Warung Bebas
Showing posts with label Memories. Show all posts
Showing posts with label Memories. Show all posts

Monday, 3 October 2011

Sex Abuse

Pagi ini kau ada siaran dengan Ramon jam 7, menggantikan Iben. Namun tiga puluh menit sebelumnya kau sudah datang karena sedang ber-mood baik. Berita baiknya, Andra sudah pulang dari rumah sakit kemarin, namun hari ini ia masih belum masuk kerja. Padahal kalian semua penasaran sekali dengan keadaannya. Terutama motif sebenarnya dibalik percobaan menguruskan badan dengan cara ilegal itu. Andra bukan tipe orang yang terlalu mempermasalahkan berat badan selama kau mengenalnya. Hal ini tentu sangat menimbulkan tanda tanya besar di benakmu.

Studio begitu terasa lengang saat kau datang. Kau orang kedua yang tiba di lantai dua ini, berdua dengan Renata, dia siaran sejak pukul 5 sampai 7 pagi ini. Dan dia terlihat senang sekali menyambutmu.

"Tumben dateng awal," sapanya ramah saat kau membuka pintu bilik kaca tempat Renata siaran. Kau tersenyum simpul ke arahnya.

"Kepengen aja," jawabmu santai sambil mengecek handphonemu. Renata memandangmu dengan evil eyesnya.

"Bukan gara-gara nona LA itu kan?" tebaknya telak. Kau tertawa dipaksakan.

"Iya dan tidak. Pertama, nona Renata yang baik hati akan ngomel panjang lebar lagi kalau saya telat, kedua, saya nggka mau berurusan dengan tuan puteri itu," jawabmu santai. Renata tertawa ngakak mendengarnya. Entahlah, sejak kejadian beberapa hari silam kau jadi lebih akrab dengan Renata. Kalian berbagi jadwal siaran bersama, beberapa kali saling mengirim SMS, dan tertawa bersama seperti sekarang.

"Kenapa sih elo kok sewot banget sama si bule itu? Ada masalah?" tanya Renata serius. Wajahnya seperti ditarik membentuk sebuah garis lurus.

Kau diam, memilah kata-kata pembelaan untukmu. "Bukan sewot dan sedang bermasalah, hanya saja..."

"Apa?" potong Renata tidak sabaran.

"Entahlah, aku hanya merasa dia adalah cerminan diriku di masa lampau dan aku tidak suka mengingatnya."

"Kenapa?"

Kau menghela nafas panjang, kemudian memandang langit-langit. "Aku tidak suka memiliki masa lalu yang suram, tapi itu kenyataannya. Aku hanya ingin cepat-cepat melupakannya."

Renata terdiam, memandangmu penuh simpatik. Kau tidak suka dikasihani. Bagimu, apapun yang pernah kau alami entah menyedihkan, menyenangkan, memalukan, adalah hak prerogatifmu dan kau tidak ingin orang lain tahu. Itu prinsip.

"Gue nggak tahu jalan pikiran elo, Ra. Buat gue, elo orang terunik dan terintrovert yang pernah gue kenal. Tapi itu hak elo sih, setiap orang bebas menentukan dirinya sendiri-sendiri."

"Thanks," balasmu. Renata tersenyum tulus. Ada saat dimana kendali seseorang atas keingintahuannya menyelamatkanmu dari serbuan pertanyaan, seperti saat ini. Kau mengambil kursi di sebelah Renata yang sedang bercuap-cuap, lalu memilah-milah daftar lagu untuk playlist pagi ini. Kemudian kau mendapati sepucuk surat elektronik masuk ke inbox official radio kalian. Surat untukmu, tentu saja yang berkaitan dengan acara Love Potionmu. Awalnya kau tidak ingin membacanya, namun alih-alih meng-klik tanda silang pada sudut kanan kotak dialog email, kau malah salah pencet hingga emailnya terbuka. Sialnya lagi, kau terlanjur membaca sebaris kalimat pertama yang membuatmu tergoda untuk membaca lebih lanjut.

Dear Lova,
Perkenalkan nama aku Mawar. Sebut aja begitu. Aku punya pengalaman miris yang mungkin tidak akan aku lupakan. Dan semoga pengalaman ini tidak dialami oleh pendengar lainnya ya.

Waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 6. Kelasku punya wali murid laki-laki, sebut saja namanya pak M. Sebetulnya sejak aku masih kelas 5 di kalangan kakak kelasku sudah beredar desas-desus bahwa pak M ini genit dan suka meraba-raba. Tapi karena tidak ada bukti dan tidak ada korban yang mengaku, jadi berita ini dianggap angin lalu saja.

"Baca apa sih, serius banget?" tanya Renata. Kau tidak menjawabnya, namun mengarahkan pandanganmu untuk mengajaknya membaca bersama-sama.

Nah, kebetulan di sekolahku kantinnya berada setelah ruang guru. Jadi setiap kami akan ke kantin selalu melewati ruang guru yang pastinya ada pak M disana. Waktu itu, aku dan temanku bernama Ika hendak ke kantin. Waktu kami melewati ruang guru, pintunya terbuka cukup lebar dan kami bisa melihat dengan jelas (meskipun tidak ingin melihat) pak M sedang merayu sambil meraba-raba paha seorang guru perempuan. Hanya mereka berdua di ruangan itu, sepertinya guru perempuan yang sudah menikah itupun juga tidak suka dengan perlakuan pak M. Sialnya lagi, pak M menyadari kalau aksinya ketahuan oleh kami. Aku dan Ika langsung berlari ke kantin dan enggan memperpanjang masalah tentang apa yang kami lihat. Kami merasa kami adalah orang yang tidak tepat disaat tidak tepat pula. Seharusnya ibu kepala sekolah yang memergoki ulah pak M, bukannya kami.

