamu, kita dan selambu biru…
Andai saja malam itu aku terus terjaga hingga pagi, aku bisa terus mendekapmu, hingga kau tak harus pergi lagi. Kita bisa pergi ke mana saja Pelangi..berdua...
"itupun kalau masih ada yang tersisa...oh...perempuan muda yang malang...apa dia berhasil selamat dari
siksaan rindu?" 

Kata-kata wanita tua di toko barang antik terngiang lagi di kepalaku. Apa masih tersisa Pelangi?



~ (oleh @NadiaAgustina)

Friday, 16 September 2011

Rekam Imaji #5


Ketika rindu mengharap temu, ketika ada temu, malah menjadikannya bom waktu. Lalu aku kembali tersiksa, berharap andai saja tak ada temu...
Ku pandangi cermin, memantulkan wajah serupa aku. Lalu melirik seorang wanita bergaun putih di sebelahku,  sama sepertiku, berkaca pada cermin besar. Ia berputar-putar sembari senyum terus merekah di bibirnya, lalu  berjalan-jalan...ujung gaunnya panjang mengikuti langkahnya seperti buntut.
Aku kembali bercermin. Harus ku lukis bahagia agar ada senyum di wajahku? Atau ku curi saja ronda  kasmaran pada senyum bahagia perempuan tadi...
"Cantik...".
Wajah Langit kini ikut memantul di sebelah bayanganku dalam cermin. Memaksa bibir melukiskan senyum itu...serasa berat. Rasanya urat-urat menegang.
"Kenapa? Apa tidak menyukai gaunnya?"
Aku menggeleng, "tidak papa, hanya..sedikit gugup."
Langit...berada di dekatmu, kini serasa sesak. Mencoba membaui aromanya dalam kepulan aromamu. Yang menyakitkan lagi, merindumu kini serasa dosa...Karna ketika keras aku mencoba menyebutnya kekasih, lidahku menjadi kelu, karena aku hanya tahu cara merindumu…Karna ketika ia membisikkan rasa di sudut telingaku, aku tengah membayang kecupmu. ketika jemarinya menjelajah  lekuk kulitku, aku membayang
rasa sentuh ragamu…
Bumi...Bumi...manakala dalam membayang, ku bayangkan tengah mencumbumu di padang ilalang…kala resah membuncah dalam degup. Mencumbumu kala itu, dimana raga menjadi liar dan peluh sembari mengaduh. Jantungmu, berada tepat di atas jantungku, sama berdegup...
Mencumbumu ibarat meresapi aroma tembakau di tubuhmu, lalu merabanya dengan menjajalnya melalui bibirmu...candu... menikmati resah melalui desah ketika jarimu menjelajah, di antara alang-alang, ketika sudut mata bertemu muka…
Bumi, mungkinkah kita tengah membaui rindu melalui sebilah temu…tanpa aksara, hanya rasa….di sela napas menderu di balik selambu…hanya ada kamu dan rasaku, di antara rindu yang serasa dosa, kita bertemu…
"Pelangi...".
"Ah!
Iya!" Aku tersentak. Mendapati wajah Langit yang nampak bersungut. Ia tahu pikiranku sedang melayang-layang, tapi untungnya ia tidak tahu melayang ke mana.
Baiklah!
Tidak seharusnya aku begini. Beberapa bulan lagi merupakan hari besar kami.
Sudah ditetapkan, dan seperti yang sudah ku bilang, kali ini tidak ada kata mundur. Langit pria yang baik, baik untukku, dan keluargaku yang sudah kadung jatuh cinta padanya.
Rekam Imaji...kubaca dalam hati judul yang tertera pada cover buku yang tergeletak di atas meja. Ini adalah buku pertamaku, tumpukan tulisan pertama yang berani ku tunjukkan pada banyak orang. Di dalamnya, setumpuk rindu dalam berbaris aksara berjejalan. Di dalam sinilah tumpukan rinduku pada Bumi tumpah-meruah. Di mana aku membuat ruang imaji berisikan tiap rekam memoriku bersamanya, nyata dan...selebihnya, sebuah kebersamaan fiktif yang kubuat demi memuaskan satu persen rinduku.
Kamu tahu Bumi? Memang tak sekalipun namamu tertulis di sana. Tapi tiap aksara ku lukiskan dengan tinta yang berakar pada namamu. Tiap huruf a, b, c, d, dan seterusnya tertoreh ketika dalam bayangku hanya ada kamu, ketika tiap petikan gitar yang melantunkan nada do, re, mi hanya menjamah sudut matamu. Berderet
sajak yang mnejejal ketika ku hanya bisa menemukan aromamu dalam tiap kepulan tembakau di sekitarku. Kamu...semua adalah kamu...Rekam Imaji itu, rindu...rindu yang berakar pada namamu...
Tuhan...ketika kau ciptakan temu di antara Bumi dan Langit, aku enggan mempertanyakan mengapa?
Bukan kepada-Mu segala tanya harus ku jabarkan. Tapi padamu Bumi... Kubuka lembar demi lembar isi Rekam Imaji. Aku menulisnya...tapi belum pernah sekalipun aku membaca tiap hurufnya, belum pernah sekalipun aku membaca rinduku yang tertuang di dalamnya. 
Kamu..adalah yang ku takutkan hadirnya berubah menjadi rindu...
Apa aku masih takut sedang kehadiran Bumi sudah benar-benar menjadi rindu?
Telepon genggamku kembali berbuyi. Entah sudah yang keberapa kali, dan selalu saja ku dapati nama Bumi di sana di antara nama Langit. Langit pasti mengira aku sudah terlelap, karena ketika panggilan keduanya tidak ku jawab, ia berhenti. Sedang Bumi...tak hentinya berdengung.
Ku baca satu persatu pesan dari Bumi.
"Pelangi, ku mohon...aku ingin bicara!"
"Sampai kapan kamu akan menghindariku?!"
"Aku tidak akan berbicara sepatah katapun mengenai kita pada Langit...demi Tuhan! Tapi tolong sekali saja temui aku...".
"Aku rindu..."
Bumi...sekarang kamu mau mengadu rindumu denganku? Tentunya kamu sudah tahu siapa yang paling
unggul bukan?
Kamu bersalah Bumi...bersalah karna membuatku menikmati tiap sentuhmu. Bersalah karena kini rasaku padamu semakin tertanam membentuk akar-akar yang berusaha mendobrak sudut berisi rindu yang telah ku masukkan kembali dalam kotak pandora. Dan aku...aku adalah yang paling bersalah karna membiarkan tidak hanya raga, tapi juga hati dan rasa menikmati tiap sentuhmu, kecupmu...Bumi..Bumi...aku ingin disentuh sekali lagi! Bagaimana ini?!
**


Liar adalah kamu yang ku cumbu dengan napas menderu semalam, desah napasmu yang ku jamah semalam suntuk, ketika letupan rindu menemui titik temu. Tak perlu lagi akasara bahkan kata, menyentuhmu dengan rupa dan aroma...tembakau, rindu, resah meruah…
Tak perlu menakuti malam yang kemudian akan menjadi pagi, siang lalu sore, dan nantinya akan kembali malam. Kita sudah punya satu tempat untuk mengadu, memiliki rasa untuk diadu dengan rindu, memilin
bilur-bilur ketika bibir saling adu, bersentuh kulit dengan ujung jarimu berpeluh…
Sayang…liar adalah kamu yang membuatku rindu dijamah, dikecup, diusap, dijelajah…
Liar adalah kamu ketika menjelajah tubuhku tanpa merayu terlebih dahulu, ketika degup jantungku seperti mengaduh, ketika semalam tanpa memejam, Sayang,…liar adalah ketika pagi nanti masih ada kamu, kita dan selambu biru…


Sayangnya Pelangi...pagi itu, ketika mataku terbuka masih dalam lautan ilalang, tak ada kamu di sampingku. Yang aku tahu, rindumu seperti virus yang mulai menjelajah di tiap sudut dalam tubuhku. Menyentuhmu senja kemarin, menatapmu dalam malam yang berbaring membelakangimu, menyusuri lekuk tubuhmu yang tanpa perlawanan.
Menikmatinya seolah tak ada dosa...menikmatinya, sampai aku lupa, perempuan mana yang telah beraninya ku sentuh dengan luapan rasa ingin...
Pelangi..kamu seperti senyawa rasa yang hadirnya bagai kutukan waktu yang berbalik menyiksaku dengan rindu. Tapi biar bagaimanapun, rinduku ini tak akan menang bila diadu dengan rindumu yang dulu kubiarkan saja. Bodohnya aku membiarkanmu bermain dengan layang-layang yang kubuat sendiri. Bukan salah Langit ketika kemudian ia menjadi begitu teduh, dan akhirnya meminta angin menerbangkan layang sampai di depan rumahnya.




"Selamat petang...ada yang bisa saya bantu?" Seorang wanita tua menyambutku ramah. Ku pandang sekeliling isi tokonya, sebelum akhirnya menatap wanita itu yang masih dengan senyumnya. Wanita tua yang cantik, ketika tersenyum matanya ikut menyipit, seolah ikut tersenyum, dan keriput-keriput di wajahnya seperti ingin
melukiskan banyak hal yang telah dilaluinya.
"Saya..mau melihat-lihat dulu."
"Oh, silahkan...".
Semakin masuk ke dalam ruangan, rasanya seperti ada yang menuntun langkahku. Hingga akhirnya aku sampai pada satu sudut dimana terdapat banyak jam tua dipajang di atas rak-rak kayu yang sepertinya tak kalah tua, tapi tetap kokoh berdiri.
Mungkin karena toko itu sepi, ku lihat hanya ada aku sebagai pengunjungnya, suara detik jam jadi terdengar lebih keras mengikuti degup jantungku. Tanpa sadar langkahku terhenti di depan sebuah kotak persegi empat yang tergantung di dinding. Di dalamnya terdapat sebuah jam pasir, terlebih bukan pasir biasa, pasir berwarna-warni yang seperti memainkan halusinasiku, membuatnya terlihat seperti pelangi.
"Ah...jam itu...". Wanita tua tadi berjalan perlahan menghampiriku.
"Apa ada yang istimewa dari jam ini?"
"Ah...semua benda yang ada di sini spesial." Kini ia tepat berada di sampingku, ikut memandang jam pasir tersebut. "Kamu mengingatkan saya kepada seorang perempuan muda yang beberapa waktu lalu suka datang ke tempat ini."
Ku tatap wanita itu, menandakan aku tertarik dengan ucapannya. "Sepertimu...dia berjalan memutar lorong, mencari-cari sesuatu tapi sepertinya dia tidak tahu apa yang dicarinya. Apa kamu tahu apa yang kamu cari?"
Aku terdiam. Kembali menatap pasir yang kali ini aku yakin warnanya memang sewarna pelangi!


"Sebelum akhirnya dia berhenti di depan jam ini. Memandanginya hingga bermenit-menit."
"Mungkin karna warna pasir di dalamnya menarik...seperti warna pelangi."
Wanita itu tersenyum penuh arti. "Benarkah sewarna pelangi?" Dia sedikit berjinjit agar bisa lebih mendekatkan diri, memandangi jam dengan seksama. "Oh...apa mungkin mata tuaku salah lihat? Karna aku hanya bisa melihat warna pasir yang mulai memudar?"
Ku pandang lagi dengan seksama pasir di dalam tabung jam. Sungguh! Sewarna pelangi!
"Oh...mata tuaku...". Wanita itu kemudian berbalik, pelan langkahnya meninggalkanku.
"Emm...tunggu...".
Ia berbalik, "ya?"
"Apakah perempuan muda yang anda ceritakan kini sudah menemukan apa yang ia cari?"
"Entahlah...dia hanya mengatakan, ..emmm...bertanya lebih tepatnya, entahlah...seperti ini, sebenarnya apa warna bumi? Hijaukah seperti hamparan daun yang berjejal pada akar pohon di hutan? Birukah seperti laut atau langit pagi yang tanpa mendung? Hijau sedikit kuningkah seperti hamparan padang ilalang?"
Wanita itu menatapku. Sepertinya ia tahu aku tengah merekam tiap kata-katanya, menyimpannya di dalam kepala kemudian menyusunnya satu persatu hingga aku teringat akan sesuatu, seseorang tepatnya.
"Apa kamu tahu warna bumi?" Tanyanya sebelum ia kembali berjalan pelan. Tapi kemudian terhenti lagi, mengacungkan jarinya seolah ingat akan sesuatu.
"Berhati-hatilah terhadap rindu. Karna ketika kamu tidak lagi mendapati rindu dalam dirinya, diam-diam rindu tengah berbalik padamu...hingga tanpa kamu sadari, rindu telah membuat lubang...Seberapa sakit? Tanyakan padanya yang lama menikmati siksaan rindu."
Kemudian ia menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil berjalan, aku masih bisa mendengar ia berkata, "itupun kalau masih ada yang tersisa...oh...perempuan muda yang malang...apa dia berhasil selamat dari siksaan rindu?"


- (oleh @NadiaAgustina)