Warung Bebas
Showing posts with label HONEST. Show all posts
Showing posts with label HONEST. Show all posts

Tuesday, 4 October 2011

HONEST: The End (tamat)

Semenjak hari itu Jazzy lebih baik padaku. Sikapnya tak lagi sekasar biasanya. Mungkin dia menjadi lebih kasihan, walau aku berharap bukan karena rasa kasihan tapi rasa sayangnya padaku. Tapi kalau kasihan pun tak ada yang salah dengan itu.
Ini adalah minggu ujian semester dan aku sangat sibuk mengasah otakku yang tumpul ini. Aku tidak bisa mengharapkan orang lain ketika ujian. Aku harus bertumpu atau tepatnya berpasrah pada kemampuanku yang pas-pasan. Aku sudah pernah bilang kan, aku tidak bisa mencontek.
Tapi jangan lupa kalau Tuhan memiliki kekuatan yang tiada terkira. Aku selalu berdoa pada-Nya agar memberikan sedikit pencerahan pada otakku yang bebal ini. Kalau Jazzy tidak perlu kalian tanya. Aku tidak pernah dia belajar tapi dia selalu dapat nilai A. Memuakkan. Dunia sering kali adil dengan caranya.
Pernah tidak kalian melihat orang yang tidak perlu belajar keras tapi dapat menjadi lebih pintar dari kita yang belajar mati-matian? Sebenarnya saat itu dia telah melewati ujian keras lainnya selain belajar, sehingga dapat mengerti jauh lebih cepat dari kita. Jadi tak perlu iri atau merasa diberi ketidak adilan oleh Tuhan. Tuhan, selalu lebih tahu. Dan manusia, selalu sok tahu.
Dia, selalu adil dalam membagi apa pun. Hari ini, pulang kuliah Jazzy mengajakku makan. Ujian memang selalu berhasil membuat perutku dua kali lebih lapar dari biasanya, dan kali ini giliranku yang traktir. Tapi saat aku membahas tempatnya, Jazzy bilang dia mau makan di suatu tempat yang dia pilih. Aku bilang oke, dan kami pun berangkat.
30 menit kemudian…
Sampailah kami. Dan mulutku hanya melompong melihat kemana dia mengajakku. Ke rumahnya. Oh my God. Aku melotot kearahnya.
"Kenapa? Kamu sudah pernah ke sini kan?" Meremehkanku. Wajahnya penuh kepuasan.
"Mau apa kamu ajak aku kesini Jazz?" Tanyaku.
"Kalau kamu ngga suka kita bisa cari tempat lain." Dan Jazzy pun melepas pedal remnya.
"No no no!" Aku kelabakan. Sial, dia pasti tahu, kalau aku penasaran bukan kepalang dengan isi rumahnya. Aku bahkan tidak pernah lagi berani bermimpi dia mau mengajakku ke tempat ini.
"Yaudah kalau begitu ayo kita turun." Responnya acuh. Aku pun dengan semangat yang membabi buta turun dari mobil. Kalian tahu bagian paling sweetnya, karena ngeliat wajahku yang tiba-tiba memucat Jazzy dengan berat hati akhirnya menggandeng tanganku masuk kerumah. Dia tidak mau ambil risiko aku tiba-tiba pingsan di tengah jalan.
Sampai di dalam, ternyata tidak seperti yang aku bayang kan. Rumahnya benar-benar sepi. Aku mencoba mencari tanda-tanda kehidupan tapi tidak ada apa pun. Kecuali binatang peliharaannya yang mondar-mandir. Jazzy mempersilahkanku duduk di meja makan, bukan di mejanya tapi di bangkunya. Kalian bisa lebih cerdas menelaah kalimat kan? Dan di sana telah tersedia masakkan rumah yang kelihatannya cukup lezat. Mungkin ibunya Jazzy adalah seorang perempuan yang pandai memasak.
"Bi!" Jazzy memanggil seseorang. Dan wanita berusia sekitar setengah abad datang dari kejauhan.
"Ya den. Sudah pulang. Wah sama siapa den? Pacarnya ya? Cantik sekali." Wanita itu menatapku dengan mata hangatnya. Wajahku sampai – sampai memerah karena malu.
"Pacar? Pacaran dosa bi." Jawab Jazzy asal.
"Saya Sera bi!" aku bangkit dan menjabat tangannya.
"Saya pacarnya Jazzy." Ucapku mantap dan Jazzy pun tampak mulai terbiasa dengan kebiasaanku yang satu ini.
"Kalau begitu ayo dimakan. Bibi ke dapur dulu, belum selesai kerjaannya." Dan dia pun menghilang.
Aku sekarang menatap Jazzy, dan mencoba menelusuri garis wajahnya.  Ada kecanggungan kulihat di sana, enatah mengapa.
"Aku.. aku.. aku tinggal sendiri di Jakarta." Ucapnya tergagap. Aku tersenyum mendengarnya. Jazzy memang tipe manusia yang sulit menyatakan perasaannya, Berbeda jauh denganku yang tak pernah bisa menyembunyikan perasaanku pada orang lain.
"He-em" Jawabku mencoba tidak begitu serius menanggapinya. Aku takut dia menyerah untuk menceritakan hal-hal yang sebenarnya penting, tapi lebih sering dia remehkan ­orang lain.
"O..o..orang tu..a..ku ti..ti..tinggal di Je..Jerman. se..se..sejak aku keke..kecil." lanjutnya.
"Oke." Aku lagi-lagi menjawab sambil lalu.
"A…aaku ka..ka..sihan ya?" Pertanyaannya barusan membuatku berhenti mengunyah. Mataku menatap ke wajahnya yang menyendu. Aku tidak berpikir dia akan mengeluarkan pertanyaan macam itu. Aku bahkan nyaris tersedak.
"Kalau kamu kasihan, berarti aku menyedihkan dong. Tega banget sih." Aku merajuk. Dan Jazzy malah tertawa.
"Kamu nih, jujur banget sih." Jawabnya.
"Jadi itu kenapa pas ulang tahun kamu malas tinggal di rumah. Kalau aku tahu, aku ngga akan nampar kamu sekeras itu. Maaf ya!" Aku bangkit dan menundukkan kepalaku. Seperti ketika orang Jepang mencoba berterimakasih atau meminta maaf pada orang lain. Jazzy manatapku dengan seksama. Tanpa berkata apa pun, dan aku kembali duduk.
"Pantas ya kamu itu pendiam. Udah gitu cenderung kaku orangnya. Sering ngelamun juga, sekarang aku bisa lebih maklum. Yang sabar ya, kan ada aku di sini. Jangan pernah salahin orang tua kamu. Seburuk apa pun mereka, kamu tetap anaknya. Jangan jadi anak yang tidak berbakti. Seenggaknya kamu bisa ketemu mereka ketika kamu ingin. Ngga seperti aku, yang bahkan ngga tahu harus cari mereka kemana."
"Aku sedih. Tapi bukan berarti semua itu bisa menghentikan semua kebahagiaanku yang lainnya. Kebahagiaan bisa datang dari hal lain dan tempat lain dan orang lain. Seperti kebahagiaanku yang datang dari kamu. Kamu adalah salah satu kebahagiaanku." Lanjutku.
***
Selesai makan Jazzy mengantarku pulang. Kali ini tidak turun di pinggir jalan lagi. Dia mengantarku sampai panti. Diluar hujan gerimis. Udara sore terasa begitu segar. Matahari pun mulai beranjak turun, mencari tempat lain untuk menebarkan sinarnya. Aku turun dari mobil dan Jazzy pun memayungiku.
"Sera." Jazzy memanggil namaku. Aku selalu suka, caranya memanggil namaku.
"Ya," Aku menjawabnya, masih sambil berjalan beriringan.
Oh ya, aku lupa bilang pada kalian bahwa belakangan kami selalu berjalan berdampingan. Indah ya.
"Jangan pernah tinggalin aku ya." Jazzy memegang tanganku agar kami berhenti berjalan sejenak. Aku nyaris tersedak mendengarnya.
"Hah?" ucapku tak percaya pada apa yang barusan kudengar. Jazzy menatapku lekat-lekat, dan jantungku berdegub kencang. Kami berdiri saling berhadap-hadapan. Tiba-tiba Jazzy menjatuhkan payungnya, menarik wajahku dan mencium bibirku lembut. Mataku melotot dan aku tak sanggup melakukan apa pun. Aku merasa seperti terbang di  udara. Seperti ada banyak burung yang berkicauan di hatiku. Aku hanya diam menanggapi ciumannya barusan. Aku tampak amat sangat bodoh. Aku menjadi tolol tiba-tiba. Aku , aku kehabisan kata-kata untuk menggambarkannya.
Ciuman pertama yang aku lakukan dengan orang yang tepat, karena aku mencintainya. Jazzy melepaskan ciumannya dan memelukku erat. Kami bahkan bermesraan di bawah hujan gerimis. Aku masih kehilangan ruhku untuk sekedar mengoreksi kejadian ini.
"Aku sayang kamu Sera. Dan jangan pernah tinggalin aku. Ka.. ka.. kamu begitu penting untukku. Saat ini dan selamanya. Kamu adalah bahagiaku 6 bulan belakangan ini, bahkan bahagiaku sejak bertahun-tahun yang lalu. Dan aku nggak bisa untuk merelakan  kamu jadi milik orang lain. Maaf kalau kamu harus nunggu selama ini untuk dengar ini semua. Aku terlalu sulit untu jujur pada perasaanku sendiri.
Aku bahkan udah suka kamu sejak kecil. Sejak kamu ngasih sebatang permen lollipop ketika aku menangis sendirian di pinggir jalan. Saat itu ayah dan ibuku pergi ke luar negri. Dan kamu mengatakan kalimat yang sama persis seperti hari ini. 'Yang sabar ya. Kan ada aku di sini'. Kita adalah tetangga dekat yang baru saja menjadi teman hari itu, sebelum akhirnya tiba-tiba kamu menghilang. Tapi aku ngga pernah lupa sama wajah ini." Jazzy mengusap lembut pipiku.
"Aku ngga akan pernah lupa sama kamu Sera. Kalau saja aku tahu ternyata selama ini kamu tinggal di panti asuhan. Hari itu ketika pulang dari panti aku menangis di dalam mobil. Aku menangisi diriku sendiri yang ternyata ngga pernah kasih apa pun yang bisa buat kamu lebih bahagia. Aku baru mengetahui bahwa kamu adalah Seraku pada hari itu. Aku meyakininya. Karena selama ini aku hanya berharap kamu Sera yang sama. Dan bahkan itu nggak bisa ngebuat keadaan jadi lebih baik. Karena aku pengecut."
Air mataku mengalir dengan sendirinya. Anak laki-laki kecil itu ternyata Jazzy. Dia Jazzy. Aku masih ingat hari itu. Dan semua kenyataan ini membuatku semakin tak karuan. Aku hanya sanggup berdiri mematung. Tiba-tiba Jazzy menekuk kedua lututnya. Bersimpuh di rumput yang basah karena gerimis hujan yang belum juga reda.
"Sera Leovella Jade.. will you marry me?" ungkapnya lembut. Mulutku ternganga mendengar pernyataan indahnya barusan. Senyumku merekah.
"Tanpa sebuah cincin, seperti yang selalu ada di film drama romantis Jazz?" tanyaku polos. Dan dia pun tertawa.
"Kamu selalu mampu jujur dalam segala hal. Aku belajar darimu untuk melihat kejujuran dalam arti yang terbaik, entah itu menyangkut hal baik atau buruk. Kejujuran adalah hal terbaik yang bisa kita bagi dengan orang lain dalam hidup ini. Itu kenapa, aku sayang padamu. Tanpa cincin hari ini, tapi aku janji akan membelikan yang bermata besar untukmu besok. Aku janji." Jazzy membuatku seketika melayang-layang di angkasa.
"Tapi tunggu sebentar." Dia menggerakkan tangannya kebalik kepalaku, lalu mencoba membuka karet yang mengikat rambutku.
"So Sera, will you marry me?" Dia mengulang pertanyaannya dan tentu saja aku mengangguk setuju. Lalu Jazzy pun melipat karet itu dan mengikatnya ke jari manisku.
"Kita anggap ini cincinnya. Tentu saja akan aku belikan satu yang sesunggunya nanti."
 Apa artinya kejujuran tanpa ada seseorang yang mau mendengarkan untuk berbagi. Apa artinya sejuta berlian tanpa kamu. Apa artinya semua yang kita miliki di dunia ini tanpa orang-orang yang menganggap kita ada. Apa artinya menjelaskan sesuatu jika tidak ada yang mau mengerti. Dunia ini kosong tanpa itu semua. Tapi itu juga bukan berarti semuanya berakhir. Karena kita ada di sini memang untuk mengerti kesemuanya. Siapa yang pernah menjanjikan hidup itu mudah.
***
2 tahun kemudian..10 October 2010
"Yes I do."    
Pernikahannya sederhana. Hanya ada 35 orang tamu dan di gelar di sebuah pulau indah di Lombok. Kedua orang tua kami datang. Ada bayak hal yang telah berubah, kecuali besarnya cinta kami. Sekarang bahkan dia mencintaiku lebih besar, dari rasa cintaku padanya mungkin.
Bahkan hari ini ibuku datang. Berdiri berdampingan dengan ayahku. Kami melakukan foto keluarga. Ayahnya Jazzy, mamanya, bi Ijah, lalu aku, Jazzy, bunda Rose, ibuku dan yang terakhir ayahku. Lalu aku dan Jazzy bersama anak asuh kami di panti. Dan kami semua bersama-sama.
Dan aku dan dia. Aku memegang buket bunga mawar orange. Jika kalian lihat lebih baik lagi, ada sebuah cincin berlian besar yang melilit di jari manisku. Kadang sebuah kejujuran dapat memberimu sejuta kebahagiaan. Tapi juga terkadang kita begitu sulit mengungkapkannya-dengan ribuan alasan yang kita karang.
Jika itu sebuah rasa sayang, apa yang salah? Katakan sekarang. Karena belum tentu Tuhan memberi kesempatan itu besok. Perduli atau tidak orang itu, bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika kau mulai tidak peduli pada perasaan yang kau rasakan. Mengesampingkannya dan belajar menjadi manusia yang tidak bahagia. Itu baru MASALAH BESAR.
Beberapa Tahun yang lalu aku memulainya dengan kaliamat, "AKU CINTA PADAMU Jazzy. Dan aku akan menjadi seseorang yang berarti bagimu mulai saat ini."
Dan dia menjawab, "Sera Leovella Jade.. will you marry me?"
Dan aku jawab, "Yes I do."
Kalian bisa lebih kereatif dari perempuan bodoh sepertiku. Dan mendapatkan yang lebih indah dari milikku saat ini. That's possible.
***
Jakarta, 2007




~ (oleh @falafu)

Saturday, 24 September 2011

#9: Pulang

Masih di panti...

"Bunda, kenalin ini pacar Sera. Namanya Jazzy." Sengaja aku memberi penekanan di kata 'pacar'. Dan Jazzy pun langsung bangkit dari dudukannya.

"Bukan bunda, kami teman biasa kok." Elaknya.

"Memang pacar bukan teman? Teman justru artinya lebih dari sekedar pacar." Bunda dan Jazzy kini saling berjabat tangan. Dan Jazzy pun hanya tersenyum malu mendengar jawaban bunda Rose.

"Jazzy ini bunda Rose, pemilik yayasan ini. Ibu asuhku. Dia melebih ibu kandungku sendiri." Aku memeluk bunda Rose rapat. Aku memang ingin memeluknya sejak tadi pagi. Bunda Rose pun langsung masuk ke dalam setelahnya, karena dia masih harus menidurkan anak-anak.

Saat ini aku dan Jazzy duduk saling berhadapan dalam kebisuan. Aku tau dia pasti kaget. Jelas saja dia bingung harus mengatakan apa, maka aku pun berinisiatif untuk mencairkan suasana.

"Hey." Aku memanggil Jazzy dan dia pun menatap padaku. Wajahnya memikirkan sesuatu.

"Apa tidak mau mengatakan apa pun? Pasti sedang merasa kekenyangan untuk bicara ya. Kamu pasti ketularan aku deh." Aku mencoba meledeknya dan dia bereaksi dengan memberiku senyum yang dipaksakan.

"Jangan kasihan padaku. Aku bukan anak yatim piatu seperti adik-adikku yang lain di sini.  Ayahku yang menitipkanku di sini. Dia tidak suka padaku. Ketika usiaku 8 tahun ibuku pergi dan ayahku bilang kalau dia benci lama-lama menatapku. Kasihan ya dia, bahkan tidak bisa menyadari kecantikanku. Hahaha."

"Di bagian mana yang lucu? Kenapa kamu ketawa?" Jazzy menanggapi dingin. Aku gagal total.

"Di bagian cantiknya tau, kamu tau sendiri kan kalo aku cantik banget." Aku menyandarkan tubuku ke sandaran sofa. Dan membuang napas panjang.

"Ibuku pergi dari rumah belasan tahun lalu. Dan semenjak itu aku tinggal di sini. Walau pun begitu aku tidak pernah kekurangan apa pun karena ayahku cukup kaya untuk menjadi donatur tetap di yayasan ini. Karena itu aku bisa kuliah dan punya barang-barang bermerek. Dia selalu memberikan semua barang yang aku butuhkan bahkan yang tidak aku inginkan. Tidak pernah perlu merasa repot untuk sekedar bertanya apa yang aku inginkan. Semua yang aku punya, adalah keinginannya. Tapi kebanyakan bukan kebutuhanku."

"Bisa kamu bayangkan itu, memiliki hal yang bahkan tidak pernah kamu ingin miliki. Aku harus lebih banyak bersyukur untuk tidak mengeluhkan banyak hal dalam hidupku. Aku bawa kamu kesini untuk jujur pada diriku sendiri hari ini. Untuk menjadi seseorang yang mampu menerima kenyataan bukan sebagai mimpi buruk. Terimakasih ya sudah mau mampir, sekarang kamu boleh pulang tapi nggak boleh mutusin aku ya. Aku kan anak panti, aku harus kamu jaga lebih baik lagi mulai hari ini." Jelasku.

Jazzy mengarahkan pandangannya padaku. Bangkit dan beranjak ke kursiku. Menatapku lekat-lekat, entah apa yang dia cari. Aku hanya menatapnya dalam diam hingga kemudian beberapa menit pun berlalu dan aku tidak tahan untuk ditatap lebih lama lagi, aku bisa tiba-tiba menciumnya kalau begini.

"Jazzy, sudah ya liatin akunya. Kenapa sih?"

"Sedang mengingat sesuatu dan sekarang sudah selesai. Aku bisa pulang kan?" Jazzy pun bangkit dan aku menganggukkan kepalaku.

Kami berjalan dalam diam sampai ke luar dari teras rumah. Aku berjalan mengantar Jazzy sampai ke mobilnya, walau dia bilang dia bisa jalan sendiri. Tak ada yang kami bicarakan soal kejadian tadi. Beberapa kali Jazzy menatap kelangit, kurasa dia sedang mencoba mencairkan suasana hatinya sendiri dan aku mengerti dengan baik. Aku lah yang seharusnya lebih tegang darinya, bagaimana jika setelah kepergiannya ini dia tak lagi pernah muncul di hadapanku. 

Jazzy pun pulang. Malam itu dia pulang tanpa mengucapkan sepatah kata perpisahan pun. Aku tidak tau apa yang ada di pikirannya melihat ini semua. Tapi aku tau pria baik sepertinya, akan mengerti jauh lebih baik- bahkan melebihi aku. 
***



~ (oleh @falafu)

#8: Rumah

Pukul 7 malam, di taman kampus...

Aku beralih menjadi gadis pemurung hari ini. Bahkan jelas tertidur di dalam kelas. Jazzy pun masih saja memakluminya. Si pria baik hati itu, semakin baik hati saja setiap harinya. Aku bahkan begitu jarang menatap matanya, aku tak punya keberanian menatap mata siapa pun. Aku menyerah berusaha tersenyum, suasana hati yang sedih menenggelamkan keceriaanku tiba-tiba. Aku dan Jazzy berjalan dalam satu garis hari ini. Berkali dia mencoba menoleh padaku tapi aku begitu jarang menoleh balik padanya. Aku, hanya tidak ingin dia melihat wajah masamku ini terlalu sering.

"Sera jangan diam saja. Jangan ikut-ikutan menjadi pendiam sepertiku." Jazzy tiba-tiba meraih telapak tangan kananku dan menggenggamnya erat, dia melakukannya dengan tetap menatap ke depan. Seolah itu bukan lah hal yang diluar kebiasaan. Aku bahkan sampai sulit berkedip melihatnya. Dia menggandengku, bahkan ketika kami sedang tidak perlu menyebrang jalan. Bagaiman hal semanis ini, bisa dia lakukan dengan teramat mudah. Aku mencoba untuk menganggapnya hal yang biasa sembari tersenyum kecil menatap tanganku sendiri.

"Aku, hanya sedang tidak selera mengatakan apa pun. Tiba-tiba saja kenyang bicara." Aku mengatakannya sambil terus melangkah.

"Kalau begitu, beri waktu untuk pikiran mencernanya dengan baik. Kau pun akan lapar kembali untuk bicara."

***
Ini di dalam mobil Jazzy...

Aku menerawang ke langit, beberapa bintang enggan benderang seterang biasanya. Atau ini hanya karena mataku bengkak saja. Jazzy mencoba memasangkan sabuk pengaman untukku. Dia semakin manis saja hari ini. Walau pun biasanya dia selalu memasangkannya, aku memang tidak suka menggunakan sabuk pengaman. Tapi dulu Jazzy lebih memilih repot memasangkannya dari pada kami kena tilang. Entah sekarang dia masih memasangkannya karena tilang itu, atau karena peduli dengan keselamatanku.

"Jazzy, bisa temenin aku nggak ke suatu tempat?" Pintaku ketika dia menghidupkan mobilnya.

"Sure. Tapi sebelum jam 10 aku harus sudah pulang ke rumah." Jawabnya.

"Sebelum jam itu, kamu pasti sudah tertidur pulas di rumah. Aku janji."

20 menit kemudian...

Aku tiba disebuah jalan. Aku biasa berhenti di jalan ini. Jazzy hanya menurunkanku di sini setiap harinya dan itu karena permintaanku. Tapi kali ini aku memintanya ikut turun. Sekarang kami berjalan bersama di tepi terotoar. Jazzy mengamati sekeliling kompleks perumahan ini. Seperti biasa dia memilih diam dari pada menekanku dengan pertanyaan. Dan sampailah kami di pintu pagar ruma yang sederhana ini. Tepat di balik gerbangnya terpampang papan nama bertuliskan:

"PANTI ASUHAN ROSEMARRY"

Jazzy menghentikan langkahnya di depan papan itu, tapi aku kemudian menarik tangannya untuk melangkah masuk ke dalam.

"Ayo, kita kan udah pacaran 6 bulan lebih. Masa kamu nggak pernah main ke rumahku." Jazzy hanya menatapku dan menurut.

Aku membuka pintu dan mengucapkan salam. Masih terus menggandeng Jazzy aku mengajaknya masuk ke dalam ruang tamu. Adik-adikku yang jumlahnya lebih dari 25 orang mengerebung di sekelilingnya. Wajah Jazzy pun memucat, tapi aku begitu menikmatinya. Aku ingin dia belajar menikmatinya. Beberapa anak bahkan sudah nangkring di pangkuan Jazzy. Anak-anak di sini memang selalu haus kasih sayang, apa lagi kepada orang baru yang mereka temui dan mereka anggap pembawa rizky bagi mereka. Aku hanya tertawa memperhatikan tingkah mereka.

"Hei anak-anak, ini kan sudah waktunya tidur. Jangan ganggu temannya kak Sera. Ayo masuk ke kamar masing-masing." Ibu asuhku keluar, namanya bunda Rose. Menyuruh anak-anak untuk masuk ke dalam. Aku datang di belakangnya membawa 2 cangkir teh hangat untuk Jazzy dan diriku sendiri. 

bersambung...


~ (oleh @falafu)

Friday, 23 September 2011

HONEST #7

Kantin, 40 menit setelahnya...
Jazzy benar-benar datang tepat waktu. Walau sebenarnya aku lebih berharap dia datang nanti-nanti. Kalian bisa yakinkan diri kalian, bahwa tampangku sama sekali tidak enak dilihat.
Jazzy duduk di hadapanku dan langsung memesan sebotol air mineral. Aku tau, sejak di ujung jalan tadi, dia sudah merasa tidak nyaman dengan raut wajahku. Matanya masih mencoba mencari cerita dalam garis wajahku.
"Masih bete ya? Aku minta maaf ya, harusnya aku nggak perlu sms kamu. Lagi juga kan ini nggak sepenuhnya salah aku. Kita bagi dua deh ya betenya." Dia berusaha merayu dan itu sungguh luar biasa.
Aku mencoba menanggapinya dengan memberi sebuah senyum. Tapi raut mukaku justru semakin mengerikan.
"Ada apa Sera?" Sekarang, kulihat dia mulai tedak enak hati. See, aku memang tidak pernah mampu berpura baik-baik saja. Aku begitu tidak berbakat dalam berbohong. Sulit sekali mencoba membohongi orang lain, bahkan orang yang begitu amat kucintai. Sekedar untuk menjaga perasaannya.

Aku menatap mata Jazzy, coklat pekat. Kulihat setupuk kesabaran di dalamnya. Tuhan, aku begitu ingin ditatap mata itu sepanjang hidupku.
"Ada apa-apa memang. Tapi itu bukan masalah besar. Lagi pula saat ini aku sedang mencoba untuk mengatasinya. Sabar sedikit lagi saja oke, yang penting ini bukan karena kamu. Kamu harus tetap sms aku!" Aku mencoba menjelaskan. Dan dia hanya mengangguk sembari menenggak air mineral pesanannya. Jazzy, bukan lah tipe pria yang suka mengorek-ngorek masalah. Dan itu bagus.
"Jazzy." Aku memanggil namanya.
"Ya." Jawabnya sedetik kemudian. Setelah berhasil menelan air mineralnya dengan sempurna.
"Makasih ya." Mataku menerawang dan aku mulai melamun.
"Makasih karena sudah dateng kesini untuk meyakinkan keberadaanku. Aku benar-benar bahagia. Selama ini nggak banyak orang yang menyadari keberadaanku. Mungkin ini sesuatu yang sepele. Tapi kadang bikin suasanan hati jadi tidak baik." Lanjutku dan sekarang aku menengadah padanya.
Jazzy hanya mengangguk. Aku masih menatapnya, dan dia sedang berusaha mencerna situasi tidak biasa ini. Sekarang aku mulai menitikkan air mataku dan Jazzy pun langsung menyadarinya.
Lucunya, pria pendiam itu justru kebingungan dan tak tau harus melakukan apa. Aku menangis seperti anak kecil di hadapannya. Di hadapan manusia-manusia lain.
Aku memilih menangis dalam diam. Aku hanya tidak bisa berpura sedang tidak ingin melakukannya.
Tahun-tahun sebelumnya biasanya aku lari ke toilet umum dan menangis di dalam biliknya, sendirian. Menyedihkan.
Aku begitu merindukan ibuku. Aku rindu sekali padanya. Setidaknya tahun ini jauh lebih baik, aku tidak lagi perlu menangis seorang diri. Ada dia, yang memang bukan siapa-siapaku saat ini. Tapi nyatanya sekarang dia duduk di hadapanku. Tanpa harus kupaksa lagi.
Aku begitu menghargai kenyataan ini. Sangat menghargainya Tuhan.


~ (oleh @falafu)

Tuesday, 20 September 2011

#6: Mama

Hari ini...

Sepagi ini berlari mencari Jazzy ke seluruh penjuru kampus. Malam tadi dia mengirimkan pesan pendek padaku. Bunyinya 'Aku tunggu di kampus.' Sms memang hal biasa yang diterima oleh manusia yang memiliki telepon genggam. Tapi itu berbeda ketika pesan itu dikirim oleh pangeran hatimu, dan itu sms pertama darinya yang masuk ke dalam kotak pesanku!

Tak ada yang special dari isinya. Tapi kalian pasti tau, bukan itu yang terpenting. Ketika ada yang pertama, pasti akan ada kedua dan ketiga lain yang menyusul. Aku tersenyum dalam hati membayangkan hari dimana kami telah terbiasa bertukar pesan. Si tampan kesayangku.

Sekarang aku mulai pusing mencarinya. Ditelepon sejak pagi pun tidak diangkat-angkat.  Hampir semua tempat yang mungkin ada keberadaannya di sana kusambangi, tapi dia tak juga nampak. Perpustakaan, kelas, lab, kantin, taman sampai-sampai ke pangkalan ojek. Dan ketika aku berjalan ke arah lapangan parkir dan melihat temanku bernama Mira mendekatiku.

"Sera, ngapain hari gini udah di kampus?" Mira menegurku.

"Ini, nyari si Jazzy, kamu lihat?"

"Jazzy? Bukannya kalian hari ini masuk siang?" Mira melemparkan pertanyaan yang langsung menohok diriku sendiri.

"Shit! Iya, ini kan hari selasa. Damn. Bodohnya aku." Serapahku.

"Hahaha, kamu nih gimana sih. Yaudah deh, aku duluan ya, kelasnya pak Lamhot. Gak boleh telat." Mira pun pamit dan aku pun langsung bermuka kecut.

Damn. Saking semangatnya, pagi-pagi aku langsung berangkat ke kampus. Ini karena Jazzy kirim sms jam 7 malam dan aku sampai sulit tidur menunggu pagi datang. Aku menilik jam tanganku dan jarum jam menunjuk pukul 8.05 pagi. Tololnya, padahal hari ini jadual kuliah pertama kami pukul 13.15 siang. Mau dicari sampai muntah pun nggak akan ketemu. Dan pantas saja dia tidak lekas menjawab panggilang teleponku. Dia pasti masih tertidur pulas di atas bantal baunya. Aku pun bersegara mengambil ponselku di dalam saku celana dan mencoba menghubunginya kembali.

"Hallo." Suaranya terdengar lirih. Masih berbau mimpi bahkan.

"Aku udah di kampus. Kamu dateng sekarang dong, aku nggak sengaja nih dateng kepagian."

"Hah? Gak sengaja gimana, ngapain hari gini udah di sana?"

"Pokoknya ini semua salah kamu. Gara-gara kamu sms aku, aku jadi kesemangatan berangkatnya. Sampai lupa, kalo hari ini kita masuk siang." Jelasku.

"Hahahaha." Jazzy tertawa mendengar penjelasanku. "Kamu jujur banget sih, jaim sedikit dong Sera."

"Hahahaha." Aku tertawa datar, malas mendengar olok-oloknya.

"Yaudah salah aku emang. Tunggu aja ya di kantin, 40 menit lagi aku sampai sana ya sayang. Tut tut tut." Dan telpon pun terputus.

"Hah kamu bilang apa barusan?!" Jantungku seketika berdegub tak beraturan, mencoba menyadarkan pendengaran dan akal sehatku. Sayang, dia bilang sayang sama aku! Aku menatap layar ponselku yang telah kembali normal. Dan meyakini bahwa aku tidak salah dengar.

"Jazzy panggil aku SAYANG!" Aku nyaris berteriak, lalu melompat-lompat kegirangan. Buru-buru aku membuka kalender di ponselku, berniat untuk menandai tanggalan hari ini.

"Kring!" Sebelum sempat aku melihat kalender. Suara remainderku berbunyi. "Mama. Where are you?" Begitulah yang terpampang di layarnya. Ponselku tiba-tiba terjatuh. Jazzy bahkan sanggup membuatku lupa hari ini.

Aku terjongkok. Memegang keningku dan merasa mual. Karena sampai sekarang aku masih saja tidak bisa terbiasa dengan hal ini. Masalah ini, begitu banyak menguras tenaga dan pikiranku. Ibuku, dia hilang 8 tahun yang lalu. Pergi meninggalkanku sendiri dalam asuhan ayahku yang sama sekali tak dapat menyayangiku. Tepat di hari ini, ibuku menghilang.

Sebenarnya dia tidak hilang. Dia melarikan diri dan tidak membawaku ikut serta bersamanya. Aku, sampai detik ini tidak dapat mengerti bagaimana wanita sebaik dia bisa meninggalkanku. Semenjak hari itu, aku kerap kali bermimpi buruk. Mimpi yang sama dan berulang-ulang diputar. Seperti kaset rusak. 

***

~ (oleh @falafu) 

Saturday, 17 September 2011

#5: Maaf

Sehari setelahnya...

Aku berangkat ke kampus dengan suasana hati yang baik-baik saja. Tentu saja masih sedikit kecewa dengan apa yang Jazzy lakukan kemarin. Tapi aku memang tidak sanggup berlama dalam kesedihan. Aku menjalankan peranku seperti biasanya hari ini. Masih terus memanggil Jazzy tampan dan seharian berjalan mengikutinya tanpa beban. Aku tau, mungkin aku terlalu mencintainya.

Tapi kulihat sejak pagi Jazzy selalu memperhatikan gerak-gerikku, mendengarkan apa yang kuucapkan dengan seksama. Walau tetap dalam diamnya. Aku tau, dia pasti tak enak hati denganku. Dia sudah minta maaf dan aku sudah memafkannya. Hidup seharusnya memang se-simple itu. Asal ada maaf, tentu akan ada yang memaafkan.

Kami berjalan bersama dengannya sore itu. Masih dipelataran kampus, hari ini aku lebih banyak berjalan di hadapannya.

"Heh." Jazzy memanggilku dan langkahku terhenti. Aku segera berbalik dan menatap ke arahnya.

"Kenapa? Kamu mau jalan di depan?" Tanyaku polos. Tapi Jazzy tidak bereaksi. Berdiri dan menatap ke tanah.

"Aku.. aku.. minta maaf, ke.. kemarin aku memang keter..la..luan. Kamu bisa marah kalau kamu memang marah. Ngga perlu terlalu keras berusaha untuk mengerti aku. Dan.. terimakasih untuk kue dan kaosnya. A..a..gak basah, tapi rasanya lumayan. Seperti apa pun bentuknya, keju selalu terasa enak di mulutku." Jazzy menatapku dalam dan jantungku berdebar. Itu adalah percakapan pertama kami yang berawal dari mulutnya. Selain omelan, oke dia memang nggak pernah marah. Lalu aku tersenyum lebar.

Kuberanikan diriku untuk mengambil telapak tangannya dan kugenggam dengan kedua tanganku.

"Aku selalu jujur atas perasaanku. Baik mau pun buruk. Aku akan menangis jika memang benar-nenar sedih dan akan tertawa jika memang merasa bahagia. Aku tentu saja akan marah padamu, jika memang masih marah. Tidak perlu merasa tidak enak hati padaku. Maaf kalau sifatku ini bikin kamu nggak nyaman. Aku sehat dan baik. Aku minta maaf kalau sikapku kemarin agak keterlaluan ya. Dan oh iya, hari ini aku nggak bisa pulang sama kamu. Sampai jumpa besok ya sayang!" Kulepaskan genggaman tanganku dan kutatap wajahnya baik-baik. Ketidak  yakinan tergambar jelas di sana.

Aku pun kembali menggenggam tangannya, sekarang justru aku yang merasa bersalah membuatnya jadi seperti ini. "Gimana kalau kamu memang merasa bersalah banget sama aku, mulai sekarang kamu bisa panggil aku Sera kalau nggak keberatan. Lalu mari kita anggap ini impas."
***
5 bulan setelahnya...

Begitu banyak hal yang telah berlari menjauh dan menjadi kemarin. Tapi dapat kuyakinkan pada kalian bahwa tak ada satu detik pun yang ingin aku tinggalkan. Jazzy telah banyak berubah. Dia bahkan telah meyakinkan dirinya sendiri untuk memanggilku Sera. Nama kecilku. Sekarang aku sedang bersamanya di taman kota. Di malam sebuah hari yang hangat.

"Kalau kunang-kunang hidup di perkotaan pasti akan sangat baik." Gumamku sembari memakan dengan lahap gulali berwarna merah jambu. Jazzy yang membelikannya. Tanpa aku harus merengek, hebat bukan?!

Kemudian kami duduk di tepi danau buatan. Menatap bayangan lampu-lampu yang bergoyang-goyang di muka air. Malam minggu yang paling menyenangkan. Aku rela menukar apa pun yang kupunya untuk hari ini. Segalanya. Malam minggu pertamaku dengannya, setelah 5 bulan berusaha keras.

"Sera." Panggilnya.

"Ya." Aku menjawab tapi masih saja sibuk membagi kesadaranku dari kembang gulali.

"Aku, aku, nggak begitu suka kalau kamu berteman sama Judo." Katanya terbata.
Spontan gerakanku berhenti, hah? Apa aku tidak salah dengar? Jazzy nggak suka aku berteman sama Judo. Apa dia cemburu sama Judo. Judo yang sering kali kuceritakan padanya. Oh my God.

Jazzy terdiam dan aku mulai tertawa, "Hahahaha!"

"Kok ketawa? Bagian mana yang lucu?" Jawabnya sewot

"Memangnya kenapa dengan Judo? Kamu cemburu ya?" Tanyaku langsung.

"Nggak, aku cuma mikir kalian terlalu dekat. Bahkan sampai sering tidur-tiduran bareng. Jangan terlalu percaya sama laki-laki. Mereka semua berengsek." Kilahnya

"Ya nggak bisa lah. Kalo nggak sama Judo aku nggak bisa tidur!"

"Kok gitu?"

"Ya memang gitu pokoknya. Titik." Jawabanku membuat jazzy terdiam. Aku kemudian merebahkan tubuhku ke rerumputan.

"Huh... ternyata 5 bulan belum cukup untuk buat kamu mengerti aku. Untuk buat kamu merasa bahwa aku penting untuk diperhatikan. Sering banget aku cerita tentang Judo aja kamu nggak pernah nyimak kalau dia itu kucing cowok, bukan manusia. Mengecewakan. Merusak suasana. Kamu kan bisa cemburu sama species yang lebih konkret." Kutatap gugusan bintang di langit, mereka membentuk sesuatu yang tak terbaca olehku.

"Jadi, Judo itu kucing? Maaf ya." Jazzy tersenyum kecut padaku. Wajahnya merah merona. Dan aku kembali bahagia.
***

~ (oleh @falafu)