Sewaktu pelajaran di kelas setelahnya, saya dan Ika cenderung pasif, padahal Ika yang selalu dapat peringkat satu di kelas biasanya aktif menjawab pertanyaan dari pak M. Kami takut pak M akan melakukan sesuatu pada kami. Dan feeling kami benar, tempat duduk saya dan Ika yang semula bersebelahan, dipindah oleh pak M karena menurut beliau kami tidak memperhatikan pelajaran dan sibuk mengobrol. Padahal sejak hari itu dan hari-hari kemarinnya saya dan Ika jarang sekali mengobrol waktu pelajaran. Saya dipindah dengan Wibi, dan Ika dengan Fian. Rasanya sedih sekali Va harus dipisahkan dengan sahabat saya, padahal kami berdua juga korban secara tidak langsung. Tapi mau bagaimana lagi? kami tidak berani membantah, karena takut dimarahi.

Tidak lama kemudian, guru perempuan itu akhirnya pindah dari sekolah kami. Alasannya karena ada tawaran kerja di sekolah yang lain, walaupun kami berdua tahu itu bukan alasan sebenarnya. Tapi permasalahannya tidak berhenti sampai sini. Pak M sepertinya hendak membalas dendam pada kami, entahlah, itu yang bisa kami pikirkan setiap kali pak M mendekat.

Pernah beliau menyuruh Wibi mengerjakan soal didepan, kemudian beliau duduk di sebelahku sambil tangannya menggerayangi betisku hingga lipatan lutut. Sangat menjijikkan! Hatiku terasa panas ingin melawan, namun tidak cukup berani merealisasikan. Kau tahu Va, aku memendam berbagai kata umpatan untuk pak M namun tidak ada satupun yang keluar. Dan hal itu bukan hanya aku atau Ika yang mengalami. Setelah aku kroscek dengan beberapa teman perempuan, terutama yang berwajah cantik, mereka mengaku pernah mengalaminya juga, bahkan lebih sering dari kami. Diantara kami tidak ada yang berani bercerita pada guru lain maupun orang tua. Kami takut, karena pak M mengancam kami untuk tidak cerita pada siapapun. Beliau berkata bahwa itu adalah bentuk kasih sayang beliau terhadap muridnya. Entah, setan apa yang menguasai dirinya hingga tega melakukan hal semacam itu pada kami.

Lama kelamaan aku nggak tahan diperlakukan seperti itu. Kemudian aku memberanikan diri bercerita kepada Wibi. Namun bukannya membela atau minimal menghiburku,Wibi malah menertawakanku dan menyebarkan berita tentangku kepada teman-teman laki-laki yang lain. Wibi sama sekali tidak membantu. Aku semakin sedih, Lova. Oke, mungkin pada saat itu dia masih anak laki-laki ingusan yang tidak bisa berbuat banyak untuk membantuku. Tapi please, apa dengan menertawakan dan menyebarkan berita memalukan seperti itu menurutnya lucu? aku benar-benar tidak bisa menerima perlakuannya. Sampai sekarang aku belum bisa memaafkan sikap pengecut Wibi.

Akhirnya aku lulus dari sekolah itu dan berjanji dalam hati tidak akan kembali kesana. Sampai kapanpun. Meski suatu saat nanti pak M sudah tidak disana lagi. Yang terakhir aku dengar pak M menderita stroke dan sebagian badannya lumpuh. Tuhan mungkin membalas doa kami semua yang teraniaya, tapi menurutku itu belum sebanding dengan trauma yang beliau timbulkan pada kami hingga kami dewasa. Entahlah Va. Apa yang adil bagi kami belum tentu adil bagi Tuhan. Terima kasih sudah membaca suratku. Tertanda, Mawar.

Kau dan Renata menghela nafas panjang bersamaan. Cerita ini membuat dadamu terasa sesak. Entah marah pada guru itu, entah iba, entah... bagaimana bisa ia membiarkan dirinya memendam hal seberat ini seorang diri?

"Gila, guru ini!" Geram Renata. Ia mengepalkan tangannya gemas, seolah ingin meninju monitor kalian. "Kok ada sih orang yang kayak gitu?"

Kau menggeleng, sibuk menyeka sudut matamu yang terasa berair karena luapan emosimu. Kau tidak hentinya menyayangkan, bagaimana bisa sesosok pahlawan tanpa tanda jasa tega memberikan citra buruk dimata anak didiknya sendiri? "Nah, banyak hal tidak terduga yang bisa aku dapat dari Love potion. Kadang, aku merasa bersyukur, aku bukan satu-satunya orang yang bermasalah di dunia ini. Kadang, aku menjumpai banyak orang yang menanggung beban hidup lebih dari aku, namun mereka punya keberanian lebih untuk bercerita."

"Jadi maksud lo, elo orang yang nggak berani cerita masalah elo ke orang lain?" todong Renata.

Kau menggeleng lagi. "Aku bukannya nggak berani, aku cuma merasa beruntung bisa mendengar cerita-cerita yang emosional dari pembaca." Kau tersenyum sangat manis ke arah Renata, dan ia lantas memelukmu.

"Gue pengen nemenin elo di Love potion. Sekali aja. Boleh kan?"

Kau mengangguk, lalu balas memeluknya. Saat yang bersamaan, Ramon baru saja datang dan ia tengah berdiri di depan pintu kaca yang setengah terbuka memandangi kalian berdua dengan wajah cengo.

"Kak Re, Lova, kalian nggak apa-apa kan?"


~ (oleh @nadhiasunhee)

Tuesday, 27 September 2011

What a Teenage Wants


Kau setengah berlari menyusuri outlet-outlet brand terkenal hingga menemukan coffe shop itu. Kau segera masuk setelah menjawab sapaan ramah waitressnya. Kau mengedarkan pandangan berkeliling, kemudian melihatnya duduk di salah satu sudut ruangan dengan Frappucino Blended Beverage dan Roasted Tomato & Mozzarella Panini di mejanya. Seleranya masih se-American yang kau ingat. Dia sedang membaca majalah sambil melipat kakinya.

"Freya?" sapamu pada gadis yang lima tahun dibawahmu. Ia menyingkirkan majalahnya sekilas untuk melihatmu.

"Lara Eonni...." sapanya ramah. Ia berdiri dan memelukmu. Nah, sekarang gayanya jadi agak ke-Korea-Korea-an saat menyapamu dengan panggilan tersebut. Agak heran juga mengingat gadis ini besar dalam lingkungan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Korea. Bahkan Chinatown sekalipun. Tiba-tiba kau teringat Jodhy dan Bimo yang menamai acara mereka Ahjumma (red: bibi). Duo itu memang penggemar serial drama Korea dan lagu-lagu Korea yang selalu mereka putarkan saat sedang siaran. Apa di Los Angeles sekarang sedang demam Korea juga, sehingga sepupu high classmu satu ini jadi terbawa gayanya?

"Sudah lama?" tanyamu singkat. Kau duduk disebelahnya dan melirik CéCi yang tadi dia baca. Majalah ini berbahasa Mandarin dengan cover sepuluh pria berwajah imut berjejer (delapan orang duduk berimpitan sedangkan dua yang lain berdiri). Majalah China? Kau menggeleng, apalagi ini? Sepupumu yang satu ini usianya baru menginjak tujuh belas tahun dan ia orang terlabil yang paling enggan kau temui.

"Yah, about a quarter hour." Jawabnya manis. Ia memakai dress pendek, sekitar pertengahan paha, sepatu boot, dan bando berhias pita merah muda. Sangat imut, dan not so American. Sangat bukan Freya yang kau temui empat bulan lalu.

"How's you flight?" tanyamu setelah mengucapkan terima kasih pada waitress yang membawakan hot chocolate pesananmu.

"YA! Eonni," bentaknya padamu, "Cheongmal..."

"Apa?" balasmu dingin. "Kalau tidak bisa berbahasa Korea yang benar jangan setengah-setengah. Kau hanya akan merusak arti sebenarnya." Kau menyeruput hot chocolatemu sambil meliriknya. Ekspresi wajahnya berubah sendu.

"I'm not...," Ia menunduk, memilin ujung roknya. "I'm just trying to get your attention, eonni."

Nah! Sudah kauduga. Empat bulan lalu saat ia mengunjungimu, ia berdandan ala punk. Kuteks hitam, rambut di highlight, pakaian serba hitam dan jaket kulit, namun sikapnya sangat manja pada ibumu. Kau memang tidak dekat dengannya, namun entah kenapa justru ia sering sekali menghubungimu, baik lewat email messenger, SMS, bahkan kadang meneleponmu hanya untuk mengabarimu hal-hal yang menurutmu kurang penting.

"What for?" potongmu kaku. Kau memang bukan orang yang pandai berakting, mungkin bisa dengan bantuan script setiap kali kalian siaran radio, namun tidak untuk kehidupan nyata. Terutama dihadapan Freya, yang entah kenapa, kurang kau sukai kehadirannya.

"Nee, i admire you the most, eonni,"

Oke! Ini mulai tidak rasional bagimu. "You must be drinking a lot."

"I've been stop drinking since 3 months ago," jawabnya datar. Kau agak kaget mendengarnya. Sepupumu yang pecandu alkohol sejak usia 12 tahun hingga pernah masuk rehabilitasi, bisa berhenti minum alkohol juga? Kau penasaaran juga apa yang membuatnya begitu.

Tanpa banyak bicara lagi, kau menghabiskan hot chocolatemu lalu mengeluarkan kunci mobil dari dalam tas. "Ayo,"

"Kemana?" tanyanya heran. Ia mungkin tidak menyangka seseorang seperti kamu yang selalu dingin padanya mau mengajaknya pergi.

"Rumah. Kamu nggak capek setelah 12 jam di pesawat?" tanyamu ketus. Wajahnya berubah cerah, lalu memungut kopernya dibawah dan mengikutimu. "Sempat-sempatnya bawa koper ke mall,"

"Haha, mall ini kan ada hotelnya, kalau kak Lara nggak mau jemput aku bisa nginep di hotelnya aja,"

"Silly!"

"YA! Stop bullying me!"

"I'm not. Just saying the truth! Kamu bisa naik taksi dari bandara, kenapa nggak bisa naik taksi ke rumah?" tukasmu judes. Ia mengkerut mendengar omelanmu.

"Kamu kenapa sih, sekarang kok jadi jahat gini?" protesnya manja. Kau membuka automatic lock mobilmu kemudian menyuruhnya menaruh tas di bagasi. Kau duduk di balik kemudi dan menyalakan mesin.

"Aku sibuk. Aku nggak ada waktu buat mendengarkan rengekanmu," kau bersungut-sungut mengingat 1,5 jam yang lalu kau hampir saja selesai siaran dengan Renata ketika Freya meneleponmu, merengek-rengek minta dijemput di salah satu mall. Beberapa hari sebelumnya dia memang memberitahumu kalau ingin pulang ke Indonesia, tapi sehari sebelum kepulangannya dia tidak memberi kabar sama sekali. Dan kau pun mungkin sudah melupakannya kalau saja dia tidak minta dijemput. Benar-benar menyusahkanmu saja!

"Kau masih bekerja di radio itu?" tanya Freya sambil membuka-buka laci dashboardmu. Kau membanting lacimu hingga menutup dan mengagetkannya. Kau tidak suka tangannya yang iseng membongkar-bongkar isi mobilmu.

"Ya, memangnya kenapa?"

"Aish," dia menghela nafas panjang lalu menyandarkan punggungnya di kursi. "Aku heran kenapa mereka masih mempekerjakanmu disana, padahal kau orang yang menyebalkan,"

"Tapi tadi kau bilang kalau kamu mengagumiku," ejekmu sinis. Freya gelagapan mendengarnya.

"Andwae..." jawabnya. "Aku tadi nggak ngomong gitu kok. Oh iya," teringat sesuatu, dia membuka tas jinjingnya dan membongkar-bongkar. "Majalah CéCi aku mana?"

"Mana aku tahu? Memangnya aku mengurusi barang-barangmu?"

"Laraaaa.... ayo kembali kesana, majalah aku ketinggalan..."

"Nggak bisa," kau menginjak pedal rem dengan frustasi. Dengan kondisi jalanan yang macet begini dia memintamu kembali ke mall tadi?

"Laraaaaa....." dia berteriak-teriak sambil merengek. Kau semakin frustasi dibuatnya. Kau akhirnya meminggirkan mobilmu dan membuka pintu.

"Ambil sendiri kalau kamu mau. Aku nggak bisa, aku sibuk."

"Lara..." suaranya memelan dan matanya berkaca-kaca.

"Apa pentingnya sih majalah itu? kau bahkan tidak bisa membacanya."

"Tapi ada SuJu-nya..."

"Beli aja lagi."

"Nggak bisa, itu edisi khusus. Aku harus pesan dulu  buat beli itu."

"Kalau kamu lebih sayang sama majalah itu, sana ambil." Kau mendorongnya keluar mobil. "Aku nggak mau menimbulkan kemacetan gara-gara berhenti terlalu lama."

Kau menutup pintu dan menjalankan mobilmu lagi. Freya tidak terlihat seperti akan mengejar mobilmu. Lagipula kau juga ingin memberinya pelajaran padanya. Belum apa-apa dia sudah menyusahkanmu, bagaimana satu minggu ke depan? Kau tidak habis pikir dengannya. Kau heran bagaimana tante dan om-mu membesarkan iblis kecil seperti dia?


_____
"Kok balik lagi? Sudah selesai jemput tuan putrinya?" tanya Ramon. Malam ini ia siaran berdua dengan Andra yang baru saja sembuh.

"Aku tinggal di pinggir jalan. Nyebelin sih,"

"Kalau nyasar gimana Va?" tanya Iben.

"Nggak mungkin, Ben. Dia nggak sebodoh itu. Dia memang tinggal di LA tapi dia pengalaman tinggal disini kok," katamu, lebih kepada diri sendiri. Freya yang kau kenal adalah remaja bandel yang suka kebebasan, tidak mungkin ia tersesat di kota yang tidak lebih ramai dari LA ini.

"Ya terserah sih Ra, cuma feeling gue kok anak itu  kayak lagi ada masalah." Kata Iben pelan. Kau tersentak mendengarnya. Iben belum pernah bertemu Freya secara kangsung, namun bisa semudah itu menebak kepribadiannya.

"Tahu darimana?" tanyamu penasaran. Sekedar ingin membuktikan kalau apa yang Iben katakan murni opini pribadi.

"Pasti ada alasan dibalik kebandelan setiap remaja. Kalau dia memang tidak ada masalah, dia pun tidak ada alasan untuk membuat masalah."

Kau terdiam mendengar statemen mengejutkan Iben. Kata-katanya terasa menusuk hatimu, bukan karena ia sedang membicarakan Freya, namun karena kau merasa kata-kata itu juga ditujukan untukmu. Dibesarkan orang tua tunggal sejak usia 15 tahun karena komplikasi diabetes mengakibatkan Tuhan meminta ayahmu untuk berada disisi-Nya. Ditambah ketidakharmonisan dengan ibu sehubungan penentuan masa depanmu. Keengganan berkuliah pada jurusan yang tidak kau sukai, yang berujung ketidakhadiranmu pada acara wisuda. Hal paling buruk apa lagi yang bisa kau lakukan untuk menunjukkan ketidakberdayaanmu pada hidup yang berusaha kau ingkari?

"Ra, kok diem?" tanya Ramon sambil mengguncangkan bahumu. Kau tersadar, kemudian menggelengkan kepala. Sudah jam tujuh malam, hari ini Jodhy sedang ada urusan, jadi ia memintamu untuk switch menggantikannya di Ahjumma bersama Bimo, sementara ia dan Sophie akan membawakan Love Potionmu.

"Eh, enggak kok," kau bersiap-siap menggantikan Ramon dan Iben bersama Bimo yang sedang mengubek-ubek koleksi lagu Korea di database radio kalian. Kau dan Bimo siaran gila-gilaan disini. Karena ini acara Bimo, jadi ia membalas dendam padamu karena kemarin tidak bisa membanyol dengan bebas di Love Potion. Untungnya hari ini kau sempat membuka twitter salah satu fanbase Korea dan membaca tweet-tweet lucu berhubungan dengan dunia K-Pop.

Pukul sembilan kurang sepuluh menit kau dan Bimo bersiap menutup acara, ketika handphonemu berbunyi. Sejak kejadian Andra itu kau memang tidak pernah mematikan handphone lagi selama siaran. Begitu melihat peneleponnya, kau mendadak tidak bersemangat mengangkatnya.

"Siapa Ra?"

"Bukan siapa-sia.." belum sempat kau menyelesaikan kalimatmu, Bimo langsung menyambar handphonemu dan mengangkatnya.

"Halo, ini dengan Bimo, tante, Lara nya masih di kamar mandi, ada yang bisa saya bantu sampaikan?" sapanya ramah pada ibumu. Kau mendengus kesal padanya. Bisa-bisanya ia mencampuri urusan pribadimu. "Anak bule yang rambutnya cokelat? Nggak ada tante, dari tadi Lara sendirian disini. Owh gitu.. iya nanti saya sampaikan ke Lara. Sama-sama tante."

Bimo menutup teleponnya dan mengembalikan handphonemu. "Adikmu Freya Stevans nggak pulang-pulang, dicariin ibumu tuh,"

Kau terkejut mendengarnya. Freya belum pulang? Kau melirik arlojimu, hampir empat jam sejak terakhir kali kau menurunkannya di pinggir jalan. Astaga, anak ini memang ingin cari masalah denganmu, pikirmu geram.

Segera setelah kalian selesai siaran, kau tancap gas kembali ke tempat kau meninggalkan Freya. Tidak ada siapa-siapa disana. Iseng kau melirik jok belakang lewat spion tengah. Kau begitu kaget dengan apa yang kau lihat dan menginjak pedal rem sekuat tenaga. Tas jinjing Freya ada disana! Bagaimana bisa dia pulang kalau tidak membawa uang? Bodoh, Lara! Makimu pada diri sendiri. Kau mengambil tas itu dan mengecek isinya. Ada handphone, dompet, visa, paspor, semuanya lengkap. Ditambah gaya berpakaian Freya tadi yang seperti artis Korea, mau tidak mau kau jadi mengkhawatirkannya juga.

Sepanjang perjalanan kau tidak lupa memantau siaran Love potion yang dibawakan Sophie dan Jodhy. Agak aneh mendengar Love potion yang harusnya sendu dan mellow kini hadir dengan backsound yang agak ceria. Jodhy dan Sophie sedang membacakan satu cerita kiriman pilihanmu, tepat sebelum kau pergi mencari Freya. Menurutmu, kisah itu sedang mewakili perasaanmu sekarang.

Kau kembali ke mall tempat tadi Freya menunggumu. Menurut waitressnya ia tidak kembali kesana, kau hanya membawa majalahnya yang tadi ketinggalan. Ia tidak kesana, tentu saja, ia kan tidak punya uang untuk naik taksi. Kau berkeliling-keliling sepanjang jalan mencarinya, hingga kau menemukannya sekitar 6 kilometer dari tempat kau menurunkannya tadi.

"Frey," panggilmu. Kau membuka jendela mobil dan memintanya masuk, namun anehnya ia tidak bergeming. "Sudah malam Frey, ayo pulang."

"Buat apa? Kamu tidak mengharapkan kedatanganmu, iya kan?" katanya dengan suara parau seperti habis menangis. Kau tertegun mendengarnya, kata-katanya telak sekali menusukmu.

"Frey, please. Kalaupun aku nggak suka sama kedatanganmu ke Indonesia, tapi ibuku nyariin kamu tuh," mohonmu sambil terus menyetir dengan jendela terbuka, hingga membuat AC mobilmu tidak berfungsi maksimal.

"Aku nggak butuh ibumu, Lara. Aku butuh kamu. Kalau cuma figur ibu aku nggak perlu jauh-jauh cari ke Indonesia." Potongnya tak kalah dingin.

"Lantas?"

"Aku kesini cari kamu. Karena aku nggak tahu lagi harus bicara sama siapa lagi," kata Freya dingin. Sayup-sayup kau bisa mendengar suara centil Sophie membacakan cerita.

Kalau mereka mengatakan tidak bisa saling mencintai lagi itu masih bisa aku terima.Cinta itu bisa datang dan pergi sesukanya kan, Sophie?

"Orang tuaku bercerai hari ini, Ra. Sebetulnya aku sudah tidak peduli lagi apakah mereka saling mencintai atau tidak, toh mereka tidak pernah menunjukkan sikap seperti peduli dengan keadaanku," Freya memandangmu nanar. Air matanya menetes satu persatu. "Yang aku sesalkan, kenapa mereka memberikan aku kehidupan kalau pada akhirnya mereka menyia-nyiakan keberadaanku?"

Aku hanya tidak bisa menerima mengapa mereka dulu terlalu cepat mengambil keputusan karena perasaan cinta yang sesaat.. Kami para remaja mungkin sudah menyusahkan para orang dewasa dengan kelabilan emosi kami. Kami tahu, tapi tidakkah kita bisa saling berbagi tentang kecemasan yang sama dengan tanpa penghakiman sepihak? Terima kasih Sophie dan Bimo sudah membacakan ceritaku. Tertanda, Intan.


~ (oleh @nadhiasunhee)

Thursday, 22 September 2011

Secret Admirer

"Minggu lalu bunga chryssant. Tepat dua bulan berturut-turut selalu ada kiriman bunga di depan rumahku. Ya ampun, Bimo, lebih baik dia nunjukin mukanya langsung deh, daripada dia ngirim bunga nggak jelas gitu," Bimo menirukan ekspresi centil Sophie saat membaca surat kiriman itu. Malam ini kau ditemani Bimo siaran Love Potion, dan kalian sedang membacakan satu surat secara bergantian seperti saat kau dengan Sophie. "Nah, kalau mukanya serem kayak Hulk trus ada codetnya apa kamu masih mau nerima dia, Put?"

Kau ngakak mendengar komentar Bimo. "Aku nggak suka kalau caranya kayak gini. Kesannya kayak dia nggak gentle gitu. Lebih baik dia ngomong aja terus terang, tujuannya apa ngirim-ngirim bunga kerumah kayak gitu."

"Tujuannya jelas dong, Put, dia pengen ngedeketin kamu tapi malu, soalnya mukanya ada panu-nya," potong Bimo. Kau menjitak kepalanya dengan scriptmu. Rusaklah sudah image mellow yang sengaja kau bangun malam ini karena Bimo.

"Bimo... ini bukan Ahjumma!" potongmu pura-pura kesal, padahal kau setengah mati menahan tawa. "Ngelucu sekali lagi kamu saya keluarkan dari team Love Potion!"

"Ampuuun ibu suri..." Bimo menerima kertas scriptmu yang sudah kau tandai dan mulai membaca kelanjutannya, sementara kau melepas headphonemu dan tertawa ngakak dibawah meja. "Nah, seminggu ini aku sengaja bangun lebih pagi dan berdiri di depan pintu rumah. Penasaran banget deh pokoknya. Tapi ternyata dia nggak datang. Begitupun besoknya, sampai tiga hari berturut-turut."

" Aku jadi heran, apa selama tiga hari ini dia sengaja nggak kirim bunga. Apa dia tahu kalau aku sengaja menunggu dia di depan rumah?" kau merebut kertas dari Bimo dan membaca bagianmu. "Padahal selama ini aku tidak melihat orang-orang mencurigakan yang lewat di depan rumah. Paling hanya loper koran, penjual sayur, dan dia nggak datang. Sama sekali."

"Mungkin dia bingung mau kasih bunga apa lagi. Bunga Citra Lestari? Mahal banget.. bayarnya perjam pula.." Kau menyodok rusuk Bimo sambil mengangsurkan script. Dia tak henti-hentinya membanyol disaat seperti ini.

"Kemudian, hari ke empat, aku tidak mendapat kiriman bunga. Melainkan hanya sepucuk surat. Dia bilang aku tidak perlu menunggunya karena dia bukan orang yang layak untuk ditunggu."

Kau merebut scriptmu kembali. "Berarti selama ini dia tahu dong kalau aku sengaja nungguin dia? Aku jadi makin nggak tenang nih, Va. Walaupun mungkin niatnya nggak begitu, tapi aku ngerasa diteror."

"Teror ayam apa teror asin?"

"Bim, serious please..." Rajukmu dengan wajah memelas. Tidak satupun dari kata-katamu yang tidak dipotongnya dengan banyolan. Kau menolak mengoperkan scriptmu dan melanjutkan membaca. "Tapi Va, bukan aku namanya kalau bisa semudah itu menyerah. Aku berusaha cari tahu pada siapapun. Siapapun yang kiranya ada di tempat kejadian dan menemukan orang yang mencurigai. Aku tanya tetangga sebelah rumah yang hobby jogging setiap pagi, aku tanya anak kecil loper koran, aku cari tahu dari semua orang. Hari itu memang aku tidak mendapatkan hasil apa-apa."

"Tepat hari ketiga pencarian, aku akhirnya mendapat titik terang, dan aku memutuskan untuk menulisnya ke youngsters." Bimo tampak tertarik membaca dan ia lupa sesaat akan banyolannya. "Makanya, aku butuh bantuan kalian, Lova dan Bimo. Aku tahu dia orang yang selama ini aku kenal baik. Aku tahu dia suka mendengarkan siaran Lova. Aku tahu saaat ini dia mungkin sedang mendengarkan siaran kalian. Makanya, aku harap orang itu bersedia mmenelepon line-nya Youngsters atau kalian berdua yang akan menelepon dia."

Kau membaca scriptmu. Ada postscript nomor telepon dan nama terang si secret admirer klien kalian Putri. Wah, belum pernah dalam edisi Love Potion kalian bersandiwara (sebetulnya ini nyata) menjadi detektif yang membongkar permasalahan cinta. Well, kadang kau merasa, seiring dengan absennya Andra dan bala bantuan dari penyiar-penyiar lain, Love potion menjadi lebih bervariatif.

"Wah, Putri. Kamu yakin sekali?" tanyamu. "Kalau bukan dia bagaimana?" Namun Bimo membungkam mulutmu, menahanmu menganalisis lebih jauh.

"Oke, Putri. Detektif cinta Bimo dan Lova akan membantumu memecahkan misteri penggemar rahasia ini. Untuk yang merasa jadi secret admirernya Putri, kami beri waktu sampai lagu yang kami puter habis. Kay?" Bimo memainkan tiga lagu dari playlist kalian ditambah commercial break dan jingle radio. Kau membanting headphonemu kesal.

"Kenapa?" bentakmu pada Bimo. Ia yang sedang menyeruput secangkir cappucino-nya sampai berjengit kaget.

"Kaget, aku. Kalau tumpah gimana?"

"Bodo amat," sergahmu cuek. "Nah, sekarang aku tanya, kamu kenapa mau coba? Kalau orangnya bukan dia gimana? Kan namanya menuduh?"

"Urusan si Putri deh, Ra. Kita kan Cuma ngejalanin tugas." Balas Bimo santai. Kau tidak suka mendengarnya. Bagaimana kalau ternyata orang yang dimaksud tidak menelepon mereka dan kalian terpaksa harus meneleponnya? Dan bagaimana kalau salah orang? Apa hal tersebut tidak mempengaruhi citra radio kalian? Mendadak kau stres memikirkan itu semua.

"Tapi, Bim.." belum selesai kau bicara, telepon di studio berdering. Kau dan Bimo saling pandang kemudian kalian memutuskan Bimo yang mengangkatnya.

"Youngsters?" sapa Bimo.

"The adorable youngers," jawab sebuah suara. Suara perempuan. Padahal kau dan Bimo masih memutarkan single kedua setelah commercial break. Kau dan Bimo saling pandang.

"Hai, dengan siapa ini?" sapamu ramah.

"Ini Sinta." Jawab gadis itu. Kau dan Bimo hendak menanyakan hal yang sama ketika gadis itu berbicara lagi. "Aku tahu siapa yang dimaksud Putri. Aku cuma mau kasih penjelasan ke Lova dan Bimo."

"Eh, oke, Sinta. Tapi kita lagi off air nih, bisa nunggu sampai kita on air?" kata Bimo. Gadis itu tidak menjawab. Kau dan Bimo saling pandang kebingungan. Penggemar rahasianya Putri nggak mungkin cewek kan?

Kau memotong single kalian dengan jingle radio lalu menyalakan mic mu. "107,7 Youngsters FM radio, the adorable youngers masih dengan Lova dan Bimo di Love Potion. Waktu Lova dan Bimo untuk menemani youngers semua tinggal sekitar tiga puluh menit lagi nih. Bersama Lova dan Bimo sekarang sudah ada seorang penelepon.."

"Ya, ada Sinta disini," kata Bimo memperkenalkan gadis penelepon kalian. "Silahkan cerita, Sinta."

Gadis itu terdiam. Kau merasa seperti mengulang hari kedua Love Potion. Tidak, kau menggeleng, meyakinkan dirimu sendiri. Ini bukan déjà vu, katamu berulang-ulang dalam hati. Hingga kemudian kau dan Bimo mendengarnya menghela nafas panjang, seperti, entahlah, siap memulai ceritanya.

"Penggemar rahasia Putri itu Satria. Dia satu kampus sama aku. Kenapa aku yang cerita, karena aku merasa aku juga terlibat secara tidak langsung. Satria dan aku senior Putri. Dia sering cerita padaku bahwa dia ingin sekali mengungkapkan perasaannya pada Putri namun tidak punya perasaan. Lalu aku menyarankannya untuk mengirimi Putri bunga, aku juga yang membuatkannya daftar bunga setiap harinya untuk dia kirimkan. Aku tahu kedengarannya aku teman yang baik, tapi bukan. Aku ingin Putri merasa terganggu dan berbalik membencinya. Aku ingin menjatuhkan namanya didepan Putri, aku tidak ingin Putri tahu tentang perasaannya, karena aku mencintai Satria."

Kau dan Bimo saling pandang. Yah, hal-hal yang tidak terduga memang bisa saja terjadi dalam kehidupan manusia. Tapi ini di Love Potion, hampir semua kenangan cinta yang dialami pada pendengar cenderung 'tidak biasa'.

"Yah, siapa bisa mengukur dalamnya samudera," kata Bimo bijak. "Lanjutkan, Sin."

"Suatu malam, Satria sedang membeli bunga seperti biasa untuk dia kirimkan pada Putri besok paginya. Namun aku meneleponnya, memintanya datang kerumahku mendadak. Padahal saat itu tidak ada sesuatu yang penting, aku hanya sedang menggodanya. Namun dia menanggapinya dengan serius. Dia memacu motornya dengan kecepatan tinggi, dan dia..." Sinta terisak. Kau dan Bimo menelan ludah hampir bersamaan. Perasaanmu tidak enak, entah kenapa kau seperti bisa menduga itu bukan sesuatu yang baik.
"Satria kecelakaan, dia gegar otak dan koma sampai hari ini. Bunga tulipnya juga dibawakan oleh penolongnya ke rumah sakit. Baru dua hari kemudian aku menyadari kalau di sela-sela bunganya ada surat. Biasanya dia tidak pernah menyelipkan surat di setiap bunga yang dia kirimkan. Aku merasa kalau Satria punya firasat bahwa itu adalah bunga terakhir yang dia kirimkan. Kemudian besoknya aku mengantarkan suratnya. Mungkin dia curiga kenapa selama seminggu ini dia tidak dapat kiriman bunga. Aku tahu, lama kelamaan dia akan mengetahui aksi kami. Sekarang terserah Putri."

Kau menunduk memandang scriptmu yang sudah lecek karena dioper-oper. Kau membaca nama dan nomor telepon yang tertera di surat Putri. Bukan nama dan nomor telepon Satria. Bagaimana Putri juga mengetahui kalau orang ini yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya?


~ (oleh @nadhiasunhee)

Monday, 19 September 2011

Déjà vu


Kau ada dimana? Kau memandang berkeliling, semuanya serba putih, kebetulan kau berdiri dekat jendela. Kau menengok ke bawah, ada taman dengan kolam ikan ditengah-tengahnya. Kau mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Ada sebuah ruangan yang dibatasi dengan sekat tirai putih, tanpa pikir panjang kau membukanya dan terkejut dengan siapa yang kau temui disana.

Andra sedang tergolek lemah di tempat tidur dengan jarum infus tertancap di punggung tangan kanannya dan selang oksigen nasal mengaliri hidungnya. Sakit apa dia? Apa sampai separah itu hingga ia harus dirawat di rumah sakit? Belum sempat bertanya, tiba-tiba tubuh itu mulai bergerak dan kau berjalan mendekatinya.

"Ndra?" panggilmu, perlahan kelopak matanya yang agak membengkak sedikit terbuka.

"Lova? Kok tahu aku dirawat disini?"

Kau tersenyum simpul. Entah bagaimana kau harus menjawab, karena kau sendiripun tidak tahu mengapa. "Istirahat, Ndra. Aku mau keluar sebentar, kamu minta dibawakan apa?"

Andra tampak berpikir sejenak, "Nggak tau, apa aja deh. Lapar nih."

"Oke, bos.."

Kau kembali ke tempat semula kau berdiri, menengok sekali lagi ke arah jendela dan masih mendapati pemandangan yang sama. Kau membuka pintunya dan berjalan keluar. Sejauh mata memandang kau hanya melihat lorong-lorong yang agak gelap dan sunyi, kau menoleh ke kanan dan kiri, tidak ada apa-apa. Kau mempercepat langkahmu hingga tiba di ujung lorong dan berbelok ke kanan. Kemudian kau melihat sosok itu.. Seseorang yang hampir setengah tahun ini menghilang dari kehidupanmu...


_____
Cuma mimpi! Kau bangun dari tidurmu dengan tubuh penuh keringat dan nafas terengah-engah. Tentang Andra yang dirawat di rumah sakit, tentang pertemuanmu dengan.. laki-laki itu, semuanya cuma mimpi. Kau melirik jam mejamu. Baru pukul enam. Terlalu pagi untuk bangun disaat kau baru tidur diatas pukul tiga dini hari. Kau beranjak dari tempat tidurmu dan menuju kamar mandi.

Pukul enam tiga puluh kau sudah berpakaian rapi dan tengah menyeduh teh chamomile kesukaanmu saat pintu kamar disamping dapur membuka. Kak bertatap muka dengan wanita setengah abad itu sekilas lalu kembali menyibukkan diri dengan ritualmu.

"Kemarin pulang jam berapa?" tanyanya datar.

"Jam sebelas, kayak nggak tahu biasanya aja."

"Sampai kapan kamu mau seperti itu terus? Anak perempuan kok liar. Saya tidak membesarkan kamu untuk itu," katanya tegas, seperti biasanya. Kau merengut mendengarnya. Kata-kata itu sudah beliau hafal diluar kepala, dan kamu bosan setengah mati mendengarnya.

"Saya sudah besar. Ini keputusan saya."

"Jangan kamu lupa....."

"Saya tidak lupa. Saya hanya bosan membahas ini lagi," teh chamomile-mu mendadak terlihat seperti air limbah di matamu. Kau membuangnya ke wastafel, membungkus roti bakarmu yang belum kau sentuh, dan pergi. "Saya berangkat, bu..."

_____
Disinilah kamu menghabiskan waktumu setiap kali wanita yang kau panggil ibu mengajakmu berbicara tentang masa depanmu. Yah, kau tahu tidak seharusnya kau berkata begitu padanya. Well, bagaimanapun juga dia ibumu. Seseorang yang membesarkanmu sendirian karena seseorang yang seharusnya kau panggil ayah meninggalkan beliau demi wanita lain yang baru dikenalnya. Kau tahu itu, namun entah kenapa setelah kau menginjak dewasa, beliau tidak lagi bersahabat denganmu. Setidaknya itu menurutmu.

"Pagi, Lova...." sapa Iben padamu. Cowok itu sedang on air, namun sempat-sempatnya menyapamu ketika melihatmu mendekat. Kau melambaikan tangan dan masuk ke studio menemaninya.

"Ramon mana?" tanyamu sambil menaruh tasmu. Kemudian kau teringat roti bakarmu dan mengeluarkannya dari dalam tas. Iben yang tergoda dengan aromanya mencomot sepotong.

"Lho? Dia kan siaran sore sama Sophie. Nanti yang jam 9 ada Jodhy," jawab Iben dengan mulut penuh. "Sejak Andra sakit kan kita semua siarannya dobel-dobel. Si bos juga tumben-tumbennya pake sakit segala," keluhnya. "Elo kan siarannya nanti siang bukan, sama Kak Re? Kok udah dateng?"

"Nggak apa-apa," kau mengambil headphone satu lagi dan memasangnya. "Aku temenin ya?"

"Eh? Beneran?"

"Pokoknya gajinya dobel, hahaha," Iben menimpukmu dengan mouse yang dipakainya mengoperasikan komputer, namun tidak kena.

"Dasar mata duitan!"

Kalian tertawa bersama-sama. Kemudian Iben membuka acara Morning After dan kau membantunya membaca beberapa artikel lucu yang berhasil tim kumpulkan setiap harinya. Siaran pagi ini cukup memperbaiki suasana hatimu yang carut marut karena kejadian tadi pagi.

"Pagi, Lova dan Iben. Ini dari Aldi. Selamat paginya buat kalian berdua aja deh, met cuap-cuap ya. Rame banget pagi ini, biasanya cuma ada Iben. Requestnya Someone like you nya Adele ya, terima kasih.." kau membaca SMS dari pendengar kalian. "Sama-sama, Aldi. Buat yang heran kenapa Lova maupun penyiar lain suka lompat-lompat siarannya, itu karena penyiar kita berkurang satu nih. Si Andra belum sembuh-sembuh juga, jadi jadwalnya kita semua yang cover, gitu...."

"Get well soon, big boy," tambah Iben. "Hampir dua jam Iben dan Lova menemani youngers semua di Morning After, setelah muterin request ini, Iben dan Lova mau undur diri ya," Iben memutarkan tiga lagu sekaligus dari daftar playlist kalian. Entah kenapa perasaanmu tidak enak, kau yang setiap kali siaran selalu mematikan handphonemu, tiba-tiba saja ingin menyalakan handphonemu. Kau mendapati tiga pesan suara dan lima belas pesan singkat. Pengirimnya Indra, adik kandung Andra yang masih SMA.

Kak Lova, ini Indra pakai handphone kak Andra. Kak saya boleh minta tolong? Kak Andra masuk rumah sakit kak, tadi pagi badannya dingin dan pucat. Bisa minta tolong kemari kak?

Kak Lova sedang siaran ya?

Kak Lova baca pesan saya?

Tolong ibu saya kak, saya sedang mengurusi adik-adik dirumah.

Kak Lova, saya tadi kirim sms ke Morning After. Tolong dibaca kak.

Kak Lova...

Kau gemetar membaca pesan-pesan di handphonemu. Andra, si tulang punggung keluarga yang kau kenal sedang di rumah sakit? Ada apa dengannya? Kau ingat waktu pertama kali berkunjung ke rumahnya. Rumah Andra yang sederhana, tiga adik-adiknya yang masih kecil, ibunya yang membuka warung nasi pecel kecil-kecilan, dan bapaknya yang supir angkutan umum... tiba-tiba airmatamu mengalir. Iben yang baru kembali dari dapur mendekatimu dengan heran.

"Lho, La, kamu kenapa?"

Kau tidak bisa menjawab, airmatamu malah mengalir kian deras. Iben merebut handphonemu dan membaca pesan-pesan yang baru kau terima. Ia ikut terkejut lantas memelukmu, berusaha menenangkanmu yang tampak terguncang.

Mimpi itu.............

Déjà vu...

_____
 Kau berlari menyusuri lorong-lorong yang agak gelap, tidak ada seorangpun, hanya kau, bayanganmu, dan suara langkah kakimu yang menemani. Kau dan Iben sudah bertemu orang tua Andra di ruang administrasi tadi. Menurut pemeriksaan dokter, Andra overdosis obat pengurus badan yang membuatnya sering buang air kecil hingga dehidrasi. Berarti hari itu Andra berbohong padamu? Siapa yang tahu? Kau tidak pernah menduga Andra akan senekat itu.

Iben dan orang tua Andra akan menyusul setelah menyelesaikan biaya administrasi rumah sakit. Sementara kau sekarang berdiri di ruangan serba putih seperti dalam mimpimu. Ada jendela disamping pintu masuk, dan saat kau menengok kebawah, kau bisa melihat taman kecil dengan kolam ikan ditengahnya. Kau gemetar, kau menyibak tirainya dan mendapati Andra disana. Posisinya sama persis dengan di mimpimu. Kemudian ia bergerak dan membuka matanya sedikit.

"Lova? Kok tahu aku dirawat disini?"

Tubuhmu semakin gemetar. Kau memang bukan orang yang ahli dalam hal membaca masa depan, atau segala hal yang berhubungan dengan supranatural. Pengalaman ini tentu membuatmu sedikit terguncang.

"Istirahat Ndra. Aku mau keluar sebentar, kamu minta dibawakan apa?"

Andra tampak berpikir sejenak, "Nggak tau, apa aja deh. Lapar nih."

Kau membungkam mulutmu. Bahkan segala yang kau katakan sama persis dengan mimpimu semalam. Sepertinya kau tidak sanggup memikirkan kata-kata lain selain yang pernah kau ucapkan sebelumnya.

"Oke, bos.."

Kau berbalik, berusaha menahan air matamu agar tidak tumpah dan berlari menyusuri lorong-lorong yang sama persis dengan mimpimu. Kau menggelengkan kepala beberapa kali. Tidak! Kau tidak ingin bertemu Henry. Tidak untuk saat ini. Kau berbelok ke kanan dan hampir terjatuh menabrak seseorang.

"Lova, kok nangis lagi? Andranya gimana?"


~ (oleh @nadhiasunhee